Beranda Kesehatan Berharap Pada Sang Khalik

Berharap Pada Sang Khalik

3065
0

Belu, Flobamora-news.com – Di Dapur itu… terbaring lesu seorang anak manusia yang sudah tiga tahun berjuang melawan sakit mematikan. Malaikat pencabut nyawa seakan akrab dengan dirinya. Namun dia tak pernah pasrah dengan keadaan. Doa seakan tak ada habisnya ia lantunkan kepada Sang Khalik yang empunya hidup. Baginya, hanya Tuhan yang bisa mencabut nyawanya.

Hendrikus Nahak namanya. Sejak 2017 lalu dirinya divonis dokter mengidap penyakit kusta. Tak ada rasa kawatir dalam dirinya. Dia yakin akan pulih seperti sedia kala.

Ketika datang mengikuti pemakaman ibunya pada bulan Mei 2017 silam, Hendrik, begitu biasa ia disapa, sudah tidak bisa lagi menggunakan sepatu karena bengkak pada kedua kakinya.

“Saya pikir dia kena sakit kaki gajah, tapi ternyata tidak,” kenang sang kakak, Maria Goreti Nahak.

Usai mengebumikan sang ibunda tercinta, pria berusia 28 tahun itu memaksakan diri untuk kembali ke Kota Surabaya, tempat dia mencari hidup. Alasannya jelas, dia ingin pulang dan kembali bekerja di PT. Padma Tirta Aqua sembari mengobati sakit yang menggerogoti tubuhnya. Selain itu, dia harus pulang bekerja untuk bisa mengembalikan uang yang dia pinjam dari teman kerjanya saat datang mengikuti pemakaman sang ibunda.

Namun, takdir berkata lain. Sebulan setelah kembali ke Kota Pahlawan, kondisi tubuhnya semakin melemah. Ia bahkan sering tak masuk kerja. Hari ke hari, kondisinya semakin memburuk. Kondisi keuangan pun semakin menipis. Hendrik pun akhirnya meminta kepada kakaknya untuk mengirimkan uang tiket agar dia bisa kembali ke kampung halaman.

Di rumah tempat kelahirannya – di RT 14, Dusun Klitin, Desa Fatuketi, Kecamatan Kakulukmesak, Kabupaten Belu, Perbatasan RI-RDTL, Hendrik merasa bahagia. Dalam keadaan sakit, masih ada saudari yang bisa mengurus semua keperluannya.

Suatu ketika, kondisinya semakin memburuk. Goreti pun membawa adiknya menuju Puskesmas Ainiba yang tak jauh dari rumahnya. Di Puskesmas ini, Hendrik divonis mengidap Penyakit AIDS. Hendrik tak percaya akan vonis itu. Namun, suka tak suka, Hendrik harus mengikuti anjuran dokter.

Karena penyakit menular yang diidapnya, Hendrik pun akhirnya diminta sang kakak untuk tidur di dapur. Hendrik setuju dengan keputusan itu.

Dinding dapur itu terbuat dari ranting pohon lontar yang beratapkan daun pohon lontar. Plafon dapurnya pun terbuat dari anyaman lontar. Di dapur itu, Hendrik hanya terbaring lemas. Tubuh kurus kering itu kini tak mampu lagi berjalan. Sesekali dia ditopang sang kakak untuk sekedar duduk. Kedua tangannya pun sudah kaku. Beberapa jemari kakinya pun sudah lepas dari tubuh akibat kusta. Sesekali suaranya lengking memanggil sang kakak tatkala dia membutuhkan sesuatu, entah makan, entah minum, atau apapun itu. Kondisinya sangat memprihatinkan.

Pria lulusan Sarjana Perikanan Universitas Hang Tuah Surabaya itu beberapa kali dilarikan ke rumah sakit. Tak hanya itu, berbagai upaya pengobatan tradisional pun sudah dilakukan. Akan tetapi, kondisi Hendrik kian memburuk.

***

Sore belum usai, malam belum lagi temaram. Beberapa anggota TNI angkatan Pegasus 3105-02 yang bertugas di Kabupaten Belu didampingi sang istri berarak menuju rumah Hendrik tanpa tahun pasti alamat rumahnya. Beberapa kali mereka berhenti dan menanyakan kepada warga Desa Fatuketi.

Ketika tiba di alamat yang mereka tuju, mereka langsung menuju ke tempat Hendrik berbaring. Mereka datang dengan membawa serta bantuan hasil donasi yang mereka kumpulkan dari teman-teman se-angkatan Pegasus 3105-02. Selain menyerahkan bantuan, mereka juga memberikan penguatan kepada Hendrik dalam perang melawan sakit yang sedang dialaminya.

Mereka mengaku mendapat informasi tentang Hendrik dari salah satu akun Youtube, Angler Gondes dengan judul “Saudara kita di NTT membutuhkan bantuan kita”. Dalam tayangan Video berdurasi 4.19 menit itu, Hendrik mengungkapkan penderitaan yang dialaminya selama ini. Selain itu, Hendrik juga mengungkapkan keinginannya untuk bertemu Presiden Joko Widodo dan pengacara ternama Hotman Paris. Link Youtube ini pun di-share ke berbagai grup Facebook dan mendapat respon dari para netizen.

Selain itu, mereka juga mendapat informasi lain dari salah satu akun John Yohanis yang membuka donasi bagi Hendrik di kitabisa.com. Donasi yang dibuat pada tanggal 28 Mei 2020 lalu itu pun sudah berhasil mengumpulkan Rp 10.859.256 dari 94 donasi. Atas informasi itulah, para anggota Pegasus 3105-02 datang memberikan bantuannya. Mereka berharap agar Pemerintah Daerah Belu dapat membantu Hendrik dalam masa pengobatannya.

***

Hendrik saat ini menggantungkan hidupnya pada Sang kakak yang hanya bekerja sebagai tenaga sukarela di Puskesmas Ainiba. Terkadang Hendrik mulai putus asa dengan sakit yang diderita membuat dirinya hanya berpasrah diri pada Sang Khalik. “Kalau mau mati, saya sudah pasrah. Kenapa Tuhan tidak ambil saya secepatnya?” keluh Hendrik kepada kakak.

Akan tetapi, rasa cinta dan sayang yang begitu besar kepada Sang kakak membuat Hendrik tetap optimis dalam melawan sakit yang dialaminya. “Dia sering bicara ke saya begini, ‘Kakak, saya masih mau hidup. Saya masih mau kita sama-sama’, itu yang bikin saya sedih,” tutur Goreti sembari meneteskan air mata.


Reporter: Ricky Anyan


Komentar