Beranda Hukum & Kriminal Ini Kronologi Dugaan Kasus Penyerangan Warga Oleh Oknum Anggota DPRD Belu di...

Ini Kronologi Dugaan Kasus Penyerangan Warga Oleh Oknum Anggota DPRD Belu di Kuneru

1033
0

Pagi itu, Minggu (8/11/2020) seharusnya menjadi hari yang baik bagi Aloysius Bian sekeluarga. Setelah semingguan sibuk dengan tugas dan kerja masing-masing, hari Minggu adalah hari yang tepat bagi mereka berkumpul bersama sanak keluarga, walau hanya sekedar berbagi rasa.

Bapak Alo adalah seorang guru yang dikenal baik dan bijak sana oleh para tetangganya. Istrinya, Maria Trifosa Fahik yang merupakan admin di Universitas Timor-TTU pun dikenal sangat ramah.

Seperti hari Minggu lainnya, beberapa sanak keluarga pagi-pagi benar sudah datang bertamu ke rumah bapak Alo di Kuneru, Kelurahan Manumutin, Kecamatan Kota, Kabupaten Belu. Mereka – Agnes Luber Asa, Yosep Piri bersama istri – tak punya tujuan lain selain berbagi rasa demi mempererat tali persaudaraan mereka.

Belum sampai setengah jam bercerita, kira-kira pukul 07.30 Wita tiba-tiba datang sekelompok massa menggunakan beberapa motor yang dipimpin salah satu Oknum DPRD Belu dari Fraksi Gerindra, Marthen Nai Buti. Sekitar 20-an orang jumlah massa itu.

Melihat kedatangan Anggota Dewan ke rumahnya, Bapak Alo sontak menyambut dan meminta Marten untuk masuk ke rumahnya. Bapak Alo pun langsung memberitahukan kepada Sang Istri untuk segera menyiapkan minuman bagi para tamu yang baru saja datang.

Namun massa di luar rumah ramai-ramai berteriak, “Bakar… Bakar ini rumah”. Ketika masuk pintu rumah diikuti beberapa orang, Marthen langsung mengambil sebuah kayu balok yang biasa dipakai pak Alo untuk mengganjar pintu rumah. Dengan balok ditangan, Marthen hendak melempar Pak Alo seraya berkata, “Kau jujur, kenapa tadi malam kau maki saya?” Pak Alo pun lantas balik menjawab Marthen, “tenang dulu, simpan itu balok”. Baru hendak menjawab pertanyaan, Marthen berteriak, “Kau diam!”

Marthen pun lantas menghampiri Pak Alo dan langsung menampar Pak Alo di pipi sebanyak dua kali. “Kau sekarang jujur, kenapa tadi malam kau maki saya?” sembari mengambil air di dalam gelas yang belum diminum Pak Alo dan langsung menyiram ke wajah Pak Alo.

Pak Alo bertanya dalam hatinya, “Apa salah saya?”. Namun, Pak Alo tetap diam. Ketika Marthen memberikannya kesempatan bicara, Pak Alo pun mulai menceritakan kejadian pada malam minggu (7/11/2020) itu.

Karena tak ada pulsa data, Pak Alo pergi ke rumah tetangganya untuk bisa mendapatkan gratisan Wi-Fi. Dirinya hanya ingin menghibur diri dengan membuka facebook dan membaca beberapa informasi media tentang Pilkada Belu 2020 yang telah dibagikan ke facebook.

Sebagai masyarakat yang baik, wajib bagi dirinya untuk mencari tahu tentang visi dan misi dari kedua pasang calon pemimpin tertinggi di Kabupaten Belu. Selain itu, dirinya pun wajib untuk mengetahui perkembangan terkunci tentang Pilkada Belu.

Di beberapa grup facebook, dirinya menonton video Debat I Pilkada Belu 2020 yang telah digelar beberapa waktu lalu. Selain itu, dirinya juga menonton Video dan membaca di beberapa media massa tentang adanya dugaan editan suara yang menjelekkan Marthen Nai Buti.

Sebagai salah satu pendukung Marthen Nai Buti saat pemilihan legislatif beberapa waktu silam, dirinya coba menceritakan kembali apa yang telah diikuti di media kepada beberapa orang yang berada di tempat itu. “Tidak ada tambah bahasa, apalagi sampai maki Pak Marthen,” ujar Pak Alo.

Ternyata salah satu saudari Marthen ada bersama mereka di sana. Dora namanya. Dora merasa tak puas dengan apa yang disampaikan oleh Pak Alo. Karena itu, Dora pun langsung pergi melaporkan hal itu kepada Marthen Nai Buti. “Dora yang bawa bahasa kalau saya maki. Saya tidak maki sama sekali,” ungkapnya.

Baru selesai ceritakan kejadian sebenarnya yang terjadi pada malam itu, tiba-tiba datang dua orang adiknya Pak Alo, Padrian dan Robert Bria dari Haliwen hendak berkunjung ke rumah kakanya. Melihat kerumunan dalam rumah kakanya, Padrian pun langsung masuk. Kaget bukan kepalang saat melihat kakanya sedang diintimidasi dengan wajah dan baju basah kuyup. Padrian pun bertanya “Ada apa ini?“.

Aloysius Bian, Korban Dugaan Kasus penyerangan yang dilakukan salah satu Oknum DPRD Belu saat ditemui di kediamannya pada, Rabu (11/11/2020)

Mendengar pertanyaan itu, Marthen langsung bangun dari tempat duduknya dan langsung meninju wajah Padrian. Dengan satu jurus saja, Padrian mengelak dari tinju Marthen dan langsung mencekik Marthen di leher. Reflek saat itu, dirinya hendak meninju wajah Marthen, tapi gerakannya langsung dihentikan beberapa orang yang berada di sekitar dirinya berdiri.

Kedua tangan Padrian di pegang dan beberapa orang coba memukul dan menendangnya. Melihat itu, Robert langsung berteriak, “Jangan pukul saya pun (punya, red) kaka”. Mendengar teriakan itu, Robert langsung dikeroyok massa yang dibawa Marthen. Robert tak bisa melawan selain mengelak. Beberapa orang wanita bersama Dora langsung menyerang Robert hingga bahu sebelah kirinya berdarah.

Melihat massa yang makin membrutal, Robert dan Padrian bersama ibu Agnes pun mengambil langkah untuk melaporkan ke Polres Belu.

Di lokasi kejadian, debat terus terjadi. Marthen bersama salah seorang RT, Anton Mau Koy meminta agar masalah tersebut biarkan diselesaikan secara adat karena Marthen tahu pihak yang diserangnya telah melaporkan kasus penyerangan itu ke Polres Belu.

Saat itu, Anton memberi denda kepada Pak Alo Satu Ekor Babi dan kain karena telah memaki Marthen, padahal itu tidak dilakukan oleh Pak Alo. Sedang Marthen hanya menanggung empat kain karena telah memukul Pak Alo dan dua orang adiknya. Melihat denda yang tidak sebanding, padahal dirinya sebagai korban, Alo memutuskan untuk biarlah masalah itu damai dengan jabatan tangan saja.

“Saya ini korban. Saya diserang, tapi saya dapat denda adat lebih besar daripada mereka yang merupakan pelaku. Kalau begitu, biar saja kita tidak usah damai pakai acara adat, kita jabat tangan saja,” kesannya.

Pak Alo mengaku bahwa dirinya terpaksa harus berdamai karena takut rumahnya dibakar. Diceritakan, rumahnya pernah dihancurkan massa beberapa waktu lalu. Semua kaca rumahnya pecah dilempari orang. Trauma dengan kejadian itu, ditambah ada teriakan massa untuk membakar rumahnya saat datang bersama Marthen, maka dalam tekanan dirinya memutuskan untuk berdamai.

“Jujur, saya terpaksa harus berdamai dengan mereka. Saya takut kalau rumah saya nanti mereka bakar. Waktu mereka datang, mereka sempat teriak mau bakar rumah to. Dulu rumah saya pernah dilempari batu. Semua kaca rumah pecah,” ungkapnya.

“Tapi, itu damai dengan saya. Untuk damai dengan adik dua orang ini, itu bukan urusan saya. Kalau mereka mau damai… baik, tapi kalau tidak juga terserah mereka,” Lanjutnya.

Padrian mengungkapkan bahwa dirinya sama sekali tidak ingin berdamai. Dirinya hanya ingin agar biarlah masalah ini diselesaikan oleh pihak yang berwajib.

“Saya tidak mau damai. Coba Pak Marthen punya kaka saya pukul di depan pak Marthen. Apakah pak Marthen hanya diam dan mau berdamai dengan saya? Sudah pasti dia juga tidak mau. Kalau saya, biar masalah ini tetap ditangani oleh pihak yang berwajib,” kesal Padrian.

Hal senada juga diungkapkan oleh Robert. Dirinya tegas mengatakan untuk tidak ingin berdamai dengan para pelaku.

“Mereka rencana untuk damai hari Sabtu (14/11/2020) nanti. Saya tidak akan datang karena saya tidak mau damai. Biar ini masalah polisi yang tangani saja,” tegas Robert.

Pak Alo kesal dengan sikap oknum wakil rakyat yang seharusnya menunjukkan dirinya sebagai anak Belu yang berbudaya. Bila ada masalah, coba dicari tahu akar masalahnya, bukan datang langsung menyerang. “Siapa tahu yang dia dengar itu salah. Kalau benar pun, maka sebaiknya diselesaikan dengan adat kebiasaan kita orang Belu, bukan dengan gaya premanisme seperti itu. Jujur saya menyesal”.

Marthen Nai Buti yang dihubungi media ini mengungkapkan bahwa masalah tersebut sudah diselesaikan dengan perdamaian hari itu juga. Dirinya tak ingin memperpanjang masalah.

“Ah sudah beres. Sudah damai. Damai hari itu memang,” tutur Marthen saat dihubungi via telepon seluler pada Kamis (12/11/2020).

Ditanya soal akar masalah, Marthen mengungkapkan bahwa masalah itu terjadi karena diskusi politik yang yang tidak terkontrol akibat pengaruh alkohol.

“Biasa. Politik kalau sudah diskusi dengan mabok itu kan tidak kontrol akibatnya omong sembarang,” ungkapnya.


Reporter: Ricky Anyan


Komentar