Beranda Hukum & Kriminal Keterangan Berbeda, Saksi Penggugat Kebingungan Menjawab Pertayaan Majelis Hakim

Keterangan Berbeda, Saksi Penggugat Kebingungan Menjawab Pertayaan Majelis Hakim

533
0

SOE, Flobamora-news.com – Keterangan ketiga saksi penggugat berbeda saat ditanya Majelis Hakim terkait hal tersebut, saksi kebingungan menjawab pertanyaan tersebut. Seperti diketahui Hendrik Tasuab warga Desa Tutem Kecamatan Tobu, menggugat Oktofianus Toto sebagai tergugat 1 dan Yuliana Haekase sebagai tergugat 2, atas kasus perbuatan melawan hukum. Kedua tergugat adalah warga Desa Tutem. Sidang lanjutan kasus Perdata ini dipimpin oleh Hakim Ketua John Michael Leuwol S.H. dan Hakim Anggota I Putu Dima Indra,SH dan I Putu Agung Baharata,SH dengan agenda pemeriksaan saksi penggugat, dilakukan di Pengadilan Negeri Timor Tengah Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Timur pada, Kamis (28/05/2020).

Menurut keterangan saksi penggugat, Tobias Tasuab bahwa, Hendrik Tasuab (penggugat) memeliki sapi Enam ekor, dengan rincian sapi betina Lima ekor dan sapi jantan Satu ekor yang adalah sapi sengketa sekarang.

Lanjut saksi, pada tanggal, (30/12/2017) ke Enam ekor sapi tersebut dimasukan untuk di cap dan di beri hetis (potong telinga) namun setelah kelima sapi betina di cap dan dihetis. Saatnya mau cap sapi jantan yang umurnya, Satu tahun Enam bulan, sapi tersebut lompat pagar kandang sehingga tidak sempat di cap dan dihetis (potong telinga) sampai sekarang. dan saat sapi jantan ini lompat pagar kandang maka kaki kanan bagian dalam dan perut bagian kanan tertikam kayu pada pagar sehingga luka. Sapi jantan tersebut tidak di cap lagi karena sudah ada bekas luka tikaman pada bagian paha dalam dan perut kanan bagian dalam. Pada tahun 2017 kelima.sapi betina di cap dan sapi jantan tidak jadi dicap. Pada tahun 2019 sapi jantan tersebut dinyatakan hilang, namun saksi mengatakan bahwa “saya masih ingat persis sapi tersebut karena ada tanda luka pada bagian paha kanan bagian dalam, dan bekas luka pada perut kanan bagian dalam sehingga terlihat jelas sampai saat ini”.

Saksi Tobias juga mengatakan bahwa tergugat Oktofianus Toto memiliki Enam ekor sapi betina, dan tidak ada sapi jantan.

“Pada tanggal 28/11/2019 saksi dan penggugat bersama empat orang lainnya menemukan sapi sengketa dalam keadaan diikat pada pohon dekat depan rumah tergugat Satu dan tergugat Dua, dan saat itu kami bersama-sama dengan penggugat pergi menemui tergugat Oktofianus Toto guna memberitahu tergugat Oktofianus Toto bahwa sapi yang sementara diikat di depan rumah adalah sapi milik Hendrik Tasuab, namun tergugat tidak ada dirumah sehingga saksi bersama penggugat dan 4 orang yang ikut mencari pergi melapor ke ketua RW.03 Desa Tutem”, kata Oktofianus

Pengacara penggugat, Simon Tunmuni,SH menanyakan umur sapi sengketa sekang berapa, dan saksi penggugat mengatakan bahwa sapi tersebut umurnya sekitar 3 tahun lebih atau 4 tahun, dan kalau di jual harganya, kurang lebih 15 juta.

Melihat keterangan saksi yang berbeda Majelis Hakim mempertanyakan hal tersebut dan saksi kewalahan menjawab pertanyaan hakim. Karena menurut saksi bahwa sapi yang di cap pada bulan Desember 2017 berjumlah 6 ekor, dan induk sapi sengketa berumur 4 tahun, serta induk sapi sengketa dibeli oleh penggugat pada tahun 2014 di pasar Lili Kbupaten Kupang, dan sebelum induk sapi sengketa di beli, maka penggugat Hendrik Tasuab sudah memiliki sapi 5 ekor betina dan ditambah dgn sapi induk sapi sengketa berjumlah 6 ekor, dan pada tahun 2017 saat sapi-sapi milik penggugat dicap maka sapinya berjumlah 6 ekor dan jika di tambah dengan sapi sengketa berarti jumlah sapi tersebut tujuh ekor. sidang di skor dan akan di lanjutkan pada pukul 13:30 WITA, dengan agenda pemeriksaan saksi berikut. Setelah sidang di skors,

Sidang dilanjutkan pada pukul 13:00 WITA dengan pemeriksaan saksi berikut dari penggugat, Mateos Mnune, dari Desa tutem kecamatan Tobu, dalam keterangamnya bahwa sapi sengketa yang mau di cap dan di Hetis (potong telinga) pada tanggal 30/12/2017 pada saat itu berulah berumur 1 tahun 6 bulan, dan induknya yang juga di cap berumur 4 tahun, serta jumlah sapi yg mau dicap ada 6 ekor termasuk sapi sengketa, namun sapi sengketa tidak sempat di cap dan di hetis karena sapinya sudah lompat keluar dari kandang, dan tinggi kandang tersebut kurang lebih 2 meter. jelas saksi penggugat. Sejak sapi loncat keluar dari kandang tidak pernah masuk kandang lagi sehingga tidak pernah di cap dan di hetis (potong telinga). Saat loncat keluar sapi tersebut tertikam pagar kandang di kaki kanan bagian dalam dan perut kanan bagian dalam.

Sidang ditutup dan akan di lanjutkan pada hari Kamis tanggal 4 juni 2020.

Foto: Pengacara tergugat Nikolaus Toislaka S.H.

Pengacara dari tergugat Nikolaus Toislaka,SH, kepada media ini mengatakan bahwa, kami sudah mendengarkan keterangan saksi penggugat dan sebagai pengacara tergugat kami akan muatkan dalam kesimpulan kami nanti. karena berkaitan akan ada pemeriksaan saksi berikut, serta akan dilakukan Pemeriksaan Setempat (PS) dan itu yang akan membuktikan bahwa sapi tersebut adalah milik penggugat atau tergugat.


Reporter: Jor Tefa


Komentar