Beranda Ekonomi Bisnis Kisah Si Penjual Kacang Gula Keliling di Tapal Batas RI-RDTL

Kisah Si Penjual Kacang Gula Keliling di Tapal Batas RI-RDTL

1201
0

BELU, Flobamora-news.com – Kerutan di wajahnya menggambarkan hidupnya yang sudah paruh baya. Berjalan mengelilingi Kota Atambua di Tapal Batas RI-RDTL sudah menjadi rutinitasnya setiap hari. Dengan menjinjing sebuah keranjang hijau di tangan kirinya dan mengangkat sebuah toples di tangan kanannya, dia berjalan menghampiri satu per satu kelompok yang sedang duduk nongkrong sembari menawarkan kacang gula dan kacang gula mente yang sedang dijualnya.

Kardina Hoar Leuk namanya. Bekerja sebagai seorang pendidik PAUD Harapan Bangsa di Kota Foun Lidak, desa Tukuneno, Kecamatan Tasbar, Kabupaten Belu, Perbatasan RI-RDTL sejak tahun 2013 tidak menyurutkan niatnya untuk mencari tambahan penghasilan untuk keluarganya. Berjualan sayur, biji mente, dan beberapa hasil alam lainnya terus dilakukannya.

Pada Tahun 2016, Mama Kardina mengikuti sebuah pelatihan pembuatan Kacang Gula dan Kacang Gula Mente yang diadakan oleh Dinas Perindustrian Kabupaten Belu. Dengan modal pelatihan selama 5 hari itu, dia mulai menggeluti sebuah sebuah pekerjaan tambahan baru. “Jual keliling juga tidak masalah, asal ada tambahan uang untuk penuhi kebutuhan rumah tangga,” ujar mama yang sudah menginjak 54 tahun itu.

Ibu enam orang anak ini sudah harus membuat kacang gula dan kacang gula mente untuk dijualnya sejak malam hari. Bangun pagi, selain mengurusi semua urusan rumah tangga, mama Kardina juga harus segera bersiap diri untuk pergi mengajari anak-anak PAUD. Sepulangnya dari PAUD pada pukul 10.00 Wita, dirinya mulai mempersiapkan barang jualannya untuk pergi berjualan. Kira-kira pukul 12.00 Wita, mama Kardina mulai keluar dari rumah untuk berjualan. Dirinya baru akan kembali ke rumah pada pukul 20.00 Wita. Itulah rutinitasnya setiap hari.

Tak banyak yang dibawanya. Hanya 50 bungkus setiap hari dan belum tentu semuanya habis terjual. Per bungkus yang diisi 6 lempeng kacang gula dihargai Rp 10.000. Rata-rata per hari Mama Kardina membawa pulang Rp 300.000.

“Saya selalu bersyukur dengan apa yang saya dapat. Biar sedikit, yang penting uang yang saya dapat itu halal,” tutur istri Alfonsius Bersin itu sembari tersenyum.

Ketika awal jualan keliling pada tahun 2016, Mama Kardina ditentang suami dan enam orang anaknya. Tidak ada satu pun dari mereka yang setuju. Tapi, demi memenuhi kebutuhan rumah tangga, Mama Kardina tetap pada pendiriannya.

“Semua dalam keluarga tidak setuju. Tapi, untuk penuhi kebutuhan hidup, saya tetap jualan keliling,” ujarnya.

Nasib miris menimpanya di tahun 2017. Insentifnya sebagai seorang pengajar PAUD selama enam bulan tidak dibayar Dinas Pendidikan Kabupaten Belu. Walau hanya dihargai Rp 400.000 perbulan, tapi Rp 2.400.000 selama enam bulan adalah jumlah uang yang besar baginya. Tak hanya itu, Pemerintah Desa Tukuneno pun tak membayar insentifnya selama 3 bulan, walau hanya Rp 250.000 perbulannya.

“Tapi biar saja, saya sudah ikhlaskan itu. Mungkin Tuhan akan kasih berkat untuk saja lewat jalan yang lain,” tuturnya mengenang kembali insentif PAUD yang tidak dibayar Pemda Belu 2017 silam.

Doa Mama Kardina pun akhirnya dijawab Tuhan. Atas perjuangannya, Mama Kardina diikutkan dalam lomba Kalpataru pada tahun 2017. Tak disangka, Mama Kardina berhasil menjadi Runner Up pada ajang tersebut.

Mendapat penghargaan bukan membuat Mama Kardina menjadi sombong. Dia tetap menjalani kesehariannya dengan berjualan seperti biasanya.

“Saya tidak mau karena penghargaan itu, terus saya berhenti jualan. Saya bersama suami harus bisa menghidupi keluarga kecil kami,” tegasnya.

Tak lama berbincang, Mama Kardina pamit untuk kembali berjualan. Beralaskan sendal jepit berwarna biru, Mama Kardina kembali melangkahkan kakinya menuju kumpulan orang yang sedang duduk sembari menawarkan jualannya. “Kacang om… sepuluh ribu per bungkus,” tawarnya sembari tersenyum manis. Tak digubris tawarannya, Mama Kardina kembali berjalan mencari pembeli lain.

Mama Kardina hanyalah gambaran kecil dari masyarakat kecil yang berjuang menghidupi keluarganya. Kerasnya hidup membuat Mama Kardina tak pernah lelah mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan keluarganya. “Saya tetap bersyukur karena Tuhan akan selalu memberi saya berkat,” doanya.


Reporter: Richi Anyan


Komentar