Beranda Lintas NTT Kematian Pengungsi Bukti Buruk Penanganan Korban Bencana di Kabupaten TTS

Kematian Pengungsi Bukti Buruk Penanganan Korban Bencana di Kabupaten TTS

387
0

SOE, Fflobamora-news.com – Felpina Muskanan (49) pengungsi badai Siklon Tropis Seroja dan banjir Bandang meninggal dunia. Pasalnya selama Tujuh hari mengungsi korban didata oleh petugas medis namun tidak pernah mendapat perawatan medis atau diberikan obat. Hal ini disampaikan oleh suami korban Yakob Pitay di posko pengungsian di kantor Desa Bena Kecamatan Amanuban, Kabupaten Timor Tengah Selatan Provinsi Nusa Tenggara Timur pada, Sabtu (10/4/2021).

Menurit Yakob bahwa karena adanya banjir di tempat tinggalnya tepatnya di Dusun Toinunu, ia bersama korban dan anak-anak mengungsi ke Posko pengungsian pada Minggu (4/4/). Almarhumah sudah dua tahun terakhir menderita penyakit stroke sehingga  sehari-harinya hanya terbaring ditempat tidur. Saat tiba di Posko pengungsian, sempat didata oleh petugas medis. Namun selama berada di Posko korban tidak pernah mendapat perawatan medis atau diberikan obat.

“Isteri saya memang sudah dua tahun sakit stroke dan sehari-hari hanya berbaring saja. Tadi siang sempat makan siang. Usai makan lalu tidur dan meninggal dunia sekitar pukul 14.00 WITA. Saya sangat sedih dan menerima kematian sang istri sebagai ajalnya”, kata Yakob

“Jenazah istri saya rencananya besok hari Minggu (11/4)  akan dimakamkan di halaman rumah kami di Dusun Toinunu pada Minggu (11/4)”, jelas Yakob.

Camat Amanuban Selatan, Jhon Asbanu mengatakan, dirinya telah melaporkan kematian salah satu pengungsi tersebut kepada Bupati. Peti untuk korban Pak Bupati yang tanggung dari Soe.

Yusuf Soru : Kematian Pengungsi Bukti Buruk Penanganan Korban Banjir

Sementara itu Wakil Ketua DPRD TTS, Yusuf Soru menyesalkan kematian Felpina Muskanan (49) pengungsi banjir Bena, di Posko pengungsian. Massa selama Tujuh hari berada di Posko pengungsian, korban yang diketahui menderita penyakit stroke tidak pernah mendapatkan perawatan medis. Bahkan saat korban meninggalpun, tidak ada satu pun petugas medis di lokasi.

“Saya sudah bilang ke ibu Kepala Dinas Kesehatan dan ke Pak Bupati bahwa pos medis itu harus ada di posko pengungsian. Petugas medis, peralatan medis serta obat-obatan harusnya stand by di posko pengungsian. Terbuktikan hari ada pengungsi yang meninggal tanpa pernah mendapatkan perawatan medis di Posko pengungsian,” ujarnya dengan nada kesal.

Dirinya meminta kepada Pemda untuk segera mendirikan pos kesehatan di Posko pengungsian. Petugas medis harus stand by berada di lokasi. Mobil ambulans dengan peralatan medis juga harus stand by di lokasi. Selain itu, seluruh pengungsi harus mendapatkan pemeriksaan kesehatan.

“Saya minta, petugas medis harus stand by di lokasi posko. Mobil ambulance dengan peralatan medis juga harus stand by di lokasi untuk membantu para korban,” pintanya.

Dirinya juga menyoroti lambatnya penanganan terhadap jenazah korban. Tiga jam jenazah korban berada di Posko karena harus menunggu peti jenazah dan formalin dari Soe.

“Klasihan ini sudah tiga jam jenazzah korban dibiarkan berbaring di atas lantai hanya beralas tikar saja,” terangnya.

“Bangunan MCK yang dibangun oleh Pemda di lokasi   tersebut tak layak. Bagaimana bangunan MCK pakai daun gewang begitu. Kita kayak tidak ada uang beli triplek atau seng. Sudah begitu tidak ada atapnya lagi,” pungkasnya.


Reporter:   Yor.T


Komentar