Beranda Rohani Kalabendu (Zaman yang Buruk)

Kalabendu (Zaman yang Buruk)

484
0

(Kis. 16: 1-10, Yohanes 15.18-21)

Salah satu ramalan Jayabaya adalah adanya Zaman Kalabendu.

Zaman kalabendu adalah zaman tidak enak, sengsara. Pada zaman itu disebutkan, akan ditandai dengan adanya banyak orang yang serakah, lupa asal usulnya. Orang bejat naik pangkat, banyak orang berpangkat makin jahat, orang jujur hancur lebur, orang benar disingkirkan, orang kecil makin terpencil.

Orang mudah terbakar nafsu, ketidak adilan meraja lela, mereka yang bersuara keras dianggap pandai dan benar sehingga banyak pengaruhnya.

Situasi masyarakat seperti di atas, kiranya pada masa ini pun masih terjadi. Artinya bahwa kita berada dalam situasi itu.

Ketika orang memilih untuk hidup baik dan benar sebagai perwujudan imannya, maka penolakan dan penderitaan yang akan diterimanya. Semakin baik dan lurus pilihan hidup seseorang, maka semakin besar penderitaan yang akan ditanggungnya.

Sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan Yohanes menyebutkan:”Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, sebab Aku telah memilih kamu dari dunia, maka dunia membenci kamu.”

Sabda Tuhan itu seolah menggambarkan apa yang sedang banyak orang alami. Saat seseorang memilih untuk hidup di jalan Tuhan, maka ia bagai berjalan melawan arus yang deras. Di saat ia hidup dalam kebenaran dan keadilan, hidup begitu sulit dan penuh derita, tetapi teman sebelah, hidup dengan kemudahan dan kegembiraan.

Di saat ia berjalan dalam rel yang semestinya, tembok-tembok besar dan kuat yang dihadapi, tetapi teman sebelah yang berjalan di luar rel, jalannya mulus dan nyaman.

Di saat ia mengikuti proses yang baik dan benar, tidak ditemukan tujuannya. tetapi teman sebelah, yang mengabaikan proses dengan menghalalkan segala cara begitu mudah sampai di tujuan.

Berada dalam situasi seperti itu, banyak penderitaan yang harus ditanggung oleh orang yang memilih untuk hidup baik dan semakin baik.

Namun penderitaan terbesar ternyata bukan karena kebencian orang-orang di sekitar, bukan pula karena harus melawan arus deras. Akan tetapi penderitaan terbesar adalah mengalahkan diri sendiri.

Kerelaan, Ketekunan dan kesetiaan pada pilihan untuk menyangkal diri, agar lewat hidup sehari-hari semakin menjadi pujian, penghormatan dan pengabdian pada Allah, adalah salib besar yang harus selalu pikul.

Apakah aku mau dan mampu?

Romo Iwan Subandi, Pr
(Imam praja anggota Diosis / Keuskupan Bandung. Aktif bergiat di Komisi Kerawam KWI)


Reporter: Ricky Anyan


Komentar