Beranda Hukum & Kriminal Dituduh Mencuri, Mantan Karyawan Perusahaan Milik Bupati Belu Minta Kejelasan Hukum

Dituduh Mencuri, Mantan Karyawan Perusahaan Milik Bupati Belu Minta Kejelasan Hukum

587
0

Belu, Flobamora-news.com – Salah satu mantan Karyawan PT. Dian Nusa Lestari (DNL), Marten Haki menuntut kejelasan hukum terkait tuduhan pencurian kepada dirinya yang dilakukan oleh pihak perusahaan sejak tahun 2018. Pasalnya, kasus pencurian yang dilaporkan ke Polsek Tasifeto Timur (Tastim) tersebut hingga kini belum ada kejelasannya.

Mantan Karyawan perusahaan milik Bupati Belu, Willy Lay itu menjelaskan bahwa dirinya sudah diambil keterangan oleh pihak kepolisian. Akan tetapi, hingga saat ini, polisi belum memiliki cukup bukti untuk memroses Marten lebih lanjut.

Kepada wartawan di Atambua, Rabu (24/7/2019), Marten mengatakan dirinya menuntut kejelasan hukum atas kasus tersebut karena berdampak pada pembayaran haknya berupa pesangon dan hal lainnya.

Tak hanya itu, kejelasan hukum atas tuduhan pencurian itu berdampak pada langkah hukum yang akan ditempuhnya berupa pemulihan nama baik, jika kemudian tuduhan mencuri itu tidak terbukti.

“Katanya saya curi rantai eskavator dan sudah lapor polisi. Saya juga sudah diperiksa polisi. Tapi selanjutnya bagaimana saya tidak tahu. Saya tunggu karena habis lebaran 2019 lalu mau panggil lagi saya, tapi ternyata tidak ada panggilan sampai sekarang,” ungkap Marten yang saat itu didampingi salah satu keluarganya.

Marten Haki sebenarnya tidak tinggal diam. Sebelumnya, dirinya sempat mengadu apa yang dialaminya ke Dinas Nakertrans Kabupaten Belu. Laporan ini direspon baik oleh Dinas Nakertrans.

Akhirnya, pada Rabu (29/5/2019), Dinas Nakertrans melakukan mediasi antara PT. Dian Nusa Lestari dengan eks karyawannya di Kantor Dinas Nakertrans Belu.

Saat itu, Martin Haki mengatakan, laporan ke polisi itu telah menghambat upaya dirinya untuk menuntut haknya berupa pesangon dan juga telah menjadi penyebab dirinya dipecat dari perusahaan tersebut setelah bekerja sejak tahun 2011 lalu.

“Mereka lapor kehilangan barang sejak Oktober 2018 tapi tidak diproses. Saya baru diberhentikan Februari 2019 karena mencuri. Padahal setelah dilaporkan ke polisi, saya masih terima gaji dan dapat THR. Kalau saya mencuri dan sudah lapor polisi kenapa saya masih terima gaji?” tanya Marten.

Mengenai laporan ke polisi tersebut, Marten mengatakan, dirinya sebagai sopir tronton mengikuti proyek pengerjaan jalan sabuk perbatasan di wilayah Lamaknen. Saat itu, pengawas PT. Dian Nusa Lestari atas nama Tom melaporkan dirinya ke Polsek Tastim karena mencuri rantai eskavator namun hingga saat ini belum ada kejelasan kasus tersebut.

“Saya sudah dituduh mencuri tapi sampai sekarang tidak jelas. Saya sudah ke Dinas Nakertrans Belu tapi mereka minta ada surat dari polisi. Sementara polisi bilang tidak ada barang bukti dan saksi,” ujar Marten.

Kapolsek Tastim, Iptu Samsul Arifin yang dikonfirmasi awak media pada Rabu (24/7/2019) malam membenarkan adanya laporan kasus pencurian tersebut. Namun, lanjutnya, kasus tersebut masih dalam tahap penyelidikan.

Iptu Arifin juga membenarkan bahwa sampai saat ini belum ada saksi maupun barang bukti terkait kasus tersebut. Pihaknya telah meminta pelapor untuk menghadirkan saksi, tapi sampai sekerang belum ada.

Direktur PT. DNL, Daniel Liu dalam proses mediasi oleh mediator di Kantor Dinas Nakertrans Belu, Rabu (29/5/2019) lalu mengatakan, pemecatan terhadap Martin Haki dilakukan lantaran ada kehilangan alat dan sudah dilaporkan ke polisi.

“Martin ini, ada kehilangan alat dan kami sudah buat laporan polisi di polsek Tastim. Terindikasi pencurian barang. Link rantai eskavator hilang. Karena kasus ini, kami PHK,” ungkap Daniel di hadapan mediator dan pejabat Dinas Nakertrans Belu, Ketua Apindo Belu dan Ketua SPSI Belu.

Suasana Proses Mediasi sengketa antara PT. Dian Nusa Lestari dengan eks karyawannya di Kantor Dinas Nakertrans Belu, Rabu (29/5/2019)

Untuk doketahui, PT. Dian Nusa Lestari (DNL) adalah Perusahaan milik Willy Lay yang saat ini menjabat sebagai Bupati Belu. Perusahaan itu, kini sedang bermasalah dengan karyawannya.

Perusahaan yang manajemennya dipercayakan kepada Daniel Liu ini melakukan pemutusan hubungan pekerjaan (PHK) terhadap sejumlah karyawannya tanpa membayarkan hak-hak mereka.

Permasalahan PT. DNL dengan karyawannya ini diungkap mantan karyawan yang telah dipecat dan mengadukannya ke Dinas Nakertrans Kabupaten Belu beberapa waktu lalu.

Adapun tiga karyawan yang di PHK manajemen PT. Dian Nusa Lestari antara lain Aloysius Berek, Rikardus Hale, dan Martinus Haki.

Tiga karyawan ini diberhentikan secara sepihak oleh manajamen PT. DNL lantaran ketiga karyawan ini mengadukan nasib mereka pada Dinas Nakertrans Kabupaten Belu, terkait upah mereka yang tidak sesuai standar dan dirumahkan tanpa gaji.

Kepada awak media di Atambua, Jumat petang, (03/05/2019), Alo dan kedua temannya menuturkan, pada pertengahan bulan Februari 2019, ada 12 orang karyawan PT. Dian Nusa Lestari mengadukan nasib mereka yang tidak tentu. Hal ini lantaran pihak perusahaan ingin merumahkan 12 orang karyawan sepanjang tidak ada proyek fisik yang dikerjakan perusahaan.

Menurut Alo, kebijakan merumahkan karyawan itu sudah merupakan kebijakan perusahaan yang dilakukan setiap tahun tanpa mengurangi hak karyawan terutama gaji pokok. Namun, pada tahun 2019, 12 karyawan dirumahkan tanpa kepastian waktu dan tidak diberikan gaji pokok. Hal ini membuat ke 12 karyawan ini mengadu dan ingin mendapat penjelasan terkait hak mereka.

Proses mediasi sengketa antara PT. Dian Nusa Lestari (DNL) dengan sejumlah eks karyawan yang dipecat beberapa waktu lalu akhirnya dilakukan pada Rabu (29/5/2019).

Proses mediasi ini dilakukan Henjti H. Lay yang merupakan Mediator Hubungan Industrial dari Dinas Koperasi, Tenaga kerja dan Transmigrasi Provinsi NTT bertempat di Kantor Dinas Nakertrans Kabupaten Belu.

Hasil mediasinya, perusahaan milik Willy Lay yang adalah Bupati Belu ini tetap memecat Aloysius Berek yang selama ini menjabat sebagai Manajer Pengendali Mutu dan Richardus Hale yang selama ini menjabat sebagai Pengawas Lapangan.

Sementara itu, dua karyawan lainnya yakni Agustinus Behar selaku pengawas dan Marselinus Nahak Seran selaku operator kembali diterima sebagai karyawan PT. Dian Nusa Lestari.

Dalam proses mediasi, Daniel Liu sempat menawarkan kepada Aloisius untuk kembali bekerja sebagai karyawan PT. DNL. Namun ditolak oleh Aloisius dengan alasan bahwa Daniel telah menyakiti mereka dengan cara memecat secara sepihak tanpa satupun kesalahan yang dilakukan.

“Saya sudah dipecat dan selama ini kami sudah buat laporan. Beberapa kali klarifikasi, saya tetap dipecat. Lalu saat ini saya mau terima hak-hak saya, malah minta saya kerja lagi,” ujarnya dengan nada meninggi.

Aloisius mengatakan akibat PHK sepihak itu, dirinya mengalami kesulitan ekonomi dan sempat mengalami masalah dalam keluarga. Karena itu, dirinya telah berusaha mencari pekerjaan di tempat lain sembari menunggu hak-haknya dibayar oleh PT. DNL. Alasan itu pula yang membuat dirinya tak mungkin lagi melanjutkan kerja sebagai karyawan PT. DNL.

Sedangkan terhadap Richardus Hale, Daniel mengatakan pihaknya tetap melakukan PHK dengan alasan, latar belakang pendidikan karyawan itu tidak sesuai kebutuhan perusahaan.

Hasil mediasi ini lantas dibuat dalam berita acara dan perjanjian bersama yang ditandatangani para pihak di atas surat bermeterai.

Terhadap dua karyawan yang dipecat, segala hak berupa pesangon dan lainnya langsung dibayar tunai oleh Direktur PT. DNL, Daniel Lay. Adapun total hak yang diterima Richardus Hale akibat PHK tersebut adalah Rp 25 juta sedangkan hak yang diterima Aloysius Berek adalah sebanyak Rp 43.750.000.


Reporter: Ricky Anyan


Komentar