Beranda Hukum & Kriminal Bertindak Arogan Seorang Pengusaha Ditetapkan Jadi Tersangka Pengrusakan

Bertindak Arogan Seorang Pengusaha Ditetapkan Jadi Tersangka Pengrusakan

354
0

Foto : Kabid Humas Polda NTT, Kombes Pol. Johannes Bangun

KUPANG, Flobamora-news.com -Akibat bertindak Arogan Charles Pitoby, pengusaha di Kota Kupang ditetapkan jadi tersangka oleh Polda NTT dalam kasus pengrusakan pagar milik keluarga Anggrek di Kelurahan Penkase Oeleta, Kecamatan Alak, Kota Kupang.

Pasalnya Charles ditetapkan sebagai tersangka setelah melalui proses penyidikan. Penetapan tersangka itu setelah polisi menerima laporan dari keluarga Anggrek dengan nomor laporan:LP/B/339/IX/RES.1.10/2019/SPKT tertanggal 23 September 2019.

Kabid Humas Polda NTT, Kombes Pol. Johannes Bangun mengatakan, setelah menerima laporan korban, penyidik langsung melakukan pemeriksaan. Dari hasil pemeriksaan penyidik dan gelar perkara, Ditreskrimum menetapkan Charles sebagai tersangka pada tgl 11 Desember 2019.

“Kita sudah layangkan surat pemanggilan untuk di periksa sebagai tersangka pada tanggal 17 Desember 2019, namun tersangka belum bisa memenuhi panggilan penyidik dan minta ditunda,” ujarnya kepada wartawan, Selasa (7/1/2019).

“Jika tidak hadir maka akan dilkukan pemanggilan kedua. Tersangka pasti ada etikat baik untuk menghadap namun masih berhalangan,” sambungnya.

Ia mengatakan, kasus tersebut berawal pada tanggal 6-13 September 2019, tersangka melakukan penebangan pohon dan merusaki pagar milik pelapor di atas lahan seluas 2.962 meter pesegi itu.

Informasi yang dihimpun dari salah satu anggota keluarga Anggrek yang tidak ingin namanya disebutkan, mengaku sejak kejadian pengrusakan, keluarga Anggrek langsung membuat surat somasi kepada Charles Pitoby untuk memperbaiki namun yang bersangkutan tidak ada etikat baik untuk memperbaiki.

Merasa somasinya diabaikan, keluarga Anggrek akhirnya melaporkan ke Polda NTT. Pengrusakan tersebut, kata dia, dilakukan dengan alasan tanah tersebut milik tersangka dan masuk dalam objek perkara yang dibelinya sejak tahun 1993.

“Dia selama ini berupaya secara hukum untuk menguasai tanah tersebut namun tidak berhasil. Tanah kami itu berbatasan dengan tanah sengketa bukan masuk dalam objek sengketa,” jelas sumber itu.

Tanah sengketa yang dibeli tersangka, bagian baratnya berbatasan langsung dengan tanah keluarga Anggrek, dimana sertifikat Hak Milik Nomor 379 tahun 1989 tertulis jelas berbatasan dengan tanah sengketa antara Urbanus Lain melawan Teofilus Lalus.

Karena upaya melalui jalur hukum untuk menguasai tanah keluarga Anggrek tidak berhasil, tersangka kemudian bertindak melawan hukum dengan cara masuk dan melakukan pengrusakan dengan menebang pohon, mendroping material dan membongkar pagar serta menggali tanah untuk dibuatkan pagar tembok.

“Anehnya selama ini tersangka sdh beberapa kali berupaya secara hukum melalui Pengadilan untuk minta tanah kami dieksekusi dan Laporan ke Polda bahwa kami menyerobot tanahnya, namun pada saat turun ke lokasi pihak Badan Pertanahan Kota Kupang menyatakan bahwa tanah kami tidak masuk dalam obyek tanah yang berperkara. Tanah kami bukan dibeli dari pihak yang berperkara, juga telah bersertifikat pada tahun 1989 sebelum perkara pada tahun1992,” jelasnya.


Reporter: Dian


Komentar