Beranda Hukum & Kriminal Kekuatan Rakyat Pencari Keadilan Kalahkan Bupati Belu di PTUN Tinggi Surabaya

Kekuatan Rakyat Pencari Keadilan Kalahkan Bupati Belu di PTUN Tinggi Surabaya

906
0
Ratusan warga Kumpul koin Keadilan bagi Ignasius Bau

Belu, Flobamora-news.com – Masih teringat  jelas dalam benak masyarakat Belu, Ignasius Bau bersama beberapa masyarakat kecil dari Desa Leowalu, Kecamatan Lamaknen Selatan, Kabupaten Belu berjuang mencari keadilan saat Bupati Belu melakukan banding ke PTUN Tinggi Surabaya. Karena keterbatasan uang, mereka beramai-ramai mengumpul koin yang mereka namakan koin keadilan. Uang itu dipakai untuk biaya operasional perjalanan dan juga makan minum selama berada di Surabaya.

Ratusan warga yang berada di wilayah Perbatasan RI-RDTL beramai-ramai datang mengumpulkan koin keadilan guna membantu salah satu warganya, Ignasius Bau dalam menggugat keputusan Bupati Belu, Willybrodus Lay terkait pelantikan kepala Desa pada tanggal 11 November 2019 lalu.

Pengumpulan koin itu terjadi di rumah salah satu warga yang berada di RT 005 RW 003, Desa Leowalu, Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu pada Selasa (2/6/2020).

Ratusan warga yang berasal dari Desa Loewalu dan Desa Kewar itu datang dan langsung menyumbangkan uang sebesar 1000 hingga 2000 rupiah. Uang koin itu dimasukkan ke dalam sebuah dus kosong. Sumbangan itu dimaksudkan untuk membantu biaya transportasi Ignasius Bau dalam rangka mencari keadilan.

“Kami, orang tua, kasihan dengan Ignas, makanya kami kasih uang ojek untuk dia. Tidak banyak, seribu dua ribu yang penting kami bantu dia untuk cari keadilan”. Demikian ujar Yosep Tes Iki (70-an), salah seorang warga Leowalu.

Hal senada juga diungkapkan oleh Pius Siri (70-an). Dirinya menjelaskan bahwa pada Pilkades sebelumnya, warga selalu diberikan sosialisasi oleh panitia pemilihan. Akan tetapi, pada pilkades serentak tahun 2019, warga sama sekali tidak mendapatkan sosialisasi. Selain itu, hasil pemilihan Kepala Desa Leowalu tidak disetujui oleh BPD, tetapi bupati malah melantik. “Karena itu, ketika Ignas pergi cari keadilan, kami sebagai orang tua mau tidak mau harus bantu dia. Biar sedikit yang penting ada sumbangan dari kami”.

Tak hanya itu, Ignas bau bersama beberapa koleganya pun datang ke Kota Atambua membawa sebuah kotak yang bertuliskan “Koin Keadilan”. Dengan kotak itu, mereka bertemu ke Gedung DPRD Belu dan juga Polres Belu. Mereka mendapat simpati dari sebagian besar Anggota dan tiga pimpinan DPRD Belu.

Simpati masyarakat Belu baik yang berada di Kabupaten Belu maupun yang berada di tanah rantauan sangat besar. Terbukti, beberapa masyarakat yang berada di Batam pun ikut mengumpulkan koin keadilan bagi masyarakat Leowalu.

Ignas Bau, Sang Pencari Keadilan

Ignasius Bau merupakan salah satu Calon Kepala Desa Leowalu dalam Pilkades serentak 32 Desa di Kabupaten Belu yang diselenggarakan pada tanggal 16 Oktober 2019 silam.

Dalam Pilkades tersebut, menurut Ignas, ada beberapa kesalahan fatal. Kesalahan fatal yang dimaksud antara lain, ada orang tidak waras yang diperbolehkan ikut mencoblos, tidak adanya sosialisasi mengenai tata cara mencoblos, sehingga jumlah surat suara yang tidak sah melebihi surat suara yang sah.

Hal lainnya adalah, adanya peraturan bupati berkaitan dengan perhitungan suara yang telah menyebabkan hangus atau rusaknya suara rakyat yang seharusnya sah.

Atas dasar itu, usai pemilihan, Ignas bersama para pendukungnya pun langsung mendatangi Kantor Bupati Belu pada Rabu (17/10/2019). Warga meminta untuk dilakukannya pemilihan ulang karena menilai adanya kecurangan yang dilakukan oleh pihak panitia.

Warga Leowalu mendatangi Kantor Bupati Belu pada, Rabu (17/10/2019) silam

Karena tidak mendapat respon yang baik, warga pun akhirnya memutuskan untuk mengadukan permasalahan itu kepada wakil rakyat. Ignas bersama pendukungnya pun akhirnya mendatangi Kantor DPRD Belu pada Jumat (18/10/2019). Kedatangan mereka disambut baik oleh Wakil Ketua II DPRD Belu, Cypri Temu. Tuntutan mereka masih sama, Pemda Belu melakukan PSU di Desa Leowalu.

Sebenarnya Warga Leowalu tidak sendirian. Terhitung ada 9 desa yang melakukan keberatan tertulis dari 32 Desa yang melakukan Pilkades Serentak 2019 di Kabupaten Belu. 9 Desa yang bermasalah Pilkades antara lain, Desa Rafae, Teun, Lamaksanulu, Sisi Fatuberal, Leowalu, Dulaus, Umaklaran, Fulur dan Leontolu.

Merasa tak mendapat tanggapan yang memuaskan dari Pemda Belu, Ignas pun akhirnya memutuskan untuk mengajukan gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) di Kupang, Rabu (30/10/2019). Materi laporan berkaitan dengan Peraturan Bupati Belu Nomor 36 Tahun 2017 Bab IX tentang perhitungan suara Pasal 26 Ayat 3 point C dan D.

Disebutkan, point C Perbup nomor 36 tahun 2017 berbunyi, tanda coblos ganda yang berada di dalam dan di luar kotak segi empat yang memuat nomor, foto dan nama calon atau salah satu calon kepala desa.

Berikutnya point D yakni tanda coblos ganda yang berada di dalam kotak segi empat, yang memuat nomor, foto dan nama calon kepala desa dan di luar kotak segi empat dan tidak mengenai kotak segi empat yang memuat nomor, foto dan nama calon lain.

Setelah melalui perjuangan panjang, akhirnya gugatan Ignas dikabulkan oleh PTUN Kupang pada tanggal 20 Mei 2020 dengan tergugat Bupati Belu, Willybrodus Lay terkait penetapan kepala desa terpilih tahun 2019 lalu.

Putusan PTUN Tinggi Surabaya

pada Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP) PTUN Kupang disebutkan, perkara dengan nomor 102/G/2019/PTUN.KPG ini diputuskan pada Rabu (20/5/2020) lalu dengan status putusan, gugatan dikabulkan.

Terhadap putusan PTUN Kupang ini, Bupati Belu selaku tergugat mengajukan banding. Hal ini terlihat dari status perkara Permohonan Banding pada SIPP PTUN Kupang pada Kamis (28/5/2020).

Upaya hukum naik banding ini terlihat dari data pada Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP) PTUN Kupang yang menyebutkan perkara dengan nomor 102/G/2019/PTUN.KPG ini diputuskan pada Rabu (20/5/2020) tersebut telah berstatus Banding.

Cerita panjang Ignas Bau berjuang mencari keadilan berbuah emas. Upaya banding yang dilakukan Bupati Belu, Willybrodus Lay Ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Tinggi Surabaya atas putusan PTUN Kupang berujung pada kemenangan Ignas Bau, “Sang Pencari Keadilan”.

PU usan PTUN Tinggi Surabaya Nomor: 153/B/2020/PT.TUN.SBY menguatkan Putusan PTUN Kupang Nomor : 105/G/2019/PTUN – KPG.
Putusan Pengadilan Tinggi Surabaya Pada tanggal 14 Oktober 2020 dilakukan Oleh Hakim Ketua Achmad Hari Arwoko, SH.MH, Hakim Angota Hj.Evita Mawulan Akyati, SH.MH, Hakim Anggota Undang Saepudin, SH.MH.

Ignas Bau kepada media ini, Rabu (28/10/2020) mengucapkan berterima kasih kepada seluruh masyarakat yang selama ini telah membatu dirinya dengan berbagai cara. Baginya, kemenangan di PTUN Surabaya merupakan kemenangan rakyat atas ketidakadilan yang dilakukan penguasa kepada masyarakat kecil.

“Saya berterima kasih kepada seluruh masyarakat yang tumbuh lah mendukung dan membantu saya lewat caranya masing-masing. Kemenangan saya di Pengadilan ini menunjukan kemenangan seluruh masyarakat Belu atas ketidakadilan yang dibuat pemerintah kepada masyarakat Kecil,” ucapnya.

Dirinya juga berterimakasih kepada para Hakim yang telah berlaku adil kepadanya di hadapan hukum.

Ignas berharap agar apa ang menjadi tuntutannya segera dipenuhi oleh Pemda Belu berdasarkan putusan PTUN Tinggi Surabaya. Dirinya juga meminta kepada Bupati Belu, Willybrodus Lay agar tidak lagi melakukan banding ke tingkat yang lebih tinggi.

“Saya berharap agar pemerintah secepatnya menjalankan putusan PTUN Surabaya demi keadilan bagi kami rakyat Belu. Saya juga Minta suapaya Pak Bupati Willy untuk tidak lagi melakukan banding. Kasian saya masyarakat kecil ini. Mau ambil uang dari mana untuk pergi ke Jakarta? Pemerintah enak, tinggal pakai uang rakyat untik lawan saya, tapi saya mau ambil uang dari mana lagi?” Demikian ungkap Ignas.

Wakil Ketua DPRD Belu, Cypri Temu menarankan agar Bupati Belu, Willy Lay tidak boleh lagi melakukan banding. Dirinya meminta agar Pemerintah Belu segera menjalankan putusan PTUN Tinggi Surabaya.

“Stop sudah lawan rakyat! Jangan pakai uang rakyat untuk lawan rakyat hanya karena kepentingan tertentu. Jalankan saja apa yang susah jadi keputusan pngadilan. Kekalahan ini susah sangat buat kita pemerintah jadi malu. Pakai uang rakyat untuk lawan rakyat setelah itu kalah lagi, bikin malu saja,” tegasnya.


Reporter: Ricky Anyan


Komentar