Beranda Hukum & Kriminal Kinerja Polsek Tasbar Terkait Kasus Pengeroyokan di Kimbana Dipertanyakan

Kinerja Polsek Tasbar Terkait Kasus Pengeroyokan di Kimbana Dipertanyakan

917
0

Belu, Flobamora-news.com –Kinerja Polsek Tasifeto Barat (Tasbar), Polres Belu dalam proses Hukum Kasus pengeroyokan Chrisantus Hale dan Primus Hale oleh segerombolan pemuda di jalan raya depan gudang Gemilang Dopping Kimbana pada saat malam tutup tahun 2019 lalu menuai aksi protes orang tua korban. Aksi protes itu dilakukan lantaran proses hukum kasus tersebut terkesan jalan di tempat.

“Kasusnya sudah dilaporkan setelah kejadian malam itu juga, ( 31/12/2019). Tapi kenapa sampai hari ini polisi belum menetapkan tersangka padahal para pelaku kasus ikutan tanggal 02 Januari di tugu bundaran Halilulik sudah diproses hukum bahkan pelakunya sudah ada yang divonis, kok kasus awalnya sampai hari ini sepertinya tidak ada perkembangan sama sekali. Selaku kuasa hukum para korban kami patut pertanyakan kinerja penyidik seperti ini,” ungkap kuasa hukum para korban, Silvester Nahak didampingi orang tua korban. Fransiskus Hale saat ditemui wartawan di Atambua kemarin (10/02/2020) siang.

Menurut Silvester, proses hukum kasus ini sebenarnya tidak terlalu sulit karena telah didukung oleh alat bukti dan saksi yang memadai. Karena itu, penyidik tidak bisa beralasan proses Hukum kasus ini terhambat oleh karena kekurang saksi dan lain sebagainya.

“Ada saksi korban yang didukung dengan hasil visum dokter, secara hukum ini dua alat bukti sudah cukup kuat untuk polisi tetap tersangka,” jelas Nahak.

Ditegaskan, penyidik tidak bisa berdalil bahwa proses hukum kasus ini tersendat karena kekurangan saksi dan alat bukti lainnya. Penyidik berkewajiban mencari dan menghadirkan saksi jika membutuhkan saksi dalam proses penyelidikan.

“Kalau penyidikan keterangan saksi korban dan hasil visum belum kuat secara hukum, maka itu menjadi tanggung jawab penyidik untuk mencari dan menghadirkan saksi atau alat bukti pendukung lain. Bukan malah beralasan kurang saksi dan lain sebagainya,” protes Silfester Nahak.

Selain kasus pengeroyokan Irsan Hale dan Primus Hale, kuasa hukum juga mempertanyakan perkembangan proses hukum kasus penyerangan dan perusakan enam buah rumah oleh keluarga pengeroyokan tanggal 02 Januari lalu. Pasalnya proses hukum kasus ini pula hingga kemarin belum ada tanda-tanda kemajuan yang berarti.

“Kasus perusakan enam buah rumah ini terjadi akibat kasus pengeroyokan Robert oleh Irsan dan Primus di patung bundaran Halilulik tanggal 02 Januari. Herannya, kasus pengeroyokannya jalan lancar sampai ada pelaku yang sudah fonis, sedangkan kasus perusakan rumahnya, sampai hari ini belum ada penetapan satu tersangka pun. Kami tidak mengerti kinerja penyidik seperti ini,” ujar Silvester.

Kapolsek Tasbar, Iptu Hadi Syamsul Bahri yang dikonfirmasi wartawan kemarin siang mengakui hingga kemarin siang pihaknya belum menetapkan tersangka kasus pengeroyokan Irsan dan Primus Hale karena terbentur oleh saksi.

“Saksinya sampai hari baru satu orang, padahal aturannya untuk mengungkap sebuah kasus minimal dua saksi. Kami tidak bisa dipaksakan untuk tetapkan tersangka tanpa didukung oleh saksi-saksi yang memadai,” tegas Iptu Hadi.

Senada dengan itu, Kasat Reskrim Polres Belu, AKP. Sepuh Ade Irsyam Siregar selaku pihak yang menangani kasus penyerangan enam buah rumah warga Bakustulama mengakui tim penyidik Satreskrim Polres Belu pun hingga kemarin belum menetapkan tersangka dalam kasus ini. Alasannya, para pihak yang dilaporkan terlibat dalam kasus ini jumlahnya cukup banyak. Walaupun demikian tim penyidik sudah memanggil dan memeriksa para saksi dalam kasus dimaksud.

“Para saksi sudah kami panggil dan periksa. Kemarin mereka datang diperiksa antar oleh kepala desanya. Mudah-mudahan dalam waktu dekat kami sudah bisa menetapkan siapa tersangka,” jelas Kasat Reskrim Polres Belu.


Reporter: Ricky Anyan


Komentar