Beranda Ekonomi Bisnis Dituding Mencuri Maek Bako, Warga Tuntut PLH Sekda Belu Minta Maaf

Dituding Mencuri Maek Bako, Warga Tuntut PLH Sekda Belu Minta Maaf

1441
0

Belu, Flobamora-news.com – Dituding Mencuri Maek Bako oleh PLH Sekda Belu Marsel Mau Meta, para warga pun meminta PLH Sekda Belu untuk segera menyampaikan permohonan maaf melalui media Massa. Hal ini ditegaskan oleh para warga saat mendatangi kantor DPRD Kabupaten Belu pada, Senin (2/3/2020).

Masyarakat yang mendatangi Kantor DPRD Kabupaten Belu berjumlah empat orang. Mereka adalah Elvis Sousa, Josefa de Jesus, Elda Fraga Guteres, dan Jawia Eli. Kedatangan para warga ini pun diterima oleh Ketua Komisi I DPRD Belu, Theodorus Seran Tefa bersama para anggota Komisi I di Ruangan Wakil II DPRD Belu.

Kepada para Anggota DPRD Belu, para warga pun menyampaikan ketidakpuasan mereka tidingan PLH Sekda Belu Kepada para warga di Hutan Jati Nenuk, Desa Naekasa, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu.

“Kalau memang kami curi, apa buktinya? Kami sudah tanam Maek Bako ini sudah sejak tahun 2009, jauh sebelum ada program dari pemerintah,” Adu salah seorang warga, Yosefa de Jesus di hadapan para Anggota DPRD di ruangan Wakil II DPRD Belu.

Kepada para Wakil Rakyat, Yosefa bercerita bahwa dirinya bersama warga sekitar sudah mencari Maek Bako sejak tahun 2009 silam. Saat itu, mereka mencari kunyit di Hutan Jati Nenuk untuk ditimbang sembari mencari bibit Maek Bako untuk ditanam di pekarangan rumah tempat mereka tinggal.

“Kami sudah tahu lama bahwa Maek Bako ini bisa ditimbang dengan harga yang menggiurkan. Walau hanya Rp 12.000 per kilonya, tapi kan sudah bisa menambah pendapatan rumah tangga kami. Karena itu, kami sering cari kunyit dengan bibit Maek Bako di Hutan Jati. Kalau memang ada ma ak Bako yang besar, maka kami kumpulkan untuk timbang. Tapi kalau hanya dapat bibirnya saja, maka akan kami bawa untuk tanam di sekitar rumah kami,” kisahnya.

Berdasarkan cerita itu, maka Yosefa meminta kepada PLH Sekda Belu harus bisa mempertanggungjawabkan apa yang telah disampaikannya.

Elvis Sousa pada kesempatan tersebut juga menyampaikan beberapa tuntutan mereka kepada PLH Sekda Belu, Marsel Mau Meta. Dirinya mempertanyakan apa yang telah disampaikan PLH Sekda Belu mempunyai dasar atau tidak? Sebab, menurutnya, Warga Hutan Jati Nenuk sama sekali tidak pernah mencuri Maek Bako yang ditanam oleh Pemerintah Kabupaten Belu.

“Kita hanya mau klarifikasi, dalam keadaan sadar atau tidak sadar, bahasa yang dikeluarkan itu apa benar? Kami minta agar kalimat yang telah disampaikan oleh PLH Sekda Belu segera ditarik kembali karena kami warga di Hutan Jati Nenuk sama sekali tidak mencuri Maek Bako,” tegasnya.

Selain itu, Warga Hutan Jati Nenuk meminta kepada PLH Sekda Belu untuk segera membuat permohonan maaf melalui media massa atas apa yang telah diucapkannya.

“Kami minta agar PLH Sekda Belu segera membuat permohonan maaf melalui media massa atas apa yang telah diucapkannya itu,” tuturnya dengan nada tinggi.

Lebih lanjut dikatakannya bahwa karena apa yang disampaikan oleh PLH Sekda Belu itu dalam sebuah acara kunjungan Gubernur ke lahan Maek Bako milik Warga, walau bukan dalam sebuah wawancara resmi, maka para warga pun akan menyurati Gubernur NTT, Victor Bungtilu Laiskodat untuk menyampaikan bahwa apa yang disampaikan PLH Sekda Belu bahwa masyarakat mencuri Maek Bako itu sama sekali tidak memiliki alasan yang kuat dan sama sekali tidak dapat dipertanggungjawabkan.

“Kami akan bersifat kepada gubernur untuk menyampaikan bahwa kami warga hutan jati sama sekali tidak mencuri Maek Bako. Sebab, apa yang disampaikan PLH Sekda Belu sama sekali tidak memiliki dasar,” ucapnya.

Ketua komisi I DPRD Kabupaten Belu, Theodorus Seran Tefa yang menerima pengaduan tersebut memberikan atensi terhadap pengaduan tersebut. Karena itu, dirinya menjadwalkan pertemuan lanjutan pada Rabu (4/3/2020) nanti. Pada pertemuan lanjutan itu, direncanakan untuk menghadirkan PLH Sekda Belu guna mengklarifikasi kembali terkait tudingan PLH Sekda Belu terhadap para warga.

“Sebagai representasi dari masyarakat, maka apa yang menjadi keresahan masyarakat harus bisa kami selesaikan. Karena itu, pada hari Rabu (4/3/2020, red) nanti, kami akan mengundang PLH Sekda Belu untuk melakukan klarifikasi atas apa yang telah disampaikannya kepada masyarakat,” ungkap pria yang akrab disapa Theo Manek itu.

Sebelumnya diberitakan oleh media ini bahwa PLH Sekda Belu, Marsel Mau Meta menyebut masyarakat yang tinggal di sekitar Hutan Jati Nenuk, Desa Naekasa, Kecamatan Tasifeto Barat Kabupaten Belu mencuri Porang atau Maek Bako milik pemerintah Kabupaten Belu untuk ditanam di lahan milik warga.

Hal ini diungkapkan PLH Sekda Belu saat kunjungan Kerja Gubernur NTT, Viktor Laiskodat ke lahan porang milik warga di Hutan Jati, Nenuk pada Selasa (11/2/2020).

Pada kunjungan Kerja Gubernur NTT itu, Gubernur Viktor Laiskodat diajak mengunjungi lahan penanaman porang milik pemerintah Kabupaten Belu. Akan tetapi, dalam perjalanan, Rombongan Gubernur NTT diarahkan ke lahan Porang Milik warga.

Sesampai di lokasi kegiatan, salah seorang anggota Pena Batas RI-RDTL menuturkan bahwa lokasi kegiatan tersebut bukan milik pemerintah.

Saat itu, PLH Sekda Belu, Marsel Mau Meta langsung membantah dengan menyebut bahwa masyarakat pemilik lahan mencuri Porang yang telah ditanam pemerintah Kabupaten Belu. Apa yang disampaikan PLH Sekda Belu ini pun didengar oleh beberapa wartawan.

Pernyataan ini pun mendapat reaksi kontra dari masyarakat pemilik lahan. Pemilik lahan, Yosefa de Jesus yang ditemui awak media usai pertemuan tersebut membantah keras pernyataan PLH Sekda Belu itu. “Itu tidak Benar!”

Dijelaskan bahwa program pemerintah Kabupaten Belu baru dimulai sejak tahun 2017. Sedangkan masyarakat susah mulai menanam Maek Bako sejak tahun 2012.

Dikatakan, mereka mendapatkan Maek Bako dari hutan yang sudah tumbuh liar sejak tahun 2009. Saat itu, mereka mencari kunyit untuk ditimbang sembari mengumpulkan Maek Bako untuk ditanam di lahan hutan jati.

“Saat itu, kami tahu bahwa Maek Bako sudah ada harga, makanya kami cari untuk tanam di sini,” jelas mama Yosafat.

Dijelaskan bahwa memang saat ini mereka menanam di lokasi hutan lindung. Namun, karena mereka mendapat ijin dari pihak kehutanan dengan catatan tidak menebang pohon, maka mereka pun mulai menanam Maek Bako.

“Kami memang tanam di lahan milik pemerintah, tapi kami tidak curi Maek Bako milik pemerintah,” tegas Yosefa.

PLH Sekda Belu, Marsel Mau Meta ketika dikonfirmasi menuturkan bahwa maksud dari pernyataan tersebut bukan menuding masyarakat mencuri, tapi mengambil dari lokasi Porang yang ditanami pemerintah Kabupaten Belu di Hutan Jati Nenuk.

“Jangan bilang curi. Kasihan orang. Orang su (sudah, red) kerja setengah mati kita bilang curi lagi,” ujar PLH Sekda Belu.

Dijelaskan lebih lanjut bahwa masyarakat mungkin ingin membudidaya sendiri Maek Bako, sehingga mereka mengambil dari lahan yang sudah ditanam oleh Pemerintah Kabupaten Belu. Dengan begitu, masyarakat akan dengan mudah untuk memanen dan menjual Maek Bako.

“Kalau mereka ambil mungkin mereka butuh. Mereka mungkin ingin memiliki sendiri. Kalau mereka ingin rawat sendiri, mereka ambil tidak masalah to? Karena mereka pingin rawat sendiri, kemudian nanti mereka panen… panen sendiri, tidak usah tanya naik turun lagi to,” ujarnya.

Dikatakan, tidak masalah masyarakat mengambil dan membudidaya Maek Bako yang sudah ditanami pemerintah. Baginya, itu akan memberikan keuntungan untuk masyarakat.


Reporter: Ricky Anyan


Komentar