Beranda Kesehatan Dengan Berlinang Air Mata Andrias Faot Datangi DPRD TTS

Dengan Berlinang Air Mata Andrias Faot Datangi DPRD TTS

674
0

SOE, Flobamora-news.com – Sudah menjalani 14 hari karantina namun tidak ada perhatian pemerintah terhadap warga Desa Noemeto Kecamatan Kota Soe Anderias Faot dan keluarganya hingga mereka mengalami kelaparan. Hal ini membuat Aderias Faot mendatangi kantor DPRD kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) provinsi NTT untuk melaporkan kejadian tersebut.

Menurut Andreas bahwa kami sekeluarga menjalani isolasi mandiri karena anak saya divonis terpapar covid-19 dan kami sekeluarga menjalani kontak langsung dengan anak saya (SF). Selama di karantina dari tanggal (27/7-9/8) belum ada perhatian dai Perintah Daerah (Pemda) berupa makan minum dan obat-obatan maupun vitamin. Aderias Faot di terima oleh wakil ketua I, di gedung DPRD TTS pada, Senin (9/8/2021).

Sambil meneteskan air mata, Anderias Faot, menjelaskan bahwa, anak saya yang divonis oleh dokter positif covid-19, dan karena kami lima orang dalam rumah telah kontak erat dengan SF, maka kami harus melakukan isolasi mandiri, Namun selama kami menjalani isolasi mandiri, kami tidak mendapat perhatian dari pemerintah berupa makan minum dan obat-obatan. sementara kami dilarang keluar rumah, namun tidak di beri bantuan makan minum, serta saya juga tidak bisa diijinkan untuk berjualan sayur serta barang bekas. Dari mana kami bisa mendapatkan uang untuk beli makanan, dan jika kami terus di karantina maka kami akan mati karena kelaparan bukan karena corona.

Berkaitan dengan laporan Anderias Faot Wakil ketua I DPRD, Religius Usfunan,S.H, mengatakan bahwa, sebagai wakil rakyat, saya sangat mendukung kebijakan pemerintah dengan menerapkan PPKM, dan tidakan penanganan dan pencegahan penularan covid-19. Dan yang harus diperhatikan oleh pemerintah adalah jika masyarakat yang dikarantina perlu diperhatikan kesejahtrahan mereka, seperti makan minum. sehingga mereka bukan mati karena corona, tapi mati karena kelaparan.

“jika masyarakat dikarantina lalu ia mati bukan karena corona tapi karena kelaparan hal ini sangat menyedihkan. Pemerintah harus memperhatikan kesejahtrahan mereka. Masa orang disuruh untuk berdiam diri dirumah, tetapi tidak diberi makan minum, sehingga bisa saja orang itu mati bukan karena corona tapi mati karena kelaparan. Sedangkan sudah penetapan anggaran untuk covid-19. Untuk penanganan kesehatan 58,3 miliar, sedangkan untuk perlindungan sosial dan pemulihan ekonomi masyarakat yang terdampak covid-19 sebesar 58,3 miliar. Jadi orang-orang yang melakukan isolasi mandiri perlu diperhatikan kesejahtrahan mereka menggunakan dana perlindungan sosial dan pemulihan ekonomi masyarakat yang terdampak covid, yang sebesar 58,3 miliar dan bukan dana tersebut di simpan direkening dan tidak dimanfaatkan, sehingga saya minta agar pemerintah segera mencairkan dana tersebut untuk melayani masyarakat yang terdapak covid-19”, jelas Egi.

Sementara kepala desa Noemeto, Rison Taopan yang di konfirmasi oleh media ini di lokasi pembagian dana BLT mengatakan bahwa, jujur saya mau sampaikan bahwa, saya selaku kepala desa tidak pernah tau tim dari mana yang datang untuk menyuruh bapak Anderias Faot bersama keluarganya untuk melakukan isolasi mandiri selama 14. Saya bukannya gila hormat, namun paling tidak ada pemberitahuan kepada kami selaku pemerintah desa, bahwa orang warga saya atas nama ini telah terpapar covid-19, dengan menunjukan bukti hasil pemeriksaan, sehingga kami bisa memperhatikan kesejahtrahan mereka, serta saya bisa menghimbau kepada masyarakat yang lain agar tetap berwaspada. Lanjut dia, memang kami sama sekali tidak memberi bantuan apa pun pada bapak anderias dan keluarganya yang lagi melakukan isolasi mandiri, karena kami juga takut, sehingga kami sangat butuh informasi yang akurat dari dokter, atau tim gugus covid-19 di tingkat kabupaten. Jelas Rison.



    Reporter: YOR T


    Komentar