Beranda Rohani Agama Khatolik Dan Kristen Protestan di Solor, Flores dan Timor Dalam Suasana...

Agama Khatolik Dan Kristen Protestan di Solor, Flores dan Timor Dalam Suasana Kolonialisme

1179
0

Oleh Pina Ope Nope

Maret 05, 2020

“Konflik Politik Di Timor Tahun 1600-1800an-

Perjalanan Amanuban Menentang Hegemoni Bangsa Eropa Atas Timor Tahun 1600-1800an”.

KUPANG, Flobamora-news.com – Pada 16 Agustus 2019 ketika pertama kali membagikan blog saya berjudul KISAH KEKALAHAN VOC BELANDA DI PULAU TIMOR PADA AWAL ABAD KE 17 bagian 1 di Facebook, muncul satu pertanyaan dari salah satu Netizen yang menggunakan nama akun Peter Tahaob yang kemudian mengundang sedikit diskusi antara sesama Netizen. Pertanyaan ini berbunyi demikian “Satu Pertanyaan yang membuat saya terus ingin bertanya, bahwa flores (Solor) telah jatuh ke tangan Kolonialisme Belanda seperti yang telah diulas, tetapi mengapa Fores masih tetap Khatolik yang merupakan ajaran Portugis. Berbeda dengan daerah lainnya yang dikuasai penuh Belanda tentu misi Zending sangat dominan di sana”. Ini adalah pertanyaan yang cerdas berkaitan dengan penyebaran agama Khatolik dan Kristen Protestan di Nusantara terutama di wilayah Timur Indonesia. Ada berbagai tanggapan mengenai pertanyaan ini termasuk salah satunya menjawab “Nederlandsch Zending Genootschap yang memulai usaha zending di Timor”. Suatu jawaban ambigu yang tidak akan memuaskan penanya. Namun pertanyaan ini saya anggap perlu dijawab dalam sebuah artikel dan saya berketetapan untuk menulisnya apabila keempat seri kisah kekalahan Belanda di Timor ini selesai saya tulis. Oleh karena itu, saya berusaha untuk menjawab pertanyaan ini berdasarkan informasi historis yang mampu saya kumpulkan. Semoga informasi selebihnya yang lebih akurat dan tersusun rapih dapat disampaikan oleh para akademisi yang terdidik dan terlatih.

Doktrin Kurikulum

Tom Pires seorang pelancong Portugis yang pernah berkunjung ke Nusantara menulis adalam laporannya berjudul “Suma Oriental” tahun 1512-1515. Dalam karyanya itu ia menyebut tentang sumber-sumber perdagangan di Nusantara. Salah satu kutipan terkenalnya yaitu “: “Tuhan telah menciptakan Timor untuk kayu cendana, Banda untuk pala dan Maluku untuk cengkeh”. Namun ada salah satu bagian yang sekarang menjadi bahan perdebatan kaum cendekiawan sekarang ini adalah tentang proses penyebaran agama Islam di pulau Jawa. Menurut laporannya bahwa penyebaran agama Islam berawal dari kedatangan bangsa Persia, Arab, Gujarat, Bengali dan Melayu untuk berdagang di pesisir pulau Jawa. Mereka (Tom Pires menyebut dengan sebutan Moor) lalu membangun mesjid dan mushola dan semakin kaya dan kekayaan mereka mulai melebihi penduduk lokal, lalu anak cucu mereka dalam kurun waktu 70 tahun telah disebut juga sebagai orang Jawa. Mereka membentuk pasukan dan menyerang kerajaan-kerajaan asli Jawa yang bercorak Hindu/Budha serta memaksa raja-raja dan orang-orang disana masuk Islam dan menjadi raja disana.

[1]. Ketika karya Tom Pires ini dibahas, tentu saja memantik banyak reaksi. Bahkan hari ini ulasan tentang ini telah disensor dalam dunia maya sehingga kita tidak bisa mengakesnya di internet bahkan untuk ulasan paling sederhana sekalipun. Ini tentu sangat mengguncang terutama dalam kurikulum pendidikan kita diajarkan bahwa proses penyebarannya secara damai melalui berdagangan dan akulturasi budaya.

Berseberangan dengan itu, diajarkan pula dalam kurikulum pendidikan sejarah Indonesia bahwa penyebaran agama Khatolik dan agama Kristen Protestan adalah agama yang di bawa oleh penjajah Eropa dengan penuh intrik dan paksaan melalui slogan Gold, Glory and Gospel. Tentu saja bagian ini menjadi stigma yang sedikit negatif sebagai “agama penjajah” terutama bila dipandang dengan rentang waktu penjajahan selama 350 tahun maka penyebaran kedua agama ini merupakan bagian dari penindasan dan paksaan. Oleh karena itu saya mengajak pembaca untuk bersama-sama menyimak atau bahkan membahas penyebaran agama Khatolik dan Kristen ini di beberapa wilayah di Nusa Tenggara Timur tanpa mengabaikan peran wilayah lainnya namun daerah-daerah ini yakni di Solor, Larantuka dan Timor adalah wilayah yang paling bergejolak dan dinamis.
Seyoganya, banyak wilayah di Nusa Tenggara Timur yang menganut agama tradisional. Di Timor misalnya agama kepercayaan leluhur disebut Halaika’, di Sabu disebut Jinitiu dan di Sumba disebut Merapu dan lainnya. Secara umum agama-agama tradisional ini masih ada sampai hari ini walaupun jumlah pemeluknya semakin berkurang. Ketika Portugis sebagai bangsa Eropa yang pertama kali menginjakan kakinya di kepulauan Sunda Kecil (demikian Nusa Tenggara disebut) banyak penduduknya yang belum beragama.
Menurut beberapa informasi bahwa setelah penaklukan Malaka oleh Portugis tahun 1511, maka ekspedisi Portugis pertama yang datang ke Maluku adalah tahun 1511 dibawah komando Antonio d Abreu ditemani Francisco Ferrao dan Francisco Rodriques seorang kartograf. Selanjutnya pada November 1511 mereka mengunjugi Wetar, Alor, Solor dan Timor. Menurut Mclntyre, mereka melihat sebuah pulau besar dan memperkirakan itu adalah Timor lalu menandai dalam peta tetapi mereka kemudian mendarat di Solor. Saat itulah beberapa orang Degradedos.

[2] di turunkan dan membentuk komunitas Portugis pertama di Solor[3]. Dari komunitas inilah terbentuk komunitas Portugis campuran yang menikahi wanita-wanita lokal Solor dan Timor yang kemudian dikenal sebagai Topas. Di sana, orang Topas membentuk sebuah kerajaan kecil merdeka, yang hingga abad ke-19 hanyalah bawahan kerajaan Portugis secara nominal bahkan boleh dikatakan sepenuhnya merdeka (tidak di bawah kontrol penuh Portugis). Dari Solor mereka melakukan perdagangan cendana dan lilin di Timor sebagai mata pencaharian utama mereka. Bahkan menurut beberapa literatur yang memang masih kurang dapat dipercaya menyebutkan bahwa Gereja Abi (di Timor wilayah Amanuban) didirikan tahun 1527. Namun tahun 1613, Solor direbut Belanda dibawah komando Apollonius Schot sehingga mereka berpindah ke Larantuka. Komunitas ini kemudian lebih dikenal sebagai Larantuqueiros.

[3]. Persaingan antar kelompok
Dalam seratus tahun ke depan, bukan Timor, tetapi pulau Solor menjadi pusat kegiatan Portugis. Pemukiman ini didirikan di titik paling strategis kepulauan Solor oleh kaum Dominikan Khatolik. Keadaan ini juga didorong oleh keberhasilan mereka dalam pekabaran agama Khatolik disana. Kita tidak tahu bagaimana dengan sumber-sumber gereja tentang penanggalan berdirinya komunitas Khatolik di Solor, namun menurut sumber-sumber sejarah bahwa mereka berkembang sejak 1511 itu lalu tahun 1566 mereka membangun sebuah benteng batu dengan meriam di setiap sudut. Tujuan benteng adalah untuk melindungi penduduk kampung Kristen ini dari serangan para pedagang budak-budak Muslim dari Makassar dan Jawa yang sebelumnya sering menyerbu penduduk setempat lalu menangkap mereka dan menjual sebagai budak.
Ketika komunitas ini semakin berkembang, kaum Dominikan memerintah total 27 kampung di Solor, Flores dan pulau-pulau tetangga, dengan sekitar 100.000 orang yang bertobat dan menjadi Khatolik. Menurut perkiraan Belanda, jumlah itu sebenarnya 12.250 orang Kristen baru. Pos mereka yang paling penting, setelah Solor sendiri adalah Pulo Ende, di pantai selatan Flores, di sana mereka memiliki benteng yang terbuat dari batu kora.

l[4]. Mereka bertahan disana hingga pengusiran terakhir mereka dari benteng pada tahun 1630 oleh komunitas Islam Makasar dan Belanda.

Sebenarnya akan jelas kemudian bahwa Belanda bahkan sering menggunakan pasukan-pasukan Islam dari Sulawesi, Buton dan Jawa dalam persaingan melawan Portugis sehingga alegasi sejarahwan di Barat Indonesia bahwa Belanda dan Portugis memiliki ambisi yang sama yakni Kristenisasi.

[5] adalah keliru. Baik komunitas Portugis yang Khatolik versus Belanda yang Kristen Protestan maupun versus Kerajaan-kerajaan Sulawesi dan Jawa yang Islam memiliki persaingan yang sama yaitu perdagangan. Tentang sentimen agama dari masing-masing kelompok adalah sangat sedikit. Justru akan terlihat kemudian bahwa komunitas Portugis dengan agama identitas Khatoliklah yang paling konsisten dalam mempertahankan jati dirinya dalam hubungan politik dan perdagangan dibandingkan pihak VOC Belanda yang terlihat lebih opurtunis dengan menggunakan pihak kesultanan-kesultanan di Nusantara.
Salah satu contoh adalah ketika tahun 1613 Kapten VOC, Apollonius Schot menyerbu Solor dan merebutnya dari Portugis, ia di bantu oleh Sultan Buton dengan mengirim kora-kora (prau perang). Contoh lainnya adalah ketika sekutu VOC yakni Amabi dan Sonbai sedang mati-matian bertempur mempertahankan kedudukan mereka di Timor pada September 1658, komandan Belanda Joseph Margits bersama Hendrick ter Horst pergi ke Kepulauan Solor. Di Solor beberapa pedagang Muslim datang ke kapal Margit dan menyampaikan saran agar diizinkan untuk mengambil barang dagangan Belanda dengan nilai 1.244,8 real, di mana mereka berjanji untuk membeli kayu cendana dan lilin lebah di pantai selatan Timor (wilayah Amanatun, Belu malaka dan Amanuban) yang tidak dapat diakses dan berbahaya bagi pedagang maupun pihak Belanda lalu akan mengirimkannya untuk pos VOC di Kupang

[6]. Namun ketika para pedagang Muslim ini beristirahat di Matayer, mereka diserang oleh kapal-kapal Portugis yang turun dari Makassar. Dua kapal hancur dan empat belas orang kehilangan nyawa, sementara kapten dan lima belas orang berhasil menyelamatkan diri dan berlayar ke Solor, “yang”, mengutip Ter Horst, “tidak memberi kami kabar menyenangkan.

[7]. Dua kabar yang mengecewakan adalah kekalahan sekutu Amabi-Sonbai-VOC melawan Portugis dan Amanuban serta Amakono di daratan Timor serta kehancuran sekutu Muslim mereka di lautan.
Sedangkan Sultan Tallo atau Karaeng Matoaya alias Sultan Abdullah (1573-1636) juga menyebarkan pengaruhnya sampai ke Timor. Bahkan untuk menguatkan kedudukannya dalam perdagangan cendana di Timor ia kemudian menikahi putri dari kerajaan Wesei Wehali (atau umum disebut Weweiku Wehali) sebuah kerajaan yang sangat berpengaruh di pusat pulau Timor.

[8]. Sultan lalu memperkenalkan Islam di sana. Bahkan ia berambisi untuk menjadi Raja atas Timor. Orang-orang Sulawesi ini akhirnya menunjukan pengaruhnya dalam usaha perdagangan. Bahkan Karaeng yang terkenal bernama Patingalloang membuat perjanjian dengan VOC Belanda untuk menjadikan Makassar sebagai pemasok utama kayu cendana dari Timor bagi VOC Belanda. Ini menunjukan bahwa sesungguhnya kerjasama antara Belanda dengan kesultanan untuk mengakhiri hegemoni Portugis tidak ada kaitannya dengan sentimen keagamaan atau kristenisasi, semuanya hanya untuk perdagangan dan duitnisasi atau Loitnisasi (istilah bahasa Atoni).

Perlindungan komunitas Khatolik diTimor

Untuk menunjukan keseriusan mereka, maka pada bulan Januari 1641, Sultan Mudaffar dengan armada Makassar bersama pasukannya sebanyak 5.000-7.000 orang menyerbu Portugis di Larantuka dan disana mereka menghancurkan permukiman, juga membakar gereja dan perabotannya. Lalu mereka meneruskan perjalanan ke desa Islam bernama Lamakera dan dari sana mereka melanjutkan pelayarannya ke Timor. Ketika Mudaffar tiba di Timor, ia mendatangi kerajaan Mena dan mengancam ratu serta raja dan memaksa mereka untuk memeluk agama Islam. Selama dua bulan lamanya Sultan Mudaffar.

[9] menghancurkan daerah pesisir, menangkap 4.000 orang dan menjual mereka sebagai budak. Tindakan Sultan ini merupakan sebuah invasi berskala besar pertama yang terjadi di pulau Timor.

[10]. Ketika pihak Portugismelihat bahwa komunitas Khatolik mulai terancam dengan invasi ini, maka komunitas Pottugis di Larantuka mengutus seorang Dominikan bernama Francisco Fernandes dengan 150 orang Muskiter untuk menghadapi invasi ini. Kali ini mereka mendarat di Naikliu lalu berjalan melewati wilayah Sonbai dan mencapai Amanuban. Disana mereka mengajak kerajaan Amanuban dan Lifau untuk menyerang Mudaffar dan kerajaan Mena. Dengan pasukan kecil ini, mereka berhasil menaklukan raja Serviao dan berhasil mengkonversikan rajanya kembali menjadi seorang Khatolik. Sementara itu, raja Wehali mengirim pesan ke Tallo dan meminta bantuan pasukan satu skuadron penuh untuk menaklukan kerajaan lainnya. Bangsawan Tkesnay (Nesnay) yang terjepit diantara kedua kekuatan ini akhirnya harus memilih dengan siapa ia harus bersekutu dan pilihannya jatuh pada Makassar dan Wehali. Selanjutnya yang menjadi target pasukan sekutu Makasar, Wehali dan Tkesnai berikutnya adalah menaklukan Batumean (sekarang ini kita kenal sebagai kerajaan Amanatun.

[11]) namun Francisco Fernandes dan kerajaan sekutunya bertindak cepat. Batumean diamankan sebagai sekutu baru dan membaptis rajanya menjadi Khatolik. Akhirnya Serviao dan Batumean bergabung dengan Fernandes, Amanuban dan sekutu lainnya untuk menyerbu pusat kerajaan (Wehali) dan pertempuranpun tidak dapat dihindarkan dan orang-orang Makasar ini berhasil dikalahkan oleh portugis dan sekutu kerajaan Atoni. Kampanye tahun 1641-1642 ini menandai kemenangan Portugis dan kerajaan sekutunya atas Makassar di pulau Timor.

[12]. Sejak kejadian ini dalam tradisi lisan dikenal dengan sebutan “Makenat Lub-Lubum Makasal, Taku ma Tkesnay”. Selanjutnya untuk tahun-tahun berikutnya pedalaman pulau Timor (termasuk Amanuban) menjadi steril dari agama Islam hingga tahun 1900-an.
Dalam catatan Eropa selanjutnya disebutkan bahwa mereka memuji pemimpin milisi ini, Francisco Fernandes. Bahkan seorang Dominikan melaporkan bahwa ia meninggal pada usia lanjut yakni 130 tahun dan hidup berkecukupan. Tepat sebelum kematiannya, ia merayakan kelahiran seorang bayinya lagi atau kembali menjadi seorang ayah. Disebutkan, ia menembak seekor kerbau selama perburuan. Setelah kematiannya, tubuhnya dikirim ke Belanda untuk penelitian ilmiah. Suatu penelitian yang akan dihubungakan dengan alam Pulau Solor dan Laratuka yang sehat dan bersih serta menunjang orang-orang dapat berusia lanjut disana.

[13]. Pengaruh Politik di Timor

Akhirnya setelah pertempuran ini, menyadarkan para raja-raja di Timor bahwa mereka membutuhkan sekutu Portugis untuk membantu mereka melawan invasi-invasi semacam ini sehingga dengan sukarela para raja mengkonversikan dirinya menjadi Khatolik. Raja-raja Timor lainnya dalam catatan Eropa kemudian memang menjadi pemeluk agama Khatolik. Misalnya dalam perjanjian persekutuan Verheyden dengan Amabi dan Sonbai (tahun 1655) maka raja Amabi diidentifikasi dengan nama Dom Sebastiao, raja Amarasi dengan nama Dom Augustinho dan lainnya. Seperti pada artikel sebelumnya (Kisah kekalahan VOC Belanda di Timor pada awal 17), maka kerajaan Amanuban, Amarasi, Sonbai Besar dan beberapa kerajaan lainnya menjadi sekutu para Topas/ Larantuqueiros kecuali 5 raja sekutu Belanda lainnya setelah kekalahan Belanda dan alinsinya tahun 1655-1658 yakni Amabi, Sonbai Kecil, Taebenu, Helong dan Amfoan.

Keadaan politik di Timor tidak begitu stabil dan Belanda hanya berkutat di kantung kecil Kupang dengan perlindungan Lima Raja Sekutu. Pada momentum perang Penfui (1749), Raja Amanuban yang saat itu bernama Seo Bill Nope dengan identitas Khatolik bernama Dom Miguel (Michiel) De Concenciao, raja Sonbai bernama Baob Sonbai dengan identitas Khatolik bernama Dom Alonso Sallema dan Raja Amfoan Timau Bernardo da Costa yang kecewa dengan kekejaman para pemimpin Topas menyeberang ke pihak Belanda. Sedangkan Amarasi, Amanatun dan Amakono meninggalakn pertempuran sejak awal.

[14]. Mereka kemudian menjadi sekutu Belanda dan berperang di pihak Belanda hingga kekalahan Portugis dimana pemimpinnya Don Gaspar da Costa mati. Akhirnya Topas kehilangan pengaruh dan bukan lagi menjadi kekuatan yang patut diperhitungkan lagi.
Tahun-tahun berikutnya adalah kerajaan-kerajaan ini menjadi sekutu Belanda dan diikat dalam suatu perjanjian pada tahun 1756. Tahun itu, VOC membuat kontrak yang digagas oleh komisioner Johannes Andreas Paravicini yang di kemudian hari dikenal sebagai Kontrak Paravicini. Kontrak ini ditandatangani oleh penguasa-penguasa dari Rote, Sabu, Sumba, Solor, Flores dan raja-raja di Timor termasuk didalamnya adalah liurai Sonbai dan Amanuban. Namun kontrak ini sesungguhnya lebih menunjukan persahabatan dalam perdagangan. Dengan Kontrak ini, diharapkan para raja ini dapat menjual hasil bumi berupa lilin dan lainnya hanya kepada VOC Belanda.
Namun pengaruh politik dan perdagangan saat itu terhadap identitas kaagamaan juga menjadi nampak misalnya di kerajaan Amanuban. Suatu ketika (tahun 1751) putra raja Amanuban bernama Jacobus Albertus (Kobis Nope) dibaptis secara Kristen Protestan oleh pendeta Siljma dari Banda dan yang menjadi bapa saksinya (Bapa Ani-sebutan orang Kupang) adalah William Andrian van Este. Namun kemudian sepupunya Tubani Nope (putera dari Don Miguel) seorang pangeran yang anti VOC Belanda pada tahun 1770 mengkudeta Kobis dan menjadi raja Amanuban di pedalaman Amanuban sehingga Kobis hanya menjadi raja secara nominal pada sebuah komunitas Amanuban yang kecil sebanyak Enam temukung dari Noemina hingga Babau. Semenjak itu Amanuban di pedalaman tidak lagi berhubungan dengan Portugis Putih maupun Belanda secara politik, jadi persahabatan dengan Belanda hanya bertahan 22 tahun[15].
Uniknya putera Tubani bernama bernama Kusa Nope atau nama kristen Don Louis (kedua) yang kemudian menjadi Raja Amanuban ke IX (tahun 1802-1824) juga dikenal dalam dokumen-dokumen Eropa adalah seorang Kristen Protestan. Ia bahkan disebut sebagai seorang terpelajar dan pernah bepergian ke Batavia[16]. Namun penggantinya Baki (1824-1862) atau mungkin cucunya Sanu Nope (menjadi raja 1862-1869) berganti menjadi kembali pada agama leluhur, Halaika’ hingga kemudian Pa’E Nope (menjadi raja 1920-1945) menjadi pemeluk agama Kristen Protestan tahun 1948 atau setelah 38 tahun setelah Amanuban ditaklukan oleh Belanda. Ini menunjukan pasang surut hubungan keagaman di Timor dengan situasi politik di Timor.
Sedangkan pemimpin Sonbai yakni Nai Kau Sonbai (Alfonsus Adrianus) memerintah dari (1762-1802) juga besar di rumah van Este. Alfonsus adalah seorang Kristen Protestan dan mendapat pendidikan ala Eropa. Namun kemudian memberontak kepada Belanda di tahun 1782 bahkan ia memimpin langsung penyerangan di Kupang yang kemudian perang ini memiskinkan raja Kupang Kolang Tepak. Ketika tahun 1906 Sonbai kembali ditaklukan Belanda, ternyata raja Sonbai dan keluarganya telah menjadi Halaika’.

Identitas Khatolik yang bertahan
Lalu bagaimana dengan jawaban atas pertanyaan Peter Tahaob tersebut diatas?. Jawabannya adalah tahun 1851 ketika pihak Portugis dan Belanda melihat bahwa situasi politik di Timor berada di luar kendali mereka, maka kedua entitas Eropa ini bersepakat untuk duduk di meja perundingan dan akhirnya Gubernur Dili yang baru yaitu Jose Lopes de Lima menyetujui penawaran transfer atas kekuasaan di Flores, Adonara, Solor, Lomblen, Pantar, dan Alor dan Timor bagian barat dengan nilai penjualan sebesar 200.000 Florin.

Uniknya Timor bagian barat yang turut dijual Portugis (Amanuban, Sonbai Besar, Amanatun, Amakono dan Wewiku Wehali dan beberapa wilayah lainnnya) adalah wilayah yang benar-benar merdeka kecuali daerah yang benar-benar dibawah kontrol Portugis seperti Oekusi dan Neomuti. Dari perjanjian Belanda-Portugis ini selain berkaitan dengan transfer wilayah-wilayah, juga disepakati pula bahwa umat Khatolik dipastikan bebas mengamalkan ajaran agamanya sehingga, di Larantuka dan daerah-daerah Flores yang mayoritas Khatolik juga di daerah-daerah Timor misalnya Belu dan Noemuti tidak ada penyebaran ajaran Calvinisme (Kristen Protestan) yang biasanya dianut orang Belanda. Untuk menunjukan keseriusan Belanda atas perjanjian itu, maka Belanda mengutus serikat Yesuit dari negeri Belanda untuk dapat terlibat dalam pekerjaan kolonial. Di Larantuka dan Solor misalnya, mereka mendirikan bangunan paroki pertama dan kembali mengarahkan bentuk ortodoks agama tersebut. Itulah sebabnya daerah-daerah yang telah memeluk agama Khatolik tidak boleh dilakukan misi dari Kristen Protestan.

Namun hubungan agama Kristen Protestan di wilayah yang kemudian dikuasai Belanda-pun patut kita pelajari hanya mungkin untuk menambah pemahaman kita tentang penyebaran agama Kristen.Bahwa setelah perang sekutu Amabi-Sonbai-VOC (atau makenat na’ Jabi) ini berakhir di tahun 1658, maka secara otomatis Belanda hanya memiliki 3 sekutu yakni Amabi, Sonbai Kecil dan Raja Helong hingga bergabung pula dua kelompok pengungsi lainnya yakni Amfo’an (1683) dan Taebenu (1688). Kelima sekutu adalah sebagai entitas terpisah dari orang Atoni di Timor Barat dan merupakan sekutu terdekat dan paling setia kepada Belanda sampai abad kedua puluh. Mereka kemudian dalam dokumen-dokumen Eropa disebut sebagai “Lima Raja Sekutu”. Kelima raja sekutu ini berikutnya akan menjadi teman dan juga merupakan benteng bertahanan Belanda menghadapi serangan-serangan kerajaan-kerajaan Atoni yang pro Portugis di pedalaman Timor hingga tahun 1749 dan beberapa tahun berikutnya.

Arena interaksi Sosial
Penting disini untuk dapat kita mengikuti dinamika interaksi sosial berbarengan dengan upaya pasifikasi Belanda yang stagnan di pulau Timor. Sebenarnya hubungan Kelima Sekutu ini memiliki kekayaan dokumentasi dari pihak Belanda yang dapat memberi gambaran tentang interaksi Politik dan Sosial dalam studi sejarah yang sangat kontekstual bagi pembangunan Kota Kupang dewasa ini. Namun sangat disayangkan bahwa kurangnya upaya pemerintah daerah di Kupang maupun NTT dan pihak Sinode GMIT dalam pengembangan study ini yang mungkin dapat bermanfaat bagi pembangunan di Nusa Tenggara Timur terutama berkenaan dengan aspek sejarah, budaya dan interaksi keagamaan.

Menurut ringkasan Prof. Hans Hagerdall, disebutkan bahwa kelompok-kelompok Timor yang berimigrasi pasca perang ini tinggal di komunitas mereka yang tidak jauh dari benteng Concordia dan pola integrasi sosial dalam komunitas kota (dalam hal bergereja,red) selama periode VOC nampaknya sangat terbatas. Dari catatan pembaptisan, disebutkan bahwa hanya sedikit sekali laki-laki yang bergabung dibandingkan perempuan yang lebih banyak bergabung

[17]. Memang harus diakui bahwa kelompok-kelompok orang Timor telah melakukan kontak dengan Khatolik sejak dekade-dekade awal abad ketujuh belas melalui upaya para misionaris Dominika Portugis, bahkan beberapa anggota elit/ bangsawan-bangsawan itu menggunakan nama Kristen pada saat mereka melakukan kontak dengan VOC seperti yang telah saya sebutkan diatas. Namun demikian, Belanda menunjukkan minat yang relatif terbatas bahkan sangat minim dalam upaya meng-Kristen Protestan-kan sekutu mereka. Proses Kristenisasi justru terjadi dengan berjalan berdasarkan kecepatannya sendiri. Ini sejalan dengan kebijakan VOC secara umum di Nusantara; bahwa upaya konversi (perpindahan agama) biasanya dihindari karena dapat menimbulkan masalah bagi hubungan antara Kompeni dan sekutunya atau anak asuhnya. Selama abad kedelapan belas, praktik berkembang bahwa para raja dan bupati dibaptis pada atau segera setelah aksesi mereka. Namun, tidak ada bukti untuk konversi atau perpindahan agama secara massal selama periode VOC, bahkan di kalangan elit itu sendiri.

Sebaliknya, walaupun terjadi interaksi sosial dalam hubungan perkawinan antara pegawai Belanda dengan wanita setempat, namun nampaknya interaksi ini justru dipandang sebagai penghambat atau bahkan dapat mengganggu hubungan antara Belanda dengan raja-raja sekutu ini, sebab cara pandang tentang perkawinan orang Timor dengan orang Eropa memang berbeda. Hal ini berkaitan dengan pemahaman orang Timor bahwa pihak pemberi istri harus dihormati oleh pihak pengambil istri. Bahkan perkawinan ini menjadi persoalan bagi pihak Belanda itu sendiri sebab kadang pegawai Belanda yang menikahi puteri raja justru menjadi gagah dan sok yang kemudian menimbulkan masalah bagi Kompeni maupun bangsawan setempat.

Namun arena interaksi yang paling baik dan paling bermartabat justru terjadi dalam intitusi gereja. Ketika mulai banyak orang-orang Timor dari komunitas raja-raja sekutu ini menjadi pemeluk Kristen, mereka memandang Agama Kristen secara serius. Bahkan dalam sebuah laporan seorang pendeta Calvinis bernama Warnerus van Loo bahwa seorang Pangeran Kupang bernama Paulus bahkan menjabat sebagai Krankenbesoeker (pengunjung orang sakit, posisi klerus yang lebih rendah). Van Loo adalah pendeta yang diutus oleh otoritas Gereja di Batavia ke Kupang pada tahun 1732.

[18]. Tentu saja pelayanan sang Pangeran ini merupakan suatu hal yang tidak mungkin dilakukan oleh seorang bangsawan dalam keadaan biasa.

Dalam laporannya disebutkan “dengan meninggalnya penatua Johannes Tano (raja Kupang) dan diakon Erasmus Hans agar digantikan oleh penatua Leender van Dijk untuk pemulihan dewan gereja…. untuk itu, saya, setelah pencalonan tersebut menunjuk orang yang baik hati, rendah hati dan menjalani kehidupan yang saleh, untuk memimpin upacara-upacara agama Kristen yang benar dan reformis serta menjadi wakil gereja yaitu Raja Daniel dari Amfo’an sebagai penatua dan Cornelis Zegers sebagai Diakon. Dan mengenai diaken Amos Pietersz Thenoe telah jatuh dalam pesta pora yang keras dengan konsekwensi bahwa karakter dan kehidupannya sangat tidak kristen dan buruk yang tidak sesuai dengan jabatan apapun apalagi sebagai pelayan gereja, seteleh saya pertimbangkan matang maka saya memutuskan bahwa Thenoe tidak layak untuk melayani. Untuk itu kami telah menunjuk Tobias (Raja) Amabi sebagai diakon sebagai gantinya…dstnya…”

Seperti yang kita lihat bahwa organisasi gereja bersandar pada otoritas individu dari para raja sekutu bahkan posisi terdepan dalam komunitas gereja lokal. Jelas dan nyata bagi kita bahwa ruang interaksi keagamaan adalah titik pertemuan dimana interaksi penting telah terjadi antara dunia Eropa dan dunia Timor- terlepas dari upaya resmi Belanda untuk memisahkan kedua dunia ini. Orang Kristen Timor mungkin akan memperoleh tingkat pemahaman tentang budaya dan pola pikir para orang kulit putih dan sebaliknya, demikian Prof. Hans Hagerdall meringkasnya.

[19]. Dengan demikian upaya pengkristenan oleh Belanda bukan paksaan namun memang sebuah sarana interaksi dari kedua komunitas yang saling membutuhkan. Komunitas Belanda di Kupang membutuhkan eksitensi kelima raja sekutu sebaliknya kelima raja sekutu juga membutuhkan perlindungan Belanda terhadap serangan-serangan dari kerajaan-kerajaan musuh mereka di pedalaman Timor yang sulit diatur baik oleh Kompeni maupun Portugis itu. Dalam upaya interaksi ini banyak hal yang sulit terutama secara politik bahwa walaupun kelima raja sekutu ini telah menjadi sekutu mereka di Kupang namun kadang kala timbul juga kecurigaan bila terjadi pembelotan atau penghianatan manakala terjadi penyerbuan dari musuh-musuh Belanda yang sering menyerang dan menembaki Belanda hingga di depan benteng. Tentu saja arena interaksi dalam gerejalah, mereka dapat saling mempercayai tanpa curiga.

Konversi pedalaman Timor

Seperti yang telah dijelaskan diatas, Amanuban dan Sonbai Besar setelah berakhirnya persekutuan mereka dengan Belanda di Kupang untuk waktu yang pendek, raja-raja mereka memilih untuk mengambil bentuk penyembahan kepada agama leluhur Halaika’ sebagai bentuk pemisahan dari kedua entitas Eropa ini (Belanda dan Portugis yang Khatolik). Namun sejalan dengan berhasilnya pasifikasi Belanda atas Sonbai pada tahun 1906 dan Amanuban tahun 1910, maka secara perlahan pekabaran injil mulai masuk ke pedalaman Timor.

Namun pekabaran injil yang sejalan dengan berdirinya institusi-institusi sekolah tidak sepenuhnya memperoleh dukungan dari pihak pemerintah Belanda. Contohnya menurut laporan Ds. Krayer van Aalst (De Timor Bode NO. 51, Juli 1920)[20]. Krayer van Aalst adalah seorang pendeta yang bertugas dalam misi Zending di Kapan sejak tahun 1916 sampai 1922. Ia menyebutkan bahwa Gezaghebber (pejabat Belanda) masuk ke kelas-kelas dan mencoret jadwal pelajaran agama dan jam-jam Belajar Alkitab. Tindakan ini menunjukan bahwa pihak otoritas Belanda tidak begitu menyukai apabila orang pribumi menjadi Kristen dan mengenal ajaran-ajaran Kristus yang memerdekakan itu.

Sedangkan di Amanuban, komunitas pertama yang menjadi Kristen setelah penaklukan Belanda adalah di Pene yang memang secara geografis dekat dengan Kapan. Mereka menerima keKeristenan pada tahun 1912. Pada tanggal 9 Pebruari tahun 1948, oleh karena suatu peristiwa iman, maka raja Tua Amanuban yaitu Pa’E Nope/ Pa’E Nuban menjadi seorang pemeluk Kristen. Proses ini diikuti oleh banyak pejabatnya yakni Fetor dan Meo-Meo maupun Temukung walaupun masih banyak penduduk yang masih memeluk agama Halaika’. Proses perpindahan agama yang paling masif justru terjadi pada tahun 1965 pasca penumpasan PKI, dimana orang-orang banyak berbondong-bondong memeluk agama Kristen karena menghindari stigma Atheis yang lebih mengarah ke Komunis.


Reporter: Pina Ope Nope


Komentar