Beranda Hukum & Kriminal Jawaban DPP Paroki Atapupu Kontradiktif dengan Jawaban Bupati Belu Terkait Ekskavator Bantuan...

Jawaban DPP Paroki Atapupu Kontradiktif dengan Jawaban Bupati Belu Terkait Ekskavator Bantuan Kementerian

1991
0

Belu, Flobamoranews.com – Polemik jawaban Bupati Belu terkait bantuan Ekskavator dari Kementerian Kelautan dan Perikanan kepada Paroki Sta. Stelamaris Atapupu tahun 2016 silam sangat kontradiktif dengan apa yang disampaikan oleh DPP Paroki Atapupu.

Bupati Belu mengaku kepada awak media beberapa waktu lalu (4/9/2020) bahwa pasca dilantik 2016 silam, ada kunjungan Dirjen Kementerian Kelautan dan Perikanan ke Kabupaten Belu.

Dalam kunjungan itu, Dirjen melihat tambak warga tidak begitu dalam. Hal itu terjadi karena keterbatasan peralatan. Kemudian Dirjen mengemukakan kalau butuh, ada ekskavator yang belum dibagikan. Karena itu, perlu ada proposal untuk mendapatkan hibah tersebut. Namun dalam perjalanan pengurusan administrasi, ada perubahan nomenklatur dimana tidak diperbolehkan adanya hibah oleh Pempus kepada Pemda. Hibah hanya diperbolehkan kepada kelompok masyarakat.

Melihat urgennya ekskavator itu, dirinya kemudian mengambil inisiatif untuk menghubungi Almarhum Romo Maxi Alo Bria untuk membentuk kelompok masyarakat, sehingga bisa mendapatkan hibah itu. “Romo menyetujui inisiatif itu kemudian membentuk kelompok Paroki Sta. Stella Maris Atapupu bersama beberapa masyarakat setempat,” tuturnya.

Alhasil, hibah tersebut diperoleh kelompok masyarakat setempat. Namun, saat ekskavator tiba, Romo Maxi meminta agar dikelola oleh pihaknya, sebab selain tidak ada tempat penyimpanan juga terbentur biaya operasional dan perawatan yang tinggi.

Karena kondisi itu, Romo Maxi menyerahkan ekskavator tersebut untuk kemudian dikelola demi melayani kebutuhan masyarakat umum di Kabupaten Belu.

jawaban tersebut sangat kontradiktif dengan apa yang disampaikan Ketua II DPP Paroki Atapupu, Fransiskus Saik Lopes di hadapan para anggota Dewan pada, Kamis (3/9/2020) .

Fransiskus menceritakan bahwa pada tahun 2016, uang kas Paoki Atapupu mencapai 1,267 Milyar Rupiah. “Apakan dengan uang sebesar itu kami tidak mampu membiayai operasional barang itu?”

Diceritakan bahwa pada tahun 2016 silam, Alm Rm. Maksi Bria, Pr yang menjabat sebagai Pastor Paroki Sta. Stella Maris Atapupu saat itu memanggil dirinya bersama para anggota DPP dan memberitahukan bahwa Pemerintah Pusat melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan akan memberikan bantuan berupa sebuah Ekskavator.

Pada pertemuan singkat itu, Fransiskus memberi saran kepada Rm. Maksi, Pr, “Romo bersama dewan paroki yang mengamankan aset-aset paroki silahkan membentuk kelompok.”

Saran itu pun diterima oleh Romo bersama dewan paroki lainnya. “Entah Kelompok itu sah menurut hukum atau tidak, tapi barang itu ada dan sudah dikirim oleh pemerintah Pusat dan barang buktinya ada. Sayangnya, sampai saat ini barang belum sampai ke Paroki Atapupu,” ujar Fransiskus.

Sesudah itu, lanjutnya, di akhir tahun 2016, Rm. Maksi Bria, Pr mengumumkan di mimbar gereja, “Kita harus berterima kasih kepada pemerintah karena kita akan diberikan bantuan satu buah ekskavator dari Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk kita manfaatkan di lahan pesisir pantai ini. Mungkin ada yang punya lahan tambak ikan atau atau tanpa garam atau apapun itu silahkan gunakan alat ini dan tetap kita sewa sesuai standar yang ada,” ujar Fransiskus mengenang kembali apa yang pernah disampaikan Alm. Rm. Maksi Alo Bria, Pr.

Dalam perkembangannya pada tahun 2017 barang tersebut tak kunjung sampai di paroki. Akhirnya banyak umat yang mulai membicarakan, “Wah ne’e Na’i Lulik no dewan sia faan tian buat ne’e (wah ini, para pastor dan dewan paroki sudah jual barang ini, red)”.

“Dalam setiap laporan keuangan tidak pernah ada laporan penerimaan barang tersebut. Itulah yang kami rasakan,” lanjutnya.

Karena isu liar semakin berkembang di kalangan umat, akhirnya Fransiskus mendesak Alm. Rm. Maksi Alo Bria, Pr untuk segera pergi menanyakan keberadaan ekskavator ke Bupati Belu. Menurut informasi yang mereka dengar, Ekskavator itu sudah diberikan ke Pemda Belu. Hanya saja, pihak Paroki Atapupu sama sekali belum mendapat informasi, kapan barang tersebut akan diserahkan Pemda Belu kepada pihak Paroki Atapupu.

Saat pihak DPP mendesak, Romo Maksi mengatakan, “Ita ne no folin. Ema fo, ita simu. Tapi tane liman mak labele (Kita ini ada harga diri. Orang beri, kita terima. Tapi mengemis yang tidak boleh, red)”.

Maka, Fransiskus bersama DPP lainnya mengikuti apa yang disampaikan oleh Pastor Paroki Atapupu.

“Kami diam… ikut perintah romo. Orang kasih kita terima, tapi minta yang tidak boleh. Segala sesuatu sudah kita buat, tapi kalo orang tidak kasih… jangan paksa diri, kita ini orang miskin”. Demikian ujar Fransiskus dengan suara terbata-bata sembali menghapus air matanya yang menetes kala mengenang kembali petuah yang disampaikan Alm. Romo Maksi Alo Bria, Pr.

Sesuah itu, masih banyak umat yang menuding kalau Ekskavator tersebut sudah dijual oleh romo dan dewan paroki. Romo Maksi Alo Bria, Pr menyampaikan kepada Fransiskus, “Kaka, itu kita pun Salib. Salib itu harus diterima. Kita harus bisa meyakinkan umat bahwa barang itu belum ada di tangan kita,” ungkap Fransiskus meniru apa yang disampaiakn Alm. Romo Maksi Alo Bria, Pr kepadanya.

Dikatakan bahwa, saat Alm. Romo Maksi Alo Bria, Pr sudah pindah dari Paroki Atapupu ke Paroki Lebur, umat sudah tak lagi membicarakan soal keberadaan ekskavator itu.

“Kami tahu ekskavator ini barang mahal… kami tidak mimpi. Sejak Paroki Atapupu dipimpin oleh imam imam Yesuit pada tahun 1906, dilanjutkan oleh imam-imam SVD, dan pada tahun 1990 dipimpin oleh imam-imsm Projo, kami umat Atapupu sama sekali tidak mimpi barang ini karena barang ini barang mahal. Jadi sudah kami sudah lupa,” ungkapnya.

Walaupun akhir-akhir ini, banyak postingan di facebook terkait ekskavator bantuan Kementerian Kelautan dan Perikanan kepada Paroi Atapupu, soal bawang tuk tuk, soal maek bakau, soal ubi ungu, soal air mota moru, dan lain lagi, namun Umat Paroki Atatpupu tetap diam. Hal itu karena mereka tahu bahwa isu tersebut dibuat lantaran situasi politik di Kabupaten Belu.

“Walau akhir-akhir ini pada postingan facebook, banyak orang membicarakan soal ekskavator bantuan kementerian kepada Paroki Atapupu, soal bawang tuk tuk, soal maek bakau, soal ubi ungu, soal air mota moru, dan lain lagi… kami tidak pusing. Kami diam. Sebenarnya kalau kami mau omong, kami bisa omong soal ekskavator ini karena berhubungan dengan kami. Tapi karena ini sudah ada urusan politiknya, maka kami diam,” ungkapnya.

Akan tetapi, ada sebuah status dari akun Facebook Helio Caetano Moniz yang menurut umat Paroki Atapupu sangat mengganggu dan menyakitkan hati mereka. Dalam status tersebut, Akun Helio menyebut nama Rm. Maksi Alo Bria, Pr dengan sebutan Romo Bria.

“Mungkin secara hukum benar. tapi menurut nurani kami umat Atapupu yang hidup bersama Romo selama 18 tahun, sangat mengganggu nurani kami. Kami biasa memanggil Romo Maksi atau Nai Romo atau Bapa Romo karena kami sangat menghagai beliau. Kami sangat tidak senang dengan panghilan terhadap Romo Maksi dengan panggilan seperti yang dibuat Helio. Apalagi saat ini beliau sudah tiada, tapi namanya dipakai untuk tipu-tipu. Itu sama saja dia telah menginjak martabat dan harga diri kami umat Paroki Atapupu,” ungkap Fransiskus dengan berlinang air mata.

“Kami sudah tidak dikasih Ekskavator, baru tipu lagi pernyataan beliau ini. Mudah-mudahan pernyataan itu benar,” lanjutnya.

Usai lakukan pertemuan bersama Komisi II DPRD Belu, Umat Paroki Atapupu bersama beberapa Anggora DPRD Belu dan insan pers langsung berjalan menuju Asphalt Mixing Plant (AMP) Lelowai, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu wilayah Perbatasan Negara RI-RDTL. Menurut informasi yang diterima oleh para anggota DPRD Belu, Ekskavator tersebut berada di AMP milik Bupati Belu, Willybrodus Lay.

Sesampai di lokasi tersebut, benar adanya, ternyata bantuan Ekskavator yang diberikan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan tersebut berada di AMP milik Bpati Belu. Sayangnya, Ekskavator yang belum diterima oleh Umat Paroki Atapupu itu ditemukan dalam keadaan rusak berat. Ekskavator yang bermerek Komatsu tersebut ditemukan di lokasi AMP milik Bupati Belu sebelum digunakan oleh kelompok yang diberikan bantuan. Pada Bagian samping dan belakang Ekskavator itu, ada sebuah lambang dan tulisan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya tahun 2016.


Reporter: Ricky Anyan


Komentar