Beranda Hukum & Kriminal HTI Kelompok Radikal Sebarkan Paham Khilafah di NTT Lewat Loper Koran

HTI Kelompok Radikal Sebarkan Paham Khilafah di NTT Lewat Loper Koran

398
0

KUPANG, Flobamora-news.com – Organisasi Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) sudah resmi dibubarkan oleh pemerintah. Pasalnya pembubaran organisasi ini karena ideologi khilafah dan visi-misinya dengan Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pemerintah akan terus mengejar siapa pun yang masih turut menyebarkan paham khilafah. Jika individual atau mantan-mantan anggota HTI beraktivitas dengan masih melanjutkan paham-paham anti-Pancasila dan anti NKRI, maka konsekuensinya ialah jeratan hukum.

Kelompok radikal ini rupanya sudah menyebarkan paham terlarang ini di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Kali ini, mereka menggunakan modus baru. Mereka menyebarkan selebaran tentang khilafah dengan modus menyelipkan ke dalam lembaran koran yang dijual para loper di lampu merah El Tari, Kupang, Kamis (28/5/2020).

Untuk memuluskan tujuannya, mereka membayar sejumlah uang ke loper koran untuk menyebarkan selebaran tersebut.

“Ada seseorang yang tidak kami kenal. Dia datang beri uang Rp 20 ribu dan minta kami selipkan ke koran untuk disebarkan,” ujar seorang loper koran kepada wartawan, Kamis (28/5/2020).

Ia mengaku tidak mengerti tentang isi selebaran itu. Ratusan brosur berisi menolak sistem demokrasi dan menerapkan sistem khilafaf sebagai solusi dari segala masalah itu diselipkan ke koran lalu dijual. Sebagiannya diedarkan terbuka oleh anak-anak penjual koran.

Berikut isi lengkap selebaran khilafah yang didapat langsung wartawan dari peloper koran di lampu merah El Tari Kupang :

MENOLAK SISTEM DEMOKRASI DAN MENERAPKAN SISTEM KHILAFAH SEBAGAI SOLUSI DARI SEGALA MASALAH

Oleh: Suryadi Koda (Aktivis Dakwah Islam Kota Kupang, Alamat: Jln. Airlobang III Sikumana, Kota Kupang)

Imam ‘Ali ra pernah menjabarkan buruknya perilaku seorang yang melekat padanya sifat tamak pada harta.

Ketamakan sendiri adalah manifestasi dari fitrah manusia yang cenderung kepada harta dengan mengupayakan apapun tak peduli haram atau halalnya jalan yang ditempuh. Allah SWT berfirman:قُلْ لَوْ أَنْتُمْ تَمْلِكُونَ خَزَائِنَ رَحْمَةِ رَبِّي إِذًا لَأَمْسَكْتُمْ خَشْيَةَ الْإِنْفَاقِ ۚ وَكَانَ الْإِنْسَانُ قَتُورًاKatakanlah: “Kalau seandainya kamu menguasai perbendaharaan-perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya perbendaharaan itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya”. Dan adalah manusia itu sangat kikir. (al-Isra:100)Allah SWT. menjelaskan bahwa sikap tamak akan harta membuat pelakunya kikir dan enggan berinfaq. Kiranya gambaran ini juga yang kita dapatkan di realitas kehidupan kaum muslim dengan corak masyarakat hedonis dalam sistem kehidupan demokrasi sekular.

Rakyat telah mafhum bahwa politik demokrasi menuntut tingginya mahar yang harus digelontorkan demi meraih kursi. Jika rata-rata setiap orang harus mengeluarkan modal sebesar 5 milyar (detiknews 03/10/2020) untuk kursi di DPR RI, dengan pendapatan 66.1 jt per bulan (CNNIndonesia 02/10/2019), maka total pendapatan selama 5 tahun menjabat (3.9 milyar) belum mampu menutupi modal yang dikeluarkan.

Dari sinilah cerita ketamakan ini berlanjut, karena sokongan dana yang didapat harus segera diganti dengan nilai yang berlipat. Itu baru urusan mengganti modal. Mereka masih harus mencari akal agar mampu menghasilkan lebih. Mumpung masih berkuasa.

Ketamakan telah merusak akal sehat para politisi. Saat rakyat membutuhkan kepastian hukum bagi keselamatannya di tengah terjangan wabah, mereka ketahuan tengah bermufakat untuk menggarong dana haji milik umat. Politisi yang mengakunya bekerja untuk rakyat malah mengkhianati rakyat dengan aksi kejar tayang RUU Omnibus law yang jauh dari spirit kerakyatan.

Prinsip asasi demokrasi yang menjadikan kedaulatan penuh ada pada kehendak bersama manusia juga merupakan pembenaran atas ketamakan yang dilakukan. Fakta bahwa legislasi hukum yang selama ini dilakukan dengan berdasarkan hawa nafsu telah memberi peluang besar bagi ketamakannya dengan perilaku korupsi yang marak dipraktikkan. Liberalisme sebagai pengagungan terhadap kebebasan dalam prinsip demokrasi jadi satu sebab dikhianatinya hak rakyat. Toh mereka adalah wakil rakyat. Tidak salah bila ada omongan: ”bila rakyat pengen kaya, sudah diwakili oleh mereka. Rakyat ingin mobil mewah, juga sudah diwakili mereka. Rakyat inginkan rumah mewah, itupun sudah diwakili mereka. Rakyat ingin gaji gede, tenang saja sudah diwakili mereka juga kok. Rakyat pengen tempat kerja nyaman, sudah diwakili mereka. Rakyat pengen jalan-jalan ke luar negeri, sudah diwakili mereka. Jadi semua sudah terwakili oleh DPR!”

Inilah wajah buruk demokrasi yang melahirkan politisi dan pemimpin yang tamak. Sibuk menimbun harta padahal seberapapun yang didapat, hanya beberapa suap yang bisa masuk dalam perutnya. Kebebasan demokrasi hanya ciptakan fatamorgana kenikmatan, sebab kala maut menghampiri siapapun ia hanya berbekal amal shalih.

Maka, alangkah baiknya kita untuk bersegera campakkan demokrasi yang telah menuhankan hawa nafsu dan kenikmatan dunia berupa harta dan kuasa. Sembari kita camkan sabda baginda Rasulullah SAW: Dari Qotadah, dari Muthorrif, dari ayahnya, ia berkata, “Aku pernah mendatangi Nabi SAW saat beliau membaca surat “أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ” (sungguh berbangga-bangga telah melalaikan kalian dari ketaatan), lantas beliau bersabda:يَقُولُ الْعَبْدُ مَالِى مَالِى إِنَّمَا لَهُ مِنْ مَالِهِ ثَلاَثٌ مَا أَكَلَ فَأَفْنَى أَوْ لَبِسَ فَأَبْلَى أَوْ أَعْطَى فَاقْتَنَى وَمَا سِوَى ذَلِكَ فَهُوَ ذَاهِبٌ وَتَارِكُهُ لِلنَّاسِ“Hamba berkata, “Harta-hartaku.” Bukankah hartanya itu hanyalah tiga: yang ia makan dan akan sirna, yang ia kenakan dan akan usang, yang ia beri yang sebenarnya harta yang ia kumpulkan. Harta selain itu akan sirna dan diberi pada orang-orang yang ia tinggalkan.” (HR. Muslim).

Kita juga baru merasakan bagaimana Rezim bersama antek-anteknya mempermainkan agama dengan melarang seluruh umat Islam untuk melakukan salat di rumah masing-masing dengan alasan mencegah virus covid 19 ini menular. Jika dikaji mendalam, ini merupakan sebuah konspirasi dari kaum zionis yang tidak ingin melihat umat Islam makin dekat dengan ALLAH SWT.

Lebih anehnya lagi, kebijakan ini justru didukung oleh lembaga agama beserta ormas-ormas Islam di Indonesia. Mereka ini adalah kelompok-kelompok yang dibayar oleh kaum zionis untuk memecah belah persatuan umat Islam.

Keputusan yang mereka keluarkan yaitu melarang aktivitas salat di mesjid, baik itu salat wajib lima waktu,salat taraweh maupun salat ied tanpa didasari kajian yang mendalam dan jauh dari kata keinginan umat. Seharusnya, mereka lebih mendengar masukan umat bukan lebih mendengar masukan dari rezim penguasa yang di bekingi oleh zionis.

BACA JUGA:   Niat Mulia Wali Kota Kupang Bedah Rumah Warga Tak Layak Huni

Oleh karena itu, saya menghimbau kepada seluruh umat Islam, mari kita bersatu kembali dengan menolak sistem demokrasi di negeri ini yang mengoyahkan persatuan umat terkoyahkan. Mari kita sama-sama mendukung sekaligus meneriakkan seruan agar Khilafah ditegakkan di negeri ini sehingga tatanan kehidupan yang baik sesuai anjuran al-quran dan sunnah bisa terwujud.

Bila khilafah ditegakkan maka ridho dari ALLAH SWT akan selalu tercurahkan kepada negeri yang kita cintai ini. Khilafah akan terwujud bilamana persatuan umat tetap kokoh dan tak mudah goyah, walau rezim penguasa mencoba mengganggunya dan lembaga tinggi agama serta ormas-ormas keagamaan kita harus bubarkan agar tidak mudah memprovokasi umat.

Ingat, kita adalah agama mayoritas di negeri ini. Alangkah buruknya bila kita dikuasi oleh kelompok-kelompok minoritas yang dilindungi oleh rezim penguasa bersama lembaga tinggi agama dan ormas-ormas Islam yang mengatasnamakan HAM. Khilafah adalah solusi yang terakhir untuk menyelamatkan negeri ini dari siksaan dunia dan akhirat.

Khilafah adalah model kepemimpinan dalam Islam yang diwariskan oleh Rasulullah SAW kepada umatnya. Inilah pengaturan kepemimpinan yang padanya diterapkan hukum Islam secara total meliputi aspek peribadatan dan perundang-undangan negara.

Sebagaimana dahulu Beiau SAW memimpin kaum muslimin dengan hukum Islam, maka selayaknya sikap kita dalam meneladani Beliau SAW adalah dengan melakukan copy paste terhadap model kepemimpinan ini. وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللَّهِ”Dan Kami tidak mengutus seseorang rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah.” (An-Nisa:64)Dakwah menyeru umat agar bersegera menegakkan Khilafah yang kedua adalah seruan ketaatan menyambut berita gembira Rasulullah SAW.ثُمَّ تَكُوْنُ خِلآفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ، ثُمَّ سَكَتَ”Setelah itu akan terulang kembali periode khilafah ‘ala minhaj nubuwwah. Kemudian Nabi Muhammad saw diam.” (HR Ahmad; Shahih).


Reporter: Dian/OK


Komentar