Beranda Lintas NTT Julie Laiskodat Minta Mama-Mama di Belu Jangan Jual Tenun Ikat ke Pemerintah...

Julie Laiskodat Minta Mama-Mama di Belu Jangan Jual Tenun Ikat ke Pemerintah yang Bermental Pengepul

596
0

Belu, Flobamora-news.com – Salah satu potensi dan kekayaan yang dimiliki oleh masyarakat NTT adalah Tenun ikat. Demikian halnya juga dengan Kabupaten Belu. Kecerdasan yang diturunkan oleh nenek moyang dituangkan dalam berbagai motif tenun ikat yang berfariasi dan memiliki cerita yang berbeda-beda. Hal inillah yang membuat nilai jual dari tenun ikat itu semakin tinggi di pasaran.

Melihat potensi ini, Pemerintah Kabupaten Belu di bawah asuhan Dekranasdah gencar mempromosikan tenun ikat Kabupaten Belu ke luar daerah, bahkan hingga ke manca negara.

Sayangnya, kehidupan mama-mama penenun di Kabupaten Belu terus mengalami keterpurukan dalam bidang ekonomi. “Hidup enggan, Mati tak mau” adalah pepatah yang bisa disematkan kepada diri mereka. Akibatnya, mama-mama penenun di kabupaten Belu lebih memilih menenun hanya sebagai sebuah hobi untuk melestarikan tradisi budaya yang sudah diturunkan oleh nenek moyang mereka daripada menjadikannya sebagai sebuah mata pencaharian.

Pemeintah daerah Kabupaten Belu di bawah kepemimpinan Willy Lay-J.T Ose Luan tak memandang hal ini sebagai sebuah masalah, tapi lebih pada bisnis. Pemerintah yang seharusnya bertanggung jawab untuk melestarikan budaya dan menghidupi mama-mma penenun malah terkesan membunuh para penenun secara perlahan.

Keluhan ini pun sampai ke telinga Ketua Dekranasdah Provinsi NTT, Julie Laiskodat saat melakukan kunjungan ke Kabupaten Belu, pada Minggu (11/10/2020). Kepada Julie, mama-mama penenun menyampaikan berbagai keluhan yang selama ini mereka alami. Setelah bersusah payah merakit tenun ikat menjadi sebuah kain yang memiliki kualitas tinggi, namun hasilnya dihargai sangat rendah oleh Pemerintah Kabupaten Belu. Mereka mengibaratkan Pemerintah Kabupaten Belu seperti pengepul yang menekan harga serendah mungkin untuk dijual kembali dengan harga yang ssangat tinggi.

Kepada mama-mama penenun di Kabupaten Belu, Julie Laiskodat mmenyampaikan bahwa ada dua maslah utama yang dialami oleh mama-mama penenun di NTT. Masalah pertama adalah soal modal dan peralatan, dan kedua adalah masalah pemasaran.

Menurutnya, pemerintah seharusnya bertanggung jawab penuh untuk mengatasi dua masalah ini. Pemerintah bukan hadir untuk merugikan masyakaratnya sendiri.

Julie meminta kepada mama-mama penennun agar tidak boleh mematok harga yang terlalu tinggi, pun tidak bboleh terlalu rendah. Dikatakan, untk bisa mematok harga, maka mama-mama penenun harus mampu menghitung berapa modal yang sudah mereka keluarkan di tambah biaya tenaga selama pengerjaan serta kualitas dari barang tersebut. Dari situlah, harga pasar dapat ditetapkan oleh mama-mama.

Kita bisa menjual dengan membandingkan modal ditambah biaya tenaga. setelah itu kita dapat menjual dengan berbagai cara baik itu melalui online, maupun mama-mama bisa langsung menjual ke Dekranasdah Provinsi NTT. Kami siap beli karena tugas pemerintah untuk menghidupkan masyarakatnya. Tinggal nanti kami di Dekranasda provinsi NTT mengatur bagaimana mekanisme pemasarannya.

Dikatakan lebih lanjut bahwa tugas pemerintah adalah menghidupi masyarakatnya, bukan malah merugikan masyarakatnya. Karena pemerintah bukan bermental pengepul yang membuat rugi masyarakat demi mencari keuntungan bagi mereka.

“Kalau mama jualnya ke pengepul, ya nggak tahu yang tadi mama sebut itu siapa… tapi kayaknya dia pengepul begitu kah?” Demikian sindirnya sembari tertawa. “Kalau pengepul pasti dia tekan kalian supaya dia bisa untung. Kami pemerintah harusnya bukan begitu,” lanjutnya. Mama-mama penenun yang hadir pun sontak menjawab, “ya betul…!”

Mendengar berbagai keluhan yang disampaikan mama-mama penenun, Julie pun meminta kepada kedua istri pasangan Calon Bupati dan dan Wakil Bupati dari Paket Sehati buntuk membawa beberapa kelompok tenun ikat di Kabupaten Belu menemui dirinya di Kantor Dekranasda Provinsi NTT tanggal 17 Oktober nanti. Mama-mama penenun diminta untuk membawa hasil tenunannya untuk di beli oleh Dekranasda Provinsi NTT sekaligus untuk saling berbagi pengalaman dalam proses pemasaran tenun ikat.

“Bawa kalian punya tenun ke dekranasdah (Provinsi NTT, red), sekalian saya ketemu dengan mama dong di sana. Kita makan bersama di dekranasda,” tutupnya.


Reporter: Ricky Anyan


Komentar