Beranda Nasional Hanya Pemimpin Angkuh di Belu yang Lawan Rakyatnya Sendiri Pakai Uang Rakyat

Hanya Pemimpin Angkuh di Belu yang Lawan Rakyatnya Sendiri Pakai Uang Rakyat

377
0

Belu, Flobamora-news.com – “Hanya pemimpin angkuh di Belu yang lawan rakyatnya sendiri pakai uang Rakyat”. Hal ini diungkapkan oleh Wakil Ketua II DPRD Belu, Cypri Temu dalam orasi politiknya saat kampanye Paket Sehati di Dusun Holgotok, Desa Fulur, Kecamatan Lamaknen Selatan, Kabupaten Belu, Jumat (20/11/2020).

Menurut Cypri, Pimpinan DPRD Belu telah mengingatkan Bupati Belu, Willybrodus Lay untuk tidak melakukan banding. Akan tetapi, kesombongan dan keangkuhan telah mengalahkan akal sehat Willy Lay dan Ose Luan sebagai Bupati dan Wakil Bupati Belu yang dipilih oleh rakyat.

“Sudah kita peringati, sudah kita ingatkan, tapi karena kesombongan dan keangkuhan mengalahkan akal sehatnya sapa dia lupa kalau dia jadi pemimpin karena dipilih oleh rakyat,” kesannya.

“Menggunakan uang rakyat untuk lawan rakyatnya sendiri. Kasihan sekali,” ungkapnya sembari menggelengkan kepala seakan tak percaya masih ada pemimpin seperti itu di Kabupaten Belu.

Karena kesal dengan ulah Bupati Belu, maka Cypri mempropaganda seluruh masyarakat Kabupaten Belu untuk sama-sama menggantikan Bupati Belu Saat ini.

“Pemimpin seperti ini saatnya kita ganti,” anaknya.

Pernyataan itu ditegaskan Cypri Temu terkait dengan kasus gugatan yang dilakukan Pemda Belu di masa kepemimpinan Willy Lay-Ose Luan kepada perjuangan masyarakat Leowalu yang melakukan protes hasil Pilkades serentak 2019 yang sarat kecurangan.

Ada beberapa kecurangan dan kesalahan fatal dalam pilkades Leowalu yang terjadi pada tanggal 16 Oktober 2019 lalu. Menurut Ignas Bau yang merupakan salah satu Calon Kepala Desa Leowalu

Kesalahan fatal yang dimaksud antara lain, ada orang tidak waras yang diperbolehkan ikut mencoblos, tidak adanya sosialisasi mengenai tata cara mencoblos, sehingga jumlah surat suara yang tidak sah melebihi surat suara yang sah.

Hal lainnya adalah, adanya peraturan bupati berkaitan dengan perhitungan suara yang telah menyebabkan hangus atau rusaknya suara rakyat yang seharusnya sah.

Atas dasar itu, usai pemilihan, Ignas bersama para pendukungnya pun langsung mendatangi Kantor Bupati Belu pada Rabu (17/10/2019). Warga meminta untuk dilakukannya pemilihan ulang karena menilai adanya kecurangan yang dilakukan oleh pihak panitia.

Karena tidak mendapat respon yang baik, warga pun akhirnya memutuskan untuk mengadukan permasalahan itu kepada wakil rakyat. Ignas bersama pendukungnya pun akhirnya mendatangi Kantor DPRD Belu pada Jumat (18/10/2019). Kedatangan mereka disambut baik oleh Wakil Ketua II DPRD Belu, Cypri Temu. Tuntutan mereka masih sama, Pemda Belu melakukan PSU di Desa Leowalu.

Sebenarnya Warga Leowalu tidak sendirian. Terhitung ada 9 desa yang melakukan keberatan tertulis dari 32 Desa yang melakukan Pilkades Serentak 2019 di Kabupaten Belu. 9 Desa yang bermasalah Pilkades antara lain, Desa Rafae, Teun, Lamaksanulu, Sisi Fatuberal, Leowalu, Dulaus, Umaklaran, Fulur dan Leontolu.

Merasa tak mendapat tanggapan yang memuaskan dari Pemda Belu, Ignas pun akhirnya memutuskan untuk mengajukan gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) di Kupang, Rabu (30/10/2019). Materi laporan berkaitan dengan Peraturan Bupati Belu Nomor 36 Tahun 2017 Bab IX tentang perhitungan suara Pasal 26 Ayat 3 point C dan D.

Setelah melalui perjuangan panjang, akhirnya gugatan Ignas dikabulkan oleh PTUN Kupang pada tanggal 20 Mei 2020 dengan tergugat Bupati Belu, Willybrodus Lay terkait penetapan kepala desa terpilih tahun 2019 lalu.

Wakil Ketua II DPRD Belu mewakili tiga Pimpinan DPRD Belu menyerahkan Koin Keadilan kepada Masyarakat Leowalu, Senin (8/6/2020)

Pada Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP) PTUN Kupang disebutkan, perkara dengan nomor 102/G/2019/PTUN.KPG ini diputuskan pada Rabu (20/5/2020) lalu dengan status putusan, gugatan dikabulkan.

Terhadap putusan PTUN Kupang ini, Bupati Belu selaku tergugat mengajukan banding. Hal ini terlihat dari status perkara Permohonan Banding pada SIPP PTUN Kupang pada Kamis (28/5/2020).

Upaya hukum naik banding ini terlihat dari data pada Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP) PTUN Kupang yang menyebutkan perkara dengan nomor 102/G/2019/PTUN.KPG ini diputuskan pada Rabu (20/5/2020) tersebut telah berstatus Banding.

Karena tak mampu dari segi keuangan untuk melawan Pemda Belu, maka Ignas pun akhirnya memilih untuk meminta bantuan dari seluruh masyarakat Belu. Ignas pun melakukan aksi dengan membuat kotak koin keadilan untuk mendapat sumbangan dari masyarakat Belu.

Aksi ini mendapat simpati dari seluruh masyarakat Belu, baik yang ada di Kabupaten Belu maupun yang sedang berada di Rantauan.

Dengan hasil kumpul koin itu, Ignas pun terus berjuang mencari keadilan hingga ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Tinggi Surabaya.

Cerita panjang Ignas Bau berjuang mencari keadilan berbuah emas. Upaya banding yang dilakukan Bupati Belu, Willybrodus Lay Ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Tinggi Surabaya atas putusan PTUN Kupang berujung pada kemenangan Ignas Bau, “Sang Pencari Keadilan”.

Ratusan warga Kumpul koin Keadilan bagi Ignasius Bau

Putusan PTUN Tinggi Surabaya Nomor: 153/B/2020/PT.TUN.SBY menguatkan Putusan PTUN Kupang Nomor : 105/G/2019/PTUN – KPG.

Ignas Bau kepada media ini, Rabu (28/10/2020) mengucapkan berterima kasih kepada seluruh masyarakat yang selama ini telah membatu dirinya dengan berbagai cara. Baginya, kemenangan di PTUN Surabaya merupakan kemenangan rakyat atas ketidakadilan yang dilakukan penguasa kepada masyarakat kecil.

“Saya berterima kasih kepada seluruh masyarakat yang telah mendukung dan membantu saya lewat caranya masing-masing. Kemenangan saya di Pengadilan ini menunjukkan kemenangan seluruh masyarakat Belu atas ketidakadilan yang dibuat pemerintah kepada masyarakat Kecil,” ucapnya.

Rasa syukur itu kembali menjadi cemas lantaran dirinya mendapat kabar bahwa Penda Belu kembali melakukan banding Kasasi atas usaha yang susah dilakukannya. Banding Kasasi yang dilakukan Oknum ASN lingkup Pemda Belu itu, berdasarkan penelusuran media ini, tanpa sepengatahuan PJS Bupati Belu dan Penjabat Sekda Belu.

Ignas pun akhirnya pasrah. Dirinya mengaku sudah tidak punya lagi uang untuk meladeni banding yang dilakukan Pemda Belu.

“Saya tahu, kali ini saya harus butuh uang lebih banyak lagi untuk bisa mempertahankan keadilan bagi masyarakat Leowalu. Tapi saat ini saya sudah tidak punya uang sama sekali. Karena itu, saya akan melakukan aksi kumpul koin keadilan sekali lagi. Mungkin saya akan melakukan aksi itu dari Kantor Gubernur NTT. Mungkin dengan aksi itu, seluruh masyarakat NTT bisa tahu betapa bobroknya Pemda Belu di Masa kepemimpinan Willy Lay dan Ose Luan yang kini sedang kembali mencalonkan diri sebagai kandidat Bupati dan Wakil Bupati Belu di Tahun 2020 ini,” ungkapnya.

Ignas hanya sebuah representasi dari masyarakat kecil Kabupaten Belu yang sedang berjuang mencari keadilan bagi masyarakat yang berada di desanya.

Dengan segala keterbatasan, dirinya harus terus berjuang meladeni gugatan Pemda Belu di bawah pimpinan Willybrodus Lay dan Ose Luan. “Saya selalu berdoa, semoga Tuhan bisa berpihak pada kaum tertindas seperti saya ini,” ungkapnya.


Reporter: Ricky Anyan


Komentar