Beranda Ekonomi Bisnis Elegi “Warga Curi Maek Bako” di Belu

Elegi “Warga Curi Maek Bako” di Belu

1075
0

Belu, Flobamora-news.com – Cerita sakit dan memilukan dialami oleh Masyarakat petani di Dusun Nela, Desa Naekasa, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu. Kebahagiaan saat mendapat kunjungan dari Gubernur NTT, Victor Bungtilu Laiskodat pada 11 Februari 2020 lalu dinodai dengan ucapan PLT Sekda Belu, Marsel Mau Meta yang menyebut bahwa masyarakat setempat mencuri Maek Bako (Porang) milik pemda Belu di Hutan Jati Nenuk.

Ceritanya berawal saat Gubernur NTT melakukan Kunjungan Kerjanya ke Kabupaten Belu. Saat itu, salah satu agendanya adalah melihat perkembangan tanaman Maek Bako yang ditanami Pemda Belu di Hutan Jati Nenuk dengan anggaran APBD tahun 2017 senilai Rp 1,3 Miliar.

Akan tetapi, karena perkembangan Maek Bako yang kurang baik, Pemda Belu pun mengarahkan rombongan Gubernur NTT untuk melakukan kunjungan di lahan milik warga yang berada di Hutan Jati, Dusun Nela, Desa Naekasa.

Saat rombongan tiba di lokasi yang sudah diarahkan oleh Pemda Belu, salah satu wartawan The East, Ronny Christian secara spontan langsung berkata, “Ini baru bagus! Bawa gubernur datang di lokasi milik warga, bukan milik pemerintah”.

Mendengar komentar itu, PLT Sekda Belu yang berdiri di sekitar para jurnalis langsung menyanggah dengan nada tinggi, “Benar memang lahan ini milik masyarakat, tapi mereka curi Maek milik pemerintah”. Demikian ujarnya sembari menunjuk ke arah lahan milik warga yang dikunjungi Gubernur NTT.

Ucapan PLT Sekda Belu ini pun sontak mendapat tanggapan dari dari salah satu Jurnalis Voxntt.com, Marcel Manek. “Ah… pemerintah selalu punya banyak alasan ketika ditanya soal Maek Bako. Kemarin alasan lain, hari ini alasan lain,” ujar Marcel sembari berjalan meninggalkan PLH Sekda yang sedang berdiri bersama beberapa ASN rombongan Gubernur NTT.

Kalimat yang serupa pun sempat diulangi PLT Sekda Belu saat berbincang bersama Yansen, salah satu wartawan nttonline.com.

Usai kunjungan tersebut, para jurnalis pun coba mengklarifikasi apa yang disampaikan oleh PLT Sekda Belu Kepada pemilik lahan Maek Bako, Yosefa de Jesus. Mama Yosefa pun dengan tegas mengatakan, “itu tidak Benar!”.

Dijelaskan bahwa program pemerintah Kabupaten Belu baru dimulai sejak tahun 2017. Sedangkan masyarakat susah mulai menanam Maek Bako sejak tahun 2012.

Dikatakan, mereka mendapatkan Maek Bako dari hutan yang sudah tumbuh liar sejak tahun 2012. Saat itu, mereka mencari kunyit untuk ditimbang sembari mengumpulkan Maek Bako untuk ditanam di lahan hutan jati.

“Saat itu, kami tahu bahwa Maek Bako sudah ada harga, makanya kami cari untuk tanam di sini,” jelas mama Yosafat.

Dijelaskan bahwa memang saat ini mereka menanam di lokasi hutan lindung. Namun, karena mereka mendapat ijin dari pihak kehutanan dengan catatan tidak menebang pohon, maka mereka pun mulai menanam Maek Bako.

“Kami memang tanam di lahan milik pemerintah, tapi kami tidak curi Maek Bako milik pemerintah,” tegas Yosefa.

PLT Sekda Belu, Marsel Mau Meta ketika dikonfirmasi menuturkan bahwa maksud dari pernyataan tersebut bukan menuding masyarakat mencuri, tapi mengambil dari lokasi Porang yang ditanami pemerintah Kabupaten Belu di Hutan Jati Nenuk.

“Jangan bilang curi. Kasihan orang. Orang su (sudah, red) kerja setengah mati kita bilang curi lagi,” ujar PLT Sekda Belu.

Dijelaskan lebih lanjut bahwa masyarakat mungkin ingin membudidaya sendiri Maek Bako, sehingga mereka mengambil dari lahan yang sudah ditanam oleh Pemerintah Kabupaten Belu. Dengan begitu, masyarakat akan dengan mudah untuk memanen dan menjual Maek Bako.

“Kalau mereka ambil mungkin mereka butuh. Mereka mungkin ingin memiliki sendiri. Kalau mereka ingin rawat sendiri, mereka ambil tidak masalah to? Karena mereka pingin rawat sendiri, kemudian nanti mereka panen… panen sendiri, tidak usah tanya naik turun lagi to,” jelasnya.

Dikatakan, tidak masalah masyarakat mengambil dan membudidaya Maek Bako yang sudah ditanami pemerintah. Baginya, itu akan memberikan keuntungan untuk masyarakat.

Para pembaca pun memberikan tanggapan penyesalan melalui media sosial saat berita ini diturunkan dengan judul “PLT Sekda Belu Sebut Masyarakat Curi Porang”. Tak hanya itu, Wakil Ketua II DPRD Kabupaten Belu dan Ketua Fraksi Gerindra Kabupaten Belu pun ikut menyesalkan apa yang sudah dikatakan PLT Sekda Belu kepada masyarakat.

Wakil Ketua II DPRD Belu, Cypri Temu dengan keras menegur PLT Sekda Belu untuk tidak seenaknya menyalahkan masyarakat.

“Kita pemerintah itu tidak boleh menyalahkan rakyat, apalagi menuduh rakyat mencuri! Ini kan sangat disayangkan, bagaimana rakyat dituduh mencuri?” Demikian tulis Politisi Partai Nasdem itu melalui pesan Whatsapp-nya, Rabu (12/2/2020).

Lebih lanjut dikatakan bahwa Pemerintah Kabupaten Belu asal-asalan dalam mengerjakan proyek Porang sebesar Rp 1,3 M. Akibatnya, hasilnya pun tidak memuaskan. Selain itu, tidak adanya pengawasan membuat gagalnya proyek tersebut.

“Kerja tidak betul, hasil tidak ada, pengawasan tidak ada baru mengkambinghitamkan rakyat. Ini kan pemerintahan yang konyol!” Demikian tegasnya.

Menurut Cypri, Pemerintah Kabupaten Belu harus jujur mengatakan bahwa program Porang senilai Rp 1,3 M adalah sebuah program yang gagal. Karena itu, pemerintah harusnya mengevaluasi proyek tersebut. Bila kesalahannya ada pada pihak ke III, maka pihak pemerintah harus memroses pihak ketiga yang menangani proyek tersebut. “Bukan kita bilang rakyat yang curi! Wah ini payah, Mengkambinghitamkan masyarakat”.

Luapan amarah ini pun dilontarkan oleh Ketua Fraksi Gerindra Kabupaten Belu, Awalde Berek. Dirinya menegaskan bahwa apa yang disampaikan oleh PLT Sekda Belu itu merendahkan Anggota Dewan. Pasalnya, Anggota Dewan sendiri merupakan representasi dari masyarakat itu sendiri.

“Berbicara seperti itu berarti merendahkan kami (Anggota Dewan, red) karena kami merupakan representasi dari masyarakat. Inikan masyarakat kami, konstentuen kami!” Demikian tegas mantan Ketua DPRD Kabupaten Belu Periode 2015-2019 itu. “Tidak boleh itu,” lanjutnya.

Polemik ini pun berlanjut hingga ke Gedung DPRD Belu. Para warga yang merasa dituding pun mendatangi Gedung DPRD Belu pada, Senin (2/3/2020). Mereka meminta DPRD Belu dapat memediasi polemik yang terjadi. Ketua Komisi II, Theo Seran Tefa bersama Anggota komisi yang menerima para warga pun berjanji akan memediasi polemik tersebut pada, Rabu, (4/2/2020).

Tepat pada hari yang dijanjikan, pertemuan tersebut terpaksa harus ditunda hingga Senin, (9/3/2020) karena PLT Sekda Belu tak dapat menghadiri rapat tersebut dengan alasan adanya tugas tahun lebih penting.

Pada hari yang bersamaan, PLT Sekda Belu membuat pernyataan alasan ketidakhadirannya di beberapa media. Seperti dikutip dari kupang.tribunnews.com, PLT Sekda menjelaskan, dirinya belum mengetahui surat undangan dari DPRD Belu untuk menghadirkan dirinya di DPRD. Kalaupun ada surat, otomatis disampaikan kepada Bupati Belu dan ia akan memenuhi undangan DPRD setelah mendapat persetujuan dari Bupati sebagai atasannya.

Kemudian, jika ia hadir memenuhi undangan DPRD bukan serta merta ia mau menyampaikan permohonan maaf atas sepotong kalimat seperti yang disampaikan masyarakat atas sebuah pemberitaan tidak benar. Ia memenuhi undangan DPRD karena sebagai mitra dan hadir pun setelah mendapat persetujuan dari bupati sebagai atasannya.

“Saya bisa hadir kalau ada persetujuan dari bupati. Bupati atasan saya, saya ini staf. Terhadap tuntutan mama (warga-Red) mereka, saya tidak pernah lakukan. Saya tidak pernah omong. Saya mau minta maaf apa”, tandas Marsel.

Polemik ini pun menjadi cair pada pertemuan kedua yang dihadiri PLT Sekda Belu di ruang rapat Komisi II DPRD Belu pada, Senin (9/3/2020). Pertemuan yang diprediksi banyak orang akan menjadi ajang luapan emosi berubah menjadi ajang saling memaafkan.

Dalam Rapat Dengar Pendapat yang dipimpin ketua Komisi II, Theodorus Seran Tefa, Elvis Souza mewakili warga menyampaikan bahwa, kehadiran para petani porang di DPRD Belu bukan untuk mencari siapa yang salah dan siapa yang benar. Sebagai masyarakat, mereka merasa telah disakiti dengan tudingan “Mencuri Maek Bako” oleh PLT Sekda Belu yang merupakan orang tua bagi masyarakat Belu. Karena itulah mereka minta bantuan kepada DPRD untuk mempertemukan mereka dengan PLT Sekda Belu.

“Kehadiran kami di sini untuk mencari siapa yang benar dan siapa yang salah. Kami datang karena kami sebagai warga Belu merasa telah disakiti oleh PLT Sekda Belu yang merupakan orang tua kami atas tudingan yang sudah diberikan kepada kami. Hari ini saya mau katakan, mari kita berkata jujur. Kalau memang kita sudah gagal dalam bekerja, orang lain jangan dikambinghitamkan,” tegasnya.

Sementara itu, PLT Sekda Belu menyampaikan permohonan maaf kepada warga dusun Nela, Desa Naekasa atas sikap dirinya yang telah menyakiti hati warga. Sebagai pejabat publik, dirinya meminta maaf kepada masyarakat apabila apa yang dilakukannya telah menyakiti hati masyarakat.

PLT Sekda Belu mengaku bahwa dirinya sama sekali tidak berniat untuk menyakiti apalagi merendahkan masyarakat di dusun Nela melalui ucapan sebagaimana diberitakan.

“Dari lubuk hati saya yang paling dalam, saya menyampaikan permohonan maaf kepada bapak mama semua karena pemberitaan itu membuat bapak mama terganggu, selain itu membuang biaya dan kerja. Untuk itu saya dari hati yang paling dalam menyampaikan permohonan maaf karena saya sebagai pejabat publik diberitakan seperti itu membuat bapak mama di dusun Nela menjadi tidak nyaman dengan isi pemberitaan itu,” ujarnya.

Dijelaskan bahwa dirinya tidak pernah mengeluarkan ucapan yang dialamatkan kepada petani porang di dusun Nela dalam kunjungan Gubernur NTT ke lahan maek bako milik warga beberapa waktu lalu. “Selebihnya, saya mohon maaf. Saya junjung tinggi bapak mama semua. Saya anak orang adat… saya seorang petani… jadi saya menjunjung tinggi itu,” ungkapnya.

Pertemuan itu pun diakhiri dengan jabatan tangan dan saling berpelukan. PLT Sekda Belu pun meminta kepada awak media untuk mengabadikan momen tersebut.

Kejadian ini ibarat sebuah kisah pilu, seorang anak dituding mencuri oleh orang tuanya. Demikian halnya yang dialami oleh warga Dusun Nela. Namun, sebesar apapun masalahnya, orang tua dan anaknya pasti saling memaafkan.


Reporter: Ricky Anyan


Komentar