Beranda Hukum & Kriminal Kekerasan Terhadap Anggota Pena Batas RI-RDTL Kembali Terulang

Kekerasan Terhadap Anggota Pena Batas RI-RDTL Kembali Terulang

416
0

Belu, Flobamora-news.com – Kekerasan terhadap Anggota Persatuan Jurnalis Belu Perbatasan (Pena Batas) RI-RDTL Kembali Terulang. Terhitung di pertengahan tahun 2019, sudah tiga kejadian menimpa awak Pena Batas.

Pertama dilakukan oleh Panwascam Raihat, Petrus Lelo kepada Ketua Pena Batas Fredrikus Royanto Bau pada saat Pemungutan Suara Ulang di TPS 04, Dusun Fatubelar, Desa Raifatus, Kecamatan Raihat, Kabupaten Belu, Perbatasan Negara RI-RDTL, Sabtu (27/04/2019).

Kejadiannya saat wartawan TimorDaily.com itu berusaha mengambil foto dan video petugas KPPS tersebut. Namun karena berlawanan arah matahari, Jurnalis Fredrikus harus masuk ke dalam tenda (di luar area yang dibatas tali, masih di bagian pinggir luar) agar bisa mengambil foto dan video secara jelas.
Pada saat itulah Ketua Panwascam Raihat Petrus Lelo datang dan dalam jarak sekitar empat sampai lima meter dengan nada suara agak keras langsung melarang saya untuk jangan mengambil gambar di tempat itu. Padahal disaat itu ada juga anggota Panwas lainnya yang mengambil gambar dan berdiri searah dengan wartawan TimorDaily.com itu.

Kejadian kedua dilakukan oleh Kasat Resnarkoba Polres Belu, Iptu Ivans Drajat kepada salah satu anggota Pena Batas, Mariano Parada saat meliput kunjungan pejabat Timor Leste saat menjenguk tersangka kasus Narkoba di Mapolres Belu, Kamis (20/6/2019). Iptu Ivans juga menebar ancaman akan mempidanakan wartawan yang meliput peristiwa penangkapan pasangan suami isteri asal Timor Leste yang ketahuan membawa Narkoba berupa ribuan pil ekstasi sebanyak 4.874 butir di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Motaain, Kabupaten Belu, Perbatasan RI-Timor Leste, Rabu (29/05/2019) siang. Kejadian ini sempat menuai kecaman dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Provinsi NTT dan Ikatan Wartawan (Intan) Kabupaten TTU.

Kekerasan terhadap jurnalis yang tergabung dalam Pena Batas RI-RDTL ini kembali terulang. Kali ini dilakukan oleh Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Belu dari Partai PKPI, Regina Mau Loe di ruang sidang utama DPRD Belu terhadap Anggota Pena Batas RI-RDTL, Marcel Manek.

Bentuk kekerasan yang dilakukan berupa pelarangan meliput di ruang sidang oleh Regina Mau Loe ini sebenarnya buntut dari keributan antara anggota dewan lainnya dengan pejabat Pemda Belu pada sidang sebelumnya. Akibat dari keributan dua pejabat tersebut, terdapat gelas-gelas kaca yang pecah dan berserakan di dalam ruang sidang.

Hal ini menarik perhatian wartawan untuk mengabadikan momen tersebut untuk diberitakan. Pada saat akan memotret pecahan gelas tersebutlah anggota DPRD, Regina Mau Loe melarang wartawan Marcel Manek untuk tidak boleh meliput.

Menurut Regina Mau Loe, wartawan harus meminta izin pimpinan DPRD sebelum memotret pecahan gelas kaca di ruang sidang tersebut.

Marcel Manek

Wartawan Voxntt.com ini mengaku tindakan Regina Mau Loe itu sangat berlebihan dan tidak mencerminkan perilaku anggota DPRD yang memahami tugas jurnalis yang juga adalah mitra DPRD.

Menurut Marcel, Regina Mau Loe langsung datang dan terkesan menginterogasi dirinya ketika hendak memotret ruang sidang.

Dikatakan, ketika memotret pertama kali, ia tidak ditegur tapi ketika hendak memotret yang kedua kali, Regina mulai menegur dan melarangnya dengan nada tinggi. Alasan Regina, apabila ingin mengambil gambar di ruang sidang, harus atas izin.

Marcel menjawab bahwa dirinya sudah izin di depan. Mendengar jawaban Marcel, Regina kembali berbalik bahwa izin adalah porsi dan wewenang pimpinan DPRD.

“Untuk apa itu? Foto untuk apa? Kalau mau ambil gambar harus minta izin.” ujar Marcel meniru apa yang dikatakan Regina.

Saat bertanya demikian di hadapan sejumlah ASN, Marcel berusaha menjawab bahkan kembali bertanya pada Regina karena menurut Regina untuk mengambil foto sudah diatur dalam porsi dan tupoksi pimpinan.

“Saya menjawabnya bahwa saya foto untuk buat berita. Lalu dia bilang harus izin. Saya sampaikan lagi bahwa saya sudah izin di depan sebelum saya masuk ke sini. Lalu ibu Regina kembali menghardik saya. Dia bilang harus atas izin,” ujar Marsel mengenang kembali kejadian yang baru menimpanya itu.

Tak puas menghardik wartawan, Regina pergi melaporkan lagi kejadian itu ke Wakil Ketua II DPRD Belu, Jeremias Manek Junior sambil menunjuk-nunjuk ke arah Marcel. Tak lama berselang, Regina bersama Wakil ketua II, mendatangi Marcel yang sedang berdiri di lorong.

“Itu, dia, itu dia,” ujar Marcel kembali meniru kata-kata Regina yang katanya sambil menunjuk ke arah dirinya.

Terkait kejadian tersebut, Marcel merasa malu dan kesal dengan sikap anggota DPRD Belu yang arogan dan tidak paham soal kerja jurnalis. Padahal kata Marcel, dirinya sudah berusaha menjelaskan, tapi Regina tetap ngotot untuk melarang Marcel.

“Sangat disayangkan ya, ada anggota DPR, pejabat publik yang tidak paham kerja wartawan. Apa yang dia lakukan tadi sudah over lap. Saya kira dia staf security. Padahal dia anggota DPR yang mestinya paham soal kerja wartawan sehingga tidak bersikap arogan dan melebihi tupoksinya,” ujar Marcel dengan nada kesal.

Padahal menurut Marcel, ia sudah berusaha menjelaskan tapi tidak digubris oleh Regina. “Saya sampaikan kepada dia bahwa saya ambil gambar untuk buat berita. Dia bilang pimpinan sudah larang. Saya bilang kalau saya sementara menjalankan tugas, pimpinan tidak berwenang melarang saya karena saya bukan anggota DPR,” tuturnya.

Oknum Anggota DPRD Belu, Regina Mau Loe yang diduga melakukan kekerasan dengan menghardik dan melarang wartawan VoxNTT ketika dikonfirmasi oleh salah satu pengurus Pena Batas RI-RDTL melalui pesan singkat (SMS) pun belum direspon.

Ketua DPRD Belu, Januaria Awalde Berek yang dikonfirmasi membantah adanya aturan pimpinan DPRD Belu yang mengatur tentang harus ada ijin jika wartawan hendak meliput sidang DPRD Belu.

“Tidak. Paripurna (sidang) terbuka untuk umum. namun menjaga kemitraan antara kita saling komfirmasi sebelum di beritakan. Ada yang terbuka untuk umum, ada yang internal,” kata Awalde begitu akrab dikenal melalui pesan WhatsAppnya.

Informasi yang dihimpun, sidang Paripurna DPRD Belu, Senin (22/7/2019) berakhir ricuh. Kericuhan itu terjadi antara anggota DPRD Belu, Manuel Do Carmo dengan Wabup Belu, JT. Ose Luan.

Anggota DPRD Belu, Manuel Do Carmo mengakui kejadian itu dan menjelaskan, dirinya tersinggung lantaran pertanyaannya kepada Wabup yang hadir dalam sidang paripurna tidak dijawab. Bahkan, Wabup meninggalkan ruangan hal itulah yang memicu kemarahannya hingga memukul meja.

“Saya tersinggung dan marah karena pertanyaan saya tidak jawab di ruang sidang. Pak Wabup malah tinggalkan ruang sidang,” ungkap Manuel.


Reporter: Ricky Anyan


Komentar