Beranda Kesehatan & Pola Hidup Kantong Plastik Saksi Penderitaan Constantiano Selama 11 Tahun

Kantong Plastik Saksi Penderitaan Constantiano Selama 11 Tahun

247
0

MALAKA, Flobamora-news.com –
Kisah pilu Constantiano Soares bocah berusia 11 yang menderita sejak lahir hingga saat ini belum teratasi. Bocah ini sejak lahir tidak memiliki anus seperti bayi normal lainnya. Ia buang air besar melalui kemaluannya. Atas bantuan saudara dan keluarga Constantiano sempat dioperasi. Duburnya dipindahkan di bawah perut. Menurut keterangan orang tuanya Lima tahun harus kembali untuk operasi namun terkendala biaya.

Ini Kisahnya:

11 tahun yang lalu di Kabupaten Malaka tepatnya tanggal 22 November 2009
di Dusun Sukabisikun Desa Litamli Kecamatan Kobalima Kabupaten Malaka Nusa Tenggara Timur telah lahir seorang bayi laki-laki dari pasangan Alvaro Pereira dan Agustinha Da Costa. Bayi laki-laki ini diberi nama Constantino Soares.

Constantino Soares, sejak lahir sudah menderita. Pasalnya sejak lahir, Constantino harus dilarikan ke Puskesmas Namfalus kemudian di rujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Atambua hingga Rumah Sakit Umum (RSU) W.Z. Yohanes Kupang karena tidak memiliki Dubur (Anus) seperti bayi lain pada umumnya.

Hasil pemeriksaan Dokter di Rumah Sakit Umum W.Z. Yohanes Constantino harus dirujuk ke Rumah Sakit dr. Sutomo guna penanganan lebih lanjut. Constantino tidak bisa ditangani, karena saat itu, dokter ahli bedah yang dibutuhkan tidak ada. Selama beberapa hari, Constantino hanya bisa Buang Air Besar (BAB) lewat kelaminnya.

Saat hendak berangkat orang tuanya alami kekurangan biaya. Namun atas bantuan keluarga dan saudara, Constantino akhirnya diberangkatkan ke Surabaya dan hasilnya operasi berjalan lancar. Dokter berpesan, Lima tahun lagi baru kembali ke Surabaya untuk operasi memasang kembali saluran pembuangan air besar pada tempatnya.

Sejak sudah berumur Lima Tahun bahkan saat ini sudah berusia 11 tahun Constantino belum diberangkatkan ke Rumah Sakit dr. Sutomo di Surabaya untuk opersai pemasangan Dubur pada tempatnya. Semua ini terjadi karena hingga saat ini kedua orangtuanya belum memiliki biaya untuk operasi.

Akibat tidak ada biaya untuk operasi lanjutan, Constantino Soares hanya memakai plastik seadanya untuk membungkus tempat di pinggang yang berfungsi sebagai Dubur untuk buang air besar.

Untuk sementara, Constantino hanya membuang air besar di bagian perut.

Pekerjaan ke dua orang tua Constantino adalah petani. Ibu Constantino hanya pandai menenun kain, sehingga menjadi salah satu mata pencaharian karena hasil tenunnya bisa dijual. Ayah Constantino, Alvaro Da Costa adalah petani, dengan penghasilan yang sangat terbatas.

Ayah Constantino, Alvaro, saat ditemui wartawan di rumahnya, mengeluh soal biaya untuk operasi anaknya. Untuk kebutuhan rumah tangga saja setengah mati apalagi biaya operasinya sangat mahal.

“Saya tidak punya biaya, jadi hanya pasrah saja. Semoga anak saya Constantino mendapat mujisat dari Tuhan lewat uluran tangan dari berbagai pihak”, kata Alvaro dengan sedih.

“Saat iji Constantino sudah dapat Kartu Indonesia Sehat (KIS), namun kami tidak ada biaya untuk akomodasi ke Surabaya”, ujarnya.

Constantino Saat ini duduk di bangku Sekolah Dasar Katolik (SDK) Wemasa kelas 2 (Dua). Sebelumnya Constantino sempat masuk sekolah di usia 6 tahun, namun malu karna di buli teman-teman, akhirnya tidak sekolah lagi. Constantino baru kembali bersekolah pada umur 8 tahun saat di paksa oleh seorang guru. Hasil usaha gurupun tidak sia-sia, karena Constantino mendapat nilai bagus dan juara kelas”, jelas Alvaro ayah Constantiano.


Reporter: Obor Perbatasan


Komentar