Beranda Lintas NTT 275 DPT Dicoret dari Pilkades, Sekdes Nanaet Pimpin Warga Mengadu ke DPRD

275 DPT Dicoret dari Pilkades, Sekdes Nanaet Pimpin Warga Mengadu ke DPRD

512
0

Belu, Flobamora-news.com – Sebanyak 12 orang warga Desa Nanaet, Kecamatan Nanaetdubesi, Kabupaten Belu, Perbatasan RI-RDTL mendatangi Gedung DPRD Belu pada, Rabu (2/10/2019). Kedatangan 12 orang warga Nanaet itu guna mengadu kepada para wakil rakyat terkait terkait hak politik mereka di Desa Nanaet lantaran Panitia Pilkades mencoret nama 275 orang.

Sekretaris Desa Nanaet, Richardus Kasa yang memimpin para warga tersebut meminta kepada para wakil rakyat agar mencari solusi yang terbaik bagi mereka agar tidak kehilangan hak pilihnya.

Richardus sendiri sebenarnya saat ini berdomisili di Desa Bakustulama. Akan tetapi, selama ini dirinya menjalankan hak politiknya, baik pada Pilgub 2018, Pilpres 2019, dan Pileg 2019 di Desa Nanaet.

Saat itu, tidak ada yang mempermasalahkan hal tersebut. Namun, pada Pilkades yang akan dilangsungkan pada 16 Oktober 2019 nanti, panitia mencoret namanya dari DPT.

Selain Richardus panitia juga mencoret ratusan nama lain dengan alasan ada yang merantau, ada yang tidak memiliki identitas seperti KTP dan Kartu Keluarga, serta warga Nanaet yang sudah berdomisili di Desa lain.

Dari tiga kriteria pencoretan di atas, terdapat 76 orang yang saat ini berada di Desa Nanaet, tapi kehilangan hak pilihnya. Sedangkan ratusan orang lainnya berada di rantauan atau ada yang sudah Meninggal dunia.

Dikatakan, ada beberapa orang yang juga baru datang dari rantauan, namun tidak dimasukkan pada DPT. Padahal, sewaktu mereka pergi merantau, mereka tidak pernah mengambil surat keterangan pindah dari pemerintah desa. “Artinya, mereka itu masih merupakan warga Nanaet”, jelasnya.

Akibat dari kebijakan tersebut, jumlah DPT untuk Pilkades menjadi 580 dari 855 DPT.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Panitia Pilkades Nanaet, Emanuel Lau menjelaskan bahwa pencoretan sebanyak 275 pemilih dari DPT sesuai dengan hasil pleno Panitia Pilkades yang menyatakan bahwa semua pemilih tersebut tidak memenuhi persyaratan.

“Kami mencoret sebanyak 275 pemilih dari DPT karena tidak penuhi persyaratan antara lain berdomisili di luar desa Nanaet, tidak memiliki identitas KTP atau KK, serta bekerja di luar daerah bahkan luar negeri (merantau, red),” jelas Emanuel.

Menurut Emanuel, pihaknya telah bertindak sesuai aturan. Apabila ada warga pemilih yang namanya tercoret dari DPT melakukan protes, maka tidak akan berpengaruh pada pelaksanaan Pilkades nanti.

“Kami telah melakukan verifikasi data pemilih hingga tahap akhir dan semuanya berjumlah 580 pemilih yang terdaftar dalam DPT, sementara lainnya telah dicoret,” tegas Manuel.

Selama pendataan dan verifikasi data pemilih, lanjut Manuel, pihaknya juga temukan ada pemilih yang telah meninggal dunia, serta ada pula yang tidak memiliki identitas KTP maupun KK, bahkan adapula warga pendatang yang berdomisili kurang dari enam bulan.

“Kami bekerja berdasarkan aturan. Kami tidak ada kepentingan apapun. Kami sebagai panitia tetap netral. Pencoretan ini tidak ada indikasi politik,” tegas Manuel.

Anggota DPRD Marten Naibuti mengatakan bahwa terkait permasalahan pilkades kewenangannya berada pada panitia pilkades, sehingga pihaknya menyerahkan kembali kepada panitia untuk menyelesaikan persoalan tersebut bersama masyarakat dan mencari solusi terbaik.
“Kami hanya sebatas menerima pengaduan dan mencoba memfasilitasi antara panitia dan warga. Urusan pilkades menjadi kewenangan panitia. Sehingga kami kembalikan kepada panitia untuk menyelesaikan persoalan ini dan bersama masyarakat mencari solusi sesuai dengan aturan yang berlaku,” pungkasnya.

Untuk diketahui, kedatangan para warga di Gedung DPRD Belu guna mengadu soal hak politiknya diterima oleh Marten Nai Buti, Edmundus Tita, dan Theodorus Frederikus Seran Tefa.


Reporter: Ricky Anyan


Komentar