Beranda Opini Cerita Tentang Semester Akhir

Cerita Tentang Semester Akhir

228
0

Flobamora-news.com – Mahasiswa semester akhir dikenal dengan orang yang super sibuk. Setiap harinya dihadapkan dengan buku, laptop dan juga refisian yang selalu dicoret-caret dengan tinta merah. Bukan sombong atau pun egois, ketika pacar mu dalam posisi semester akhir, memang hari-harinya memikul beban yang berat. Jangankan memikul tas yang banyak dengan kertas yg dinodai tinta hitam, apa lagi memikirkan kamu. Memang sungguh sangat rumit untuk dijelaskan, semuanya hanya waktu yang tahu.

Suatu hari, sebut saja namanya Nabas (mahasiswa semester akhir), dengan penuh banyak refisian di otak berjalan menuju kampus seperti orang yg baru keluar dari Renceng Mose, mulutnya komat-kamit dan tangannya goyang-goyang seperti orang yang gangguan jiwa.

Secara tidak sengaja dan tanpa ada janjian, dia bertemu dengan pujaan hatinya yg baru injak semester V. Dengan suara yang lembut, dia menyapa Nabas yg lagi komat-kamit tidak jelas, “Hay kaks”. Secara tidak sadar atau hilang kosentrasi, mungkin saja karena terlalu banyak pengetahuan di otak atau karena memikirkan refisian yg numpuk, Nabas pun langsung menjawab, “Iya bu”. Sambil mengangkat kepalanya. Ternyata itu bukan ibu Pembimbing tulisannya. Sedikit senyum lempar dari bibir manis Anas (pacar Nabas), lalu dengan rasa kurang percaya diri dan agak malu, Nabas pun membalas senyum Anas dengan tidak jelas seperti orang terkena strom listrik, sembari menyapa, “Maaf, sya pikir kamu tadi pemilik tangan bertinta merah”. Dengan penuh kebahagian atas rindu yang terobati dari si Anas, dia pun menyambar, “tidak apa-apa kaka, santai saja”.

Setelah pertemuan itu menjadi obat rindu dari keduanya, ditemani dengan basa-basi yang tidak jelas dari Nabas, iya pun ingin mengajak Anas untuk menikmati segelas kopi di kantin, namanya saja Kantin D’Lucas. Akhirnya mereka beranjak dari tempat itu menuju kantin, dengan langkah Anas yg sedikit kaku karena malu pada kekasihnya.

Aroma kopi hitam serta gorengan dari kantin membuat Nabas tak sabar untuk menikmatinya karena kebetulan lambung lagi naik. Memasuki pintu kantin, puluhan mata memandang ke arah mereka berdua yang hendak memesan minuman dan gorengan.

Malu sih iya, tapi mau bagaimana lagi. Setelah memesan pesanan, meraka langsung mengambil posisi duduk di bagian pojok kantin sebelah kiri. Takut ada yang dengar curhat tentang hubungan mereka.

Penantian yang lumayan panjang, sembari menunggu pesanan, Nabas mulai membuka pembicaraannya deng menatap kedua bola mata Anas yang seakan dunianya separuh milik Anas. “Kamu apa kabar?”, kata Nabas sembari mengotak-atik Handphone-nya untuk menghilangkan rasa gerogi karena baru ketemu lagi dengan bidadari bersenyum manis. Anas pun menjawab dengan nada yang agak halus,”Puji Tuhan kaka, aku baik-baik saja. Btw, bagaimana dengan tulisannya kaka, kapan ujian?”. Hehehe, sedikit bahasa gaul Anas menjawabnya, maklum saja anak zaman now.

Dag-dig-dug jantung Nabas mendengar pertanyaan itu, baginya itu juga merupakan sebuah beban, sementara hari-hari Nabas dipenuhi dengan refisian, tambah lagi muncul pertanyaan itu. Ternyata, pertanyaan, “kapan ujian” bisa membuat tambah beban bagi pejuang toga. Dia pun hanya bisa menjawab, “Nanti tunggu ujian baru aku kasih tahu kamu, sekarang aku masih dalam masa hiruk-pikuk”. Sementara mereka asik ngobrol, pelayan kantin datang menghampiri dengan menyuguhkan pesanannya. Setelah aroma kopi menembus ciuman meraka, tak sabar Nabas langsung menikmati minumannya, tanpa sadar iya lupa mengajak kekasihnya si Anas untuk menikmati bersama. Agak halus, Anas berkata sambil melempar senyum, “Ayo kaka, minum sudah”.

Melihat bibir si Anas menyentuh mulut gelas, dengan polesan sedikit lipstik merah maron, ingin rasanya Nabas akan berubah menjadi gelas kaca yang dimiliki Anas. Dalam hati dia berkata, “betapa beruntungnya menjadi gelas, dia sudah merasakan berbagai macam bibir, termasuk bibir kekasih ku juga”.

Kopi memang enak ketika dinikmati dengan sebatang Surya 12, Nabas pun mengambil rokok dari dalam kantong bajunya, lalu menghisap rokok itu sambil melihat kedua bola mata Anas. Surganya dunia memang sudah menjadi milik Nabas. Sembari menikmati kopi, mereka terus berbincang tentang hubungan mereka yang mungkin saja beberapa bulan terakhir agak renggang atau jarang komunikasi. Intinya saja bahwa bagi Nabas, rindu Anas tak seberat bebeban tulisannya. Sampai akhirnya mereka beranjak dari tempat duduk dan Nabas pun melanjutkan misinya.

Sampai di ruangan Dosen pembimbing, Nabas pun kembali dipulangkan ke kos dengan refisian. Memang sudah menjadi nasibnya untuk terus berjuang tanpa kenal rintangan.

Sesampainya di kos, Nabas membuka HPnya lalu menghidupkan data seluler untuk membuka Aplikasi Facebook. Sekali pun itu hanya mode gratis, tapi sudah terlanjur nyaman bagi dia. Intinya bisa online 24 jam. Dan juga ingin memberi kabar dengan sang pujaan hatinya.


Reporter: Dion Damba


Komentar