Beranda Wisata Budaya Destinasi Wisata Alam Berbahan Lokal Siap Diresmikan

Destinasi Wisata Alam Berbahan Lokal Siap Diresmikan

699
0

SOE, Flobamora-news.com – Sembilan unit bangunan destinasi alam Fatumnasi Desa Fatumnasi Kecamatan Fatumnasi Kabupaten TTS yang beratap alang-alang dan berdinding bambu siap untuk diresmikan oleh Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat. Sebab, sembilan unit bangunan berbalut bahan lokal yang terdiri dari empat unit lopo, empat unit kotis dan satu unit restoran yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas pelengkap progres fisik sudah 100 persen.

“Minggu (2/8) kemarin, tim dari Provinsi NTT datang periksa perkembangan fisik. Namun, masih ada sisa pekerjaan seperti pemasangan pipa pembuangan yang belum tetapi hari ini sudah diselesaikan,
”Kata pengelola wisata alam Fatumnasi, Matheos Anin dan kepala tukang Saul Solumodok dan sejumlah tukang lain yang diwawancarai VN secara terpisah di Fatumnasi, Selasa (4/8)”.

Bangunan wisata alam Fatumnasi yang menelan anggaran sebesar Rp 1.250 miliar menurut pengelolah yang juga ketua kelompok Matheos Anin beralasan keterlambatan itu karena saat peletakan batu pertama pas musim panas berkepanjangan sehingga kesulitan air setelah musim hujan tiba, di Fatumnasi diguyur hujan angin sehingga pekerjaan tidak bisa berjalan. Namun, kondisi fisik pekerjaan sudah 100 persen dan siap untuk resmikan.

Selain itu, kesulitan bahan lokal seperti alang-alang karena atap dari sembilan unit bangunan itu harus menggunakan alang-alang sesuai arahan Gubernur NTT. Karena wisata tersebut adalah destinasi wisata alam, maka bangunannya harus gunakan bahan lokal.

Matheos menjelaskan untuk melengkapi bahan lokal berupa alang-alang didatangkan dari Kabupaten TTU, Kupang, Belu dan sebagian dari TTS termasuk Batuputih dan Fatumnasi. Sebab, sistim pekerjaan swakelolah tetapi ada konsulatan pengawas dari Kupang Ony Tapatab sehingga kami sepakat untuk datangkan bahan lokal berupa alang-alang dari luar TTS.

“Ada tim dari Provinsi sudah datangi ke lokasi tersebut pada Minggu (4/8) untuk periksa fisik. Namun, kelompok Isu Faenman, sementara membersihkan areal wisata alam Fatumnasi,”ujarnya.

Matheos menjelaskan meski pekerjaan sudah mencapai 100 persen, namun masih ada anggaran senilai Rp 187 juta atau 15 persen dari total anggaran Rp 1.250 miliar belum dicairkan. Sistim pekerjaan swakelolah akan tetapi pihaknya juga butuh pihak ketiga untuk bahan non lokal. Jika sisa anggaran 15 persen dicairkan akan perhatikan pos-pos untuk biaya tukang sesuai RAB.

Sementara bahan non lokal dari Cahaya Agung atas kerja sama masyarakat lokal, pengelolah dan konsultan pengawas Oni Tapatab tidak ada tunggakan, tetapi RAB dipegang oleh konsultan pengawas, sehingga pencairan terakhir akan digunakan upah tukang sesuai RAB.

Terpisah kepala tukang Saul Solumodok, didampingi anggotanya, Ricen Anin, Monsen Taklale, Eliaser Bay, Martinus Olla, Soleman Nahas, Hermanus Kehi, Martinus Nana, Dominikus Obe, Timotius Kase ketika ditemui di bangunan lopo wisata alam Fatumnasi, menjelaskan pekerjaan sudah 100 persen dan siap untuk diresmikan.

Saul Solumodok mengaku pekerjaan baru dimulai tanggal 3 Desember 2019. Sesuai kontrak, pekerjaan terhitung Agustus tetapi karena cuaca sehingga 3 Desember baru dipanggil untuk kerja oleh pengelola Matheos Anin.

Bangunan wisata alam seperti restoran satu unit, Kotis penginapan empat unit dan lopo empat unit masing-maaing berukuran 6 x 6. Semua sudah selesai dikerjakan pada Juli 2020, lalu dan pada Minggu 2 Agustus ada tim dari Provinsi yang periksa dan kini siap untuk diresmikan.

“Kami sudah laporkan kepada tim dari Provinsi bahwa pekerjaan sudah selesai dikerjakan dan kami sudah serahkan kepada pemerintah untuk diresmikan. Soal waktu nanti urusan pemerintahan karena kami hanya pekerja,”tururnya.

Saul menuturkan bangunan empat unit Kotis dilengkapi dengan fasilitas pelengkap termasuk air panas dan air dingin. Akan tetapi sebagai tukang tidak tahu dengan upah tukang karena selama bekerja tidak diberitahu oleh pengelola Matheos Anin. Jika membutuhkan, dirinya hanya memberikan Rp 500.000 per orang dari 10 orang tukang.

“Rata-rata baru diberikan uang lima kali setiap kali ambil satu orang Rp 500.000 sehingga diperkirakan upah tukang sudah mencapai Rp 25.000.000,”ucapnya.

Meski demikian, Saul mengatakan dari 10 orang tukang tetap setia hingga tuntaskan pekerjaan tersebut dan sudah dilaporkan kepada tim pemeriksa dari Provinsi NTT bahwa pekerjaan tersebut sudah 100 persen dan siap diresmikan. jelas Saul.


Reporter: Yor T


Komentar