Beranda Nasional Antisipasi Krisi Pangan Global, Bupati Belu Pantau Lahan Pertanian  

Antisipasi Krisi Pangan Global, Bupati Belu Pantau Lahan Pertanian  

258
0

Bupati Belu Willybrodus Lay didampingi Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Belu Gerardus Mbulu mengikuti rapat Video Conference (Vicon) bersama Menteri Pertanian (Mentan) Republik Indonesia Syahrul Yasin Limpo di Ruang Rapat Bupati Belu, Selasa (12/05/2020).

Rapat tersebut guna membahas Gerakan Percepatan Tanam dalam rangka mengantisipasi krisis pangan global yang disebabkan kekeringan dan Pandemi Covid-19.

Rapat Vicon ini diikuti 227 peserta dari seluruh propinsi dan kabupaten/kota yang terdiri dari para gubernur dan bupati/walikota bersama para kepala dinas pertanian se-Indonesia.

Kegiatan Gerakan Percepatan Tanam ini sudah disusun dan disebarkan dalam bentuk panduan percepatan tanam dengan strategi menggerakkan seluruh sarana dan prasarana produksi alat musim pertanian pada wilayah-wilayah kawasan anggaran, kawasan utama maupun kawasan pertimbangan dengan memperhatikan kondisi agrosistem dan memantau secara rutin kondisi iklim dari data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) untuk melakukan percepatan tanam.

Dalam arahannya, Mentan Yasin mengatakan, persiapan pangan sebagai solusi Covid-19 dan untuk negara Indonesia saat ini harus lebih keras, lebih terpadu dan lebih bergotong royong dengan semua pihak. Ini dimaksudkan agar ketersediaan makanan untuk rakyat harus lebih baik.

“Saya mengharapkan semua gubernur dan bupati bahu-membahu menghadapi tantangan yang cukup berat di tahun ini untuk mempersiapkan pangan kita baik padi maupun jagung dan lainnya. Karena selain Covid-19 dan dengan segala dampaknya yang mengglobal tidak ada dunia dan akselerasi dunia yang tidak terimbas dengan covid-19”, pinta Mentan RI.

Dijelaskan, dalam beberapa waktu ke depan, masyarakat Indonesia akan menghadapi musim kekeringan dan kemarau panjang. Hal ini berdasarkan prediksi dari WHO dan BMKG. Sesuai prediksi tersebut, WHO menggambarkan bahwa sesudah Covid-19 akan terjadi krisis pangan di dunia.

“Untuk menghadapi krisis pangan dunia, kita harus bekerja lebih giat lagi, lebih tepat lagi, sehingga kita lebih optimis krisis pangan tidak terjadi di negara kita”, harap Mentan Yasin.

Mantan Gubernur Sulawesi Selatan ini lebih jauh mengajak para gubernur dan bupati/walikota se-Indonesia untuk melakukan gerakan penanaman lebih cepat sebelum musim kekeringan dan kemarau panjang pada akhir Juli 2020 mendatang. Karena itu, Mentan Yasin mengajak masyarakat Indonesia melakukan percepatan tanam secara maksimal selama Mei ini.

“Saya berharap para gubernur dan bupati menyiapkan lahan-lahan yang ada, dan yang sudah melakukan panen untuk segera mempersiapkan tanam kembali, jangan menunggu. Sehingga, masyarakat bisa mengejar hujan yang tersisa di Mei dan Juni ini. Jika persiapan lahan sudah dilakukan, langkah selanjutnya percepat momentum penyaluran segala sarana dan prasarana yang memungkinkan untuk mendukung, atau penyaluran sarana produksi yang intinya ada bibit, pupuk dan obat-obatan. Ini perlu kerjasama yang intens dari kita semua,‘’ harap Mentan Yasin.

Dalam rapat tersebut, Gubernur NTT, Viktor B. Laiskodat mengatakan bahwa NTT terdapat banyak sekali tanah atau lahan yang berbatu. Karena itu, tahun ini, dirinya sangat diharapkan adanya bantuan Kementan berupa alat-alat berat seperti traktor 50 unit, excavator 50 unit dan benih jagung 80 ton.

Selaras dengan hal tersebut, Bupati Belu Willybrodus Lay menambahkan, saat ini Kabupaten Belu mengalami kekeringan. Sehingga, Pemerintah Kabupaten Belu sangat membutuhkan bantuan Pemerintah Pusat berupa pembangunan embung, pengadaan pupuk dan obat-obatan.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten BeluGerardus Mbulu seusai kegiatan vicon mengatakan, sampai saat ini Kabupaten Belu belum melakukan pencanangan Gerakan Percepatan Tanam karena kesulitan air.

“Kami telah menyiapkan lahan namun dengan kondisi kemarau seperti saat ini tidak bisa ditanam, sehingga harus disiram terlebih dahulu,” ujarnya.

Untuk daerah-daerah yang ada air terutama bendung dan embung, pihak dinas akan mendorong masyarakat untuk melakukan tanaman hosti. Sebab, tanaman hosti tidak terlalu banyak membutuhkan air. “Dalam waktu 1 atau 2 bulan kita sudah bisa mendapatkan hasilnya,” tutur Kadis Gerardus.

Dalam rangka menindaklanjuti hasil rapat tersebut, Sehari setelah rapat bersama Mentan, Bupati Willy Lay langsung terjun ke lapangan untuk memantau lahan pertanian di Desa Manleten, Kecamatan Tasifeto Timur, Rabu (13/5/2020). Bupati ingin memastikan persiapan lahan yang sementara diolah menggunakan alat teknologi pertanian serta memastikan jenis tanaman yang bakal ditanam di areal seluas 30 hektare tersebut.

Saat tiba di lokasi, Bupati Willy Lay yang didampingi Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Belu, Gerardus Mbulu meninjau lahan pertanian dari ujung ke ujung. Dari ekspresinya, Bupati Willy Lay tampak senang karena lahan seluas 30 hektare sudah diolah dan dalam waktu dekat lahan tersebut siap dipakai.

Bupati Willy Lay meminta kepala dinas pertanian agar serius mengolah lahan tersebut sehingga hasilnya dapat dimanfaatkan demi kesejahteraan hidup masyarakat.

Kadis Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Belu, Gerardus Mbulu kepada wartawan mengatakan, lahan yang diolah tersebut merupakan tanah suku seluas 30 hektare. Setelah diolah, lahan tersebut digarap oleh 30 kepala keluarga yang adalah warga suku.

Sesuai rencana, lahan seluas 30 hektare ini akan ditanami tanaman ekonomis umur pendek dan umur panjang, seperti jagung, kopi serta tanaman holtikultura lainnya demi menunjang kesejahteraan keluarga.

Kegiatan penanaman akan dilakukan di minggu ketiga bulan Mei 2020, mengingat hujan masih turun.

Memasuki musim kemarau, petani melakukan penyiraman menggunakan alat teknologi pertanian yang disiapkan pemerintah.

“Tempat ini akan dibantu penyiraman oleh alat horse. Jadi penyemprotan di musim kemarau ini kita menggunakan alat ini,” ungkapnya.

Gerardus menambahkan, untuk daerah-daerah yang persediaan air cukup terutama bendung dan embung, pemerintah mendorong petani menanam tanaman hortikultura karena tanaman dimaksud tidak terlalu banyak membutuhkan air dan dalam waktu satu atau dua bulan sudah bisa panen.


Reporter: Ricky Anyan


Komentar