Beranda Hukum & Kriminal Akolina Dahu, Sang Gadis Malang di Bilik TPS

Akolina Dahu, Sang Gadis Malang di Bilik TPS

2428
0

Siang itu, Akulina Dahu (24) sedang membantu pamannya, Fransiskus Xaverius Bau (40) membersihkan kebun yang baru ditanami jagung karena musim hujan yang tak menentu di NTT. Saat sedang membersihkan kebun, tiba-tiba datang empat orang anggota Buser Polres Belu menjemput paksa dirinya karena dugaan pelanggaran Pemilu Kepala Daerah Kabupaten Belu 2020 yang dilakukan olehnya. Akulina dijemput paksa karena dianggap tidak kooperatif. Nasib Akulina jadi tak menentu sama dengan musim hujan di NTT.

Akulina Dahu, Seorang Gadis Desa dari Desa Nanaenoe, Kecamatan Nanaetduabesi, Kabupaten Belu. Orang tuanya sehari-hari bekerja sebagai petani. Sudah sedari lahir, besar hingga menikah, orang tua Akulina Dahu, Dominikus Asuk dan Veronika Kolo hidup di Desa Nanaenoe, Kecamatan Nanaetduabesi, Kabupaten Belu. Saat sudah menikah, kedua orang tuanya membuat sebuah rumah kebun di Desa Alas Utara, Kecamatan Kobalima Timur, Kabupaten Malaka. Karena lama hidup bersama kedua orang tua, maka Dominikus bersama istrinya memutuskan untuk tinggal di rumah kebunnya di Desa Alas Utara yang dulunya masih merupakan wilayah Pemerintahan Kabupaten Belu.

Hingga pada akhirnya, Kabupaten Belu dimekarkan menjadi dua kabupaten yaitu Kabupaten Belu dan Kabupaten Malaka yang disahkan pada tanggal 14 Desember 2012, Dominikus bersama keluarganya sudah tinggal di Alas Utara.

Pada tahun 2013, Dominikus mengurus ulang Kartu Keluarga sehingga anak-anaknya yang sudah dewasa dapat mengurus Kartu Tanda Penduduk (KTP). Akulina Dahu yang saat itu sudah genap 17 tahun ikut mengurus KTP-nya.

Beberapa tahun kemudian, tepatnya pada awal tahun 2015, Dominikus bersama keluarga memutuskan untuk kembali ke tempat kelahirannya di Desa Nanaenoe, Kecamatan Nanaet Duabesi, Kabupaten Belu.

Rumah tempat tinggal Akulina Dahu

Akulina Dahu yang merupakan anak kedua dari Dominikus saat itu sudah menginjakkan kakinya di bangku kelas III SLTA Kimbana, Desa Bakustulama, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu. Usai lulus SLTA, Akulina pun berniat untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Namun, karena kemampuan kedua orang tuanya yang terbatas, maka Akulina pun merajuk pada Sang Kakek.

Karena niatnya yang kuat, maka Sang Kakek, Benyamin Asuk yang merupakan anggota Veteran Kabupaten Belu pun memberikan uang sebesar lima juta Rupiah kepada Akulina untuk mendaftarkan diri ke perguruan tinggi.

Dengan modal lima juta tersebut, Akulina meminta bantuan kepada Sang paman, Fransiskus Xaverius Bau (40) untuk membantunya mendaftarkan diri ke Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang. Sang Paman pun mengiyakan niat keponakannya itu. Bahkan Sang Paman mengantarkan Akulina ke Malang untuk mencari kos dan melengkapi semua kebutuhannya di kos. Akulina akhirnya dapat mewujudkan niat untuk kuliah di Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang, Fakultas Ilmu Komunikasi, Jurusan Jurnalistik.

Sebagai gadis desa yang baru datang ke kota besar, Lina, begitu biasa ia disapa, tak mau ketinggalan oleh teman-temannya dalam hal ilmu jurnalistik. Lina tekun belajar dan aktif dalam organisasi Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Paphyrus yang ada di kampusnya. Pada Bulan Oktober 2020, Lina pun akhirnya berhasil menyelesaikan pendidikannya di Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang.

Setelah Wisuda, Lina pulang ke kampung halamannya di Nanaenoe. Dia sehari-hari membantu orang tuanya untuk bertani sambil memasukan lamaran kerja ke beberapa instansi di Pemda Belu.

Tiba saatnya pada tanggal 9 Desember 2020 ada pesta Demokrasi yaitu Pilkada Kabupaten Belu tahun 2020. Lina yang sudah dikenal masyarakat Desa Nanaenoe pun menuju ke TPS 2 dengan membawa KTP karena namanya tak dimasukan ke dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT). Di sana, dia disambut baik oleh KPPS dan setelah melihat e-KTP yang dibuat pada tahun 2013 silam langsung mempersilahkannya untuk ikut mencoblos. Tanpa ragu, Lina pun tentu mencoblos ke Calon Bupati dan Wakil Bupati Belu yang diidam-idamkannya.

Usai mencoblos, Lina pun kembali ke rumah dan melakukan rutinitas seperti biasanya. Dirinya baru kembali mendapat informasi dari KPPS kalau dirinya dipersoalkan karena e-KTP lama yang digunakannya dengan alamat Kobalima Timur yang saat ini menjadi wilayah Pemerintahan Kabupaten Malaka.

Namun sebenarnya Lina masih merasa kuat lantaran Sang Ayah sudah mengurus surat pindah dari Kabupaten Malaka ke Kabupaten Belu sejak tanggal 25 Juni 2020 lalu. Selain itu, nama Lina pun masuk dalam daftar DPT pemilihan Legislatif pada TPS 3 Desa Nanaenoe, Kecamatan Nanaetduabesi, Kabupaten Belu pada nomor 59 pada tahun 2019 silam. Hanya saja, saat itu Lina tidak ikut mencoblos lantaran dirinya masih berada di Malang. Atas dasar itulah, para KPPS dan saksi dua pasangan calon bersama Panwaslu tidak mempermasalahkan hak pilih Lina.

Dominikus Asuk, ayah kandung Lina yang menghidupi keluarganya dengan bertani

Berdasarkan hasil Pleno KPPS pada tanggal 9 Desember 2020, Paslon nomor urut 01 dengan tagline Sahabat unggul atas lawannya di TPS tempat Lina mencoblos.

Namun, pada Pleno Kecamatan Nanaet Duabesi, hal tersebut mulai diangkat oleh Saksi Paslon Sahabat. Walau tidak ada catatan khusus/ formulir kejadian khusus yang dibuat oleh Para Saksi, Panwas, KPPS di TPS tempat Lina memilih, namun Saksi Sahabat tetap tidak ingin menandatangani hasil pleno kecamatan lantaran mempermasalahkan Lina ikut mencoblos.

Pada tanggal 18 Desember 2020, Bawaslu Kabupaten Belu melaporkan kejadian itu ke Polres Belu. Berdasarkan laporan tersebut, Polres Belu mulai memanggil dan memeriksa beberapa saksi. Lina sendiri tidak pernah mendapat surat panggilan sekalipun dari pihak Polres Belu sebagai saksi.

Akan tetapi, pada tanggal 29 Desember 2020, Lina yang saat itu sedang membantu pamannya di kebun, tiba-tiba didatangi empat orang anggota Buser Polres Belu. Saat diangkut ke Polres Belu, Lina beberapa kali ditanya oleh keempat Anggota Polres Belu tersebut di dalam mobil soal paket yang dipilih oleh Lina. Namun, Lina tetap bungkam dan tak mau mengaku paket mana yang dia pilih.

Saat dimintai keterangan oleh penyidik Polres Belu, Lina menjawab semua pertanyaan, tanpa ragu. Namun, masalah datang saat hendak menandatangani BAP. Lina saat itu menolak untuk menandatangani hasil BAP lantaran hasil BAP tak sesuai dengan keterangan yang disampaikan oleh Lina serta tidak adanya surat panggilan.

Karena ulah Lina itu, maka Lina diangap tidak kooperatif oleh pihak kepolisian. Selain itu, Lina dianggap tidak kooperatif lantaran sudah dilayangkan dua surat panggilan, tapi Lina tak menggubris surat pangilan dari Polres Belu itu, padahal Lina sendiri sama sekali tidak pernah mendapat surat panggilan dari pihak Polres Belu. Bahkan untuk membenarkan diri, Lina mengaku dipaksa oleh keempat anggota Buser Polres Belu yang menjemput dirinya untuk membuat pengakuan palsu bahwa dirinya selama ini disembunyikan oleh PPK sehingga tidak memenuhi panggilan Polisi.

Kuasa hukum Lina, Stefen Alves Tes Mau, SH mengungkapkan bahwa penangkapan Lina yang dilakukan oleh Pihak Kepolisian cacat Hukum lantaran mengabaikan beberapa prosedur dan fakta.

Atas dasar itu, Stefen mengajukan Surat Permohonan Penangguhan Penahanan Pada tanggal 30 Desember 2020. Akan tetapi, sampai saat ini, surat tersebut belum ditanggapi oleh Kapolres Belu.

Selain itu, melihat banyak kejanggalan baik dalam laporan maupun dalam penetapan tersangka, maka Stefen tidak akan tinggal diam. Dirinya akan tetap memperjuangkan hak hukum Lina demi sebuah keadilan.

“Lina tidak ada niat jahat (mens rea) dalam memberikan hak pilihnya. Lina hanya memberikan hak konstitusionalnya untuk memilih secara sah dan prosedural. Karena itu, Lina tidak layak dibebankan pertanggung jawaban Pidana( actus Reus). Penetapan Lina sebagai tersangka dan langsung ditahan adalah tindakan yang keliru dan sangat dipaksakan. Sebenarnya ada apa dengan semuanya ini?” Demikian tegas Stefen.

Lina sendiri saat ini mendekam di dalam sel tahanan Polres Belu. Wanita muda itu terpaksa harus mendekap dalam sel lantaran ingin menggunakan hak pilihnya. Sebagai seorang sarjana muda, dirinya paham bahwa sebagai warga negara yang baik, dirinya harus mengunakan hak pilihnya. Akan tetapi, dirinya tidak pernah menyangka bahwa dengan menggunakan hak pilihnya itu, malah dapat mencelakakan masa depannya dan harapan kedua orang tuanya.


Reporter: Ricky Anyan


Komentar