Beranda Lintas NTT Aneh! Diminta untuk Jahit Baju, Tak Jadi Dilantik Meri Harus Menanggung Malu

Aneh! Diminta untuk Jahit Baju, Tak Jadi Dilantik Meri Harus Menanggung Malu

6036
0

SOE, Flobamora-news.com – Meri Missa.diminta untuk menjahit baju pelantikan namun ia harus menanggung malu tak jadi dilantik.  Pasalnya warga Desa Fae, Kecamatan Amanatun Selatan Kabupaten Timor Tengah Selatan Nusa Tenggara Timur walaupun masik.dalam daftar perengkingan namun namamya tidak terdaftar sebagai pesrta yang akan dilantik pada, Kamis (13/8/2020.).

Menurut Meri, bahwa ia harus menanggung malu pasca dikeluarkannya rekomendasi guna penetapan perangkat desa Fae yang akan dilantik. Walau menduduki peringkat empat hasil perengkingan berdasarkan hasil pengumuman yang dikeluarkan Dinas PMD Kabupaten TTS, namun Meri tak ditetapkan sebagai peserta yang akan dilantik sebagai perangkat desa.

Padahal, pasca pengumuman hasil seleksi perangkat desa pada 27 Juli lalu, Kepala Desa Fae, Yustus Ati sempat berbicara pada Meri jika dirinya akan ditempatkan pada posisi bendahara desa, sehingga dirinya meminta Meri untut menjahit pakaian keki untuk pelantikan. Mendengar informasi tersebut, dirinya pun langsung mengeluarkan uang sebesar 500 ribu guna menjahit baju keki yang direncanakan akan digunakan pada pelantikan mendatang. Namun sayangnya semua berubah dua hari menjelang hari pelantikan. Pasalnya, rekomendasi yang keluar dari kecamatan tidak tercantum namanya.

” Saya sudah jahit baju keki habis baru tidak dilantik, nanti baju ini siapa yang mau pakai? Kenapa nomor 1,2,3, 5 dan 6 diakomodir tetapi nomor 4 di lompat”, keluh Meri yang ditemui di gedung DPRD Kabupaten TTS”

Dirinya sudah mencoba berkali-kali mencari kepala desa namun tidak berhasil bertemu. Ditelepon pun sang kades tak merespon. Dirinya mencoba klarifikasi ke pihak kecamatan namun jawabannya di suruh bertanya pada kepala desa.

“Saya pergi ke kantor kecamatan, orang kecamatan suruh ke kepala desa. Saya cari kepala desa tidak pernah ketemu,” ujarnya dengan nada kesal.

Karena kesal, esok Meri berencana akan membawa baju keki yang dijahit untuk diserahkan kepada kepala desa Fae. Hal itu sebagai bentuk protes dan rasa kecewanya terhadap keputusan sang kades.

” Besok saat pelantikan saya akan minta ijin ke Pak Kapolsek dan Camat biar saya bisa kasih baju keki ini ke kepala desa. Dia mau pakai atau tidak saya tidak urusan yang penting dia terima dulu,” katanya.

Yudit Selan, Anggota Komisi 1 DPRD TTS menyesalkan tidak diakomudirnya Meri sebagai perangkat desa padahal dirinya sudah menjahit baju keki. Berdasarkan Perbup 38 tahun 2018, dalam pengusulan oleh desa dan pemberian rekomendasi oleh camat wajib berpatokan pada hasil perengkingan. Oleh sebab itu, jika Meri duduk di peringkat 4 hasil peringkingan seharusnya menjadi prioritas untuk ditetapkan sebagai perangkat desa. Soal pada jabatan apa itu kewenangan kepala desa.

“Kalau Desa, Camat dan Dinas PMD jeli melihat Perbup maka tidak akan ada persoalan seleksi perangkat desa. Oleh karena itu, saya berharap kepala desa Fae bisa kembali ke rel Perbup Nomor 38 Tahun 2018,” lanjud dia, hasil perekrutan seleksi perangkat desa sangat bertentangan dengan Perbup, sehingga komisi I DPRD TTS, harus merekomendasikan agar seleksi dibatalkan dan serahkan dan silahkan kembalikan ke tingkat desa untuk menetukan perangkat sesuai perengkingan. jelas Yudi.

Sekertaris I DPRD TTS, Lusianus Tusalakh, mengatakan bahwa, Laporan perekrutan perangkat desa yang masuk ke komisi I berjumlah 134 desa, sehingga komisi I akan merekomendasikan agar RDP dengan bupati TTS untuk mempertanggung jawabkan persoalan yang terjadi saat perekrutan perangkat desa. jelas Lusi.

Sementara itu, Kepala Desa Fae, Yustus Ati yang dihubungi melalui sambungan telepon, mengatakan bahwa, “nama-nama yang mau dilantik itu adalah rekomendasi dari camat amanatun selatan, jadi silahkanntanya pak camat. terang dia.
sementara Camat amanatun selatan yang dihubungi melalui pesan WhatsApp belum menjawab hingga berita ini diturunkan..


Reporter:  Yor T


Komentar