Beranda Hukum & Kriminal Berikut Curahan Hati Felix Melalui Akun Facebooknya

Berikut Curahan Hati Felix Melalui Akun Facebooknya

208
0

KUPANG, Flobamora-news.com –  Adanya laporan tentang pengrusakan dari komunitas Pastoran SMK Bitauni, Paroki Kiupukan, Keuskupan Atambua akhirnya Sastrawan Indonesia dan Pemenang Sayembara Novel DKJ 2018 asal NTT, Felix K. Nesi ditangkap pihak Kepolisian. Feliks ditangkap di kediamannya oleh Kepolisian Sektor Insana Kabupaten Timor Tengah Utara, Jumat (3/7/2020).

Ia dilaporkan karena melakukan pengrusakan di kompleks pastoran. Dikutip dari akun facebooknya, Felix melakukan hal itu lantaran kecewa terhadap pastor kepala sekolah SMK Bitauni.

Sebelumnya, sekitar bulan Januari 2020, Felix mengetahui informasi terkait pemindahan seorang Romo yang bermasalah dengan seorang perempuan di Paroki Tukuneno, Keuskupan Atambua. Romo yang bermasalah itu kemudian dipindahtugaskan di SMK Bitauni.

Hal itu diprotes Felix. Ia merasa takut jika romo tersebut kembali berulah di sekolah itu. Kepada pastor, Felix meminta agar pastor yang bermasalah itu segera dipindahkan ke tempat lain guna menjaga pelajar perempuan di sekolah itu.

Kepadanya, pastor kepala sekolah berjanji akan mengikuti permintaan Felix. Namun, janji pastor kepala sekolah itu ternyata tak ditepati.

Merasa telah dibohongi, Felix meluapkan kekecewaannya dengan merusaki kaca dan kursi di pastoran. Ia kemudian dilaporkan ke polisi dan ditahan.

Berikut curahan hati Felix melalui akun facebooknya :

Malam ini saya akan menginap di kantor polisi sektor Kecamatan Insana. Saya dilaporkan oleh komunitas Pastoran SMK Bitauni.

Pastoran SMK Bitauni terletak hanya sekitar 700 meter dari rumah saya. Dua adik saya, laki dan perempuan, tamat dari sana. Saat masih seminari-frater, setiap liburan saya tidur bangun makan di situ.

Kini, sekolah itu mempunyai lebih dari 100 siswi.  Tapi sekitar bulan Januari/Februari, Romo A pindah ke sana. Romo A adalah seorang pastor yang, saat itu, dipindahkan dari paroki Tukuneno karena bermasalah dengan perempuan. Ia berbuat salah kepada perempuan, dan tak perlu kita bahas detailnya.

Saat tahu bahwa sesudah bermasalah dengan perempuan di sebuah paroki, ia langsung dipindahkan saja ke sekolah menengah yang penuh dengan perempuan, saya datang ke SMK Bitauni. Dekat saja, kan. Saat itu saya bertemu dengan Romo Kepala Sekolah. Saya bilang, tolong, Romo Kepala, pindahkan kembali si Romo A dari sini.

Romo Kepala bilang: Felix, kamu harus bicara langsung dengan uskup. Kami bicara lama sekali. Seperti bapak dan anak. Di akhir pembicaraan, Romo Kepala bilang, ya, SK Romo A ini hanya sementara, hanya untuk satu atau dua bulan. Sesudah itu, ia akan pindah lagi. Ini istilahnya hanya penyegaran.

Memegang kalimatnya yang terakhir ini, satu bulan kemudian, saya datang ke sekolah itu lagi. Sekitar bulan Maret/April, ya. Pohon-pohon angsana hijau, pohon mangga berbunga.

Saya ke sana tepat saat makan malam. Saya monolog di depan romo-romo, di depan Mgr. Pain Ratu, berbicara tentang kekecewaan saya. Di situ juga ada Romo A, saya bilang: Romo, tolong,  pindahlah dari sini, carilah tempat sepi untuk berefleksi, untuk menentukan pilihan-pilihan, sebelum berkarya kembali.

Pembicaraan panjang yang menurut saya penuh dalih dan kelit membuat saya sempat emosi juga. Saya kejar kembali Romo Kepala dengan pernyataannya, bahwa SK Romo A itu hanya sementara. Apakah Romo berbohong? Saya bertanya.

Romo Kepala spontan bilang: “Saya tidak pernah berbohong, ingat itu!” Saya kira ia juga mulai marah ketika dibilang berbohong. Maka saya kembali memegang kata-katanya. Ia seorang pekerja keras, saya menghormati kerja-kerjanya di sekolah itu — mengubah sekolah yang dulu hanya hutan menjadi lebih baik. Maka saya menunggu. Mungkin, pikir saya, bulan depan sudah akan pindah.

Namun malam tadi, 3 Juli 2020, sekitar pukul delapan malam, saya ke sana lagi. Penjaga sekolah bilang: Romo A masih ada, kok.

Saya kecewa sekali. Di novel saya, Orang-Orang Oetimu, saya menulis tentang pastor yang sukanya melindungi kebusukan pastor lain. Apakah saya baru saja melihatnya di dunia nyata ini? Saat menggarap novel, saya pernah mewawancarai seorang bapak yang mengasingkan anak perempuannya ke kampung sesudah anak tunggalnya itu dihamili seorang pastor — pastor itu tetap di kota, anaknya yang ‘disembunyikan’. Bapak itu menangis sambil bercerita.

Antara putus asa dan terluka, tetapi tetap mengasihi anak perempuan (dan cucu)-nya. Hanya ia yang menangis, tetapi kami sama-sama terluka.

Saya kecewa juga pada keuskupan yang hanya memindah-mindahkan saja pastor bermasalah. Dari paroki yang penuh cewek OMK, ke sekolah yang penuh siswi. Tanpa memikirkan pentingnya hari-hari sepi untuk refleksi bagi pastor yang kekosongan hatinya hanya bisa diisi oleh afeksi perempuan — pastor yang tidak cukup dihibur oleh badminton, atau sepakbola, atau anak-anak babi di kandang.

Saya kecewa. Saya emosi. Di tangan saya ada helm. Di depan saya ada kaca jendela. Maka saya hantam kaca-kaca jendela pastoran dengan helm. Helm INK sungguh kuat, kaca-kaca hancur berantakan. Saya pegang kursi-kursi plastik di teras rumah pastoran dan saya banting sampai hancur. Saya pulang ke rumah. Seperti yang sudah saya duga, komunitas Pastoran SMK Bitauni melaporkan saya ke Polsek Insana karena merusak kaca jendela dan kursi-kursi. Tak sampai satu jam kemudian, saya dijemput polisi.

Terima kasih Romo Kepala. Terima kasih Romo A. Terima kasih semua pastor di keuskupan Atambua dan di manapun juga di dunia ini. Malam ini saya akan menginap di kantor polisi. Kita sama-sama pendosa, tak ada yang paling benar. Tapi jika kalian, institusi Gereja, sangat sangat lambat (atau hampir tidak pernah?) dalam mengurusi pastor bermasalah, tetapi sangat cepat dalam mempolisikan orang-orang yang marah, maka kita akan selalu bertemu.


Reporter: DT/OK


Komentar