Beranda Ekonomi Bisnis BPS NTT: Kemiskinan Dipandang Sebagai Ketidakmampuan dari Sisi Ekonomi

BPS NTT: Kemiskinan Dipandang Sebagai Ketidakmampuan dari Sisi Ekonomi

408
0

KUPANG, Flobamora-news.com –Untuk mengukur kemiskinan, Badan Pusat Statistik menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar atau basic needs approach. Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan.
Persentase penduduk miskin di NTT pada bulan September 2019 sebesar 20,62% menurun 0,47% poin terhadap bulan Maret 2019.

Hal ini disampaikan oleh Kepala Badan Pusat Statistik NTT Darwis Sitorus, saat melakukan jumpa perss, Rabu (15/1/2020).

Menurut Darwis Jumlah penduduk miskin pada bulan September 2019 sebanyak 1.129,46 ribu orang menurun 16,86 ribu orang terhadap bulan Maret 2019 dan menurun 4,65 ribu orang terhadap bulan September 2018, jelas Darwis.

“Secara rata-rata, rumah tangga miskin di Provinsi NTT pada September 2019 memiliki 5,81 orang anggota rumah tangga.
Berdasarkan daerah tempat tinggal, pada bulan Maret- September 2019, jumlah penduduk miskin baik di daerah perkotaan maupun di pedesaan masing-masing turun sebesar 5,5 ribu orang dan 11,4 ribu orang”, kata Darwis

Lanjut Darwis, garis kemiskinan pada September 2019 adalah sebesar Rp 383.762,-/kapita/bulan, dibandingkan September 2018, garis kemiskinan naik 6,58%, sementara jika dibandingkan Maret 2018, terjadi kenaikan sebesar 2,63%. Garis kemiskinan terdiri dari dua komponen yaitu garis kemiskinan makanan (GKM) dan garis kemiskinan bukan makanan (GKBM).

Nilai tukar petani pada September 2019 yang meningkat sebesar 0,60%. Inflasi umum yang cukup tinggi selama periode Maret-September 2019 sebesar 0,03%. Sedangkan bahan makanan yang merupakan kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi indeks harga terbesar yaitu -1,98%.

“Deflasi di wilayah pedesaan yang dicerminkan dari perubahan indeks konsumsi rumah tangga pada September 2019 sebesar -0,15%. Pertumbuhan ekonomi NTT triwulan III-2019 dibanding triwulan II-2019 sebesar 2,59%. Rata-rata pengeluaran perkapita perbulan untuk penduduk yang berada di 40% lapisan terbawah selama periode Maret-September 2019 tumbuh 5,79%. Ini merupakan beberapa faktor yang berpengaruh terhadap tingkat kemiskinan selama bulan Maret-September 2019”, jelas Darwis.


Reporter: Sisca De Sousa


Komentar