Beranda Opini Kopi Ber-Sensasi Rasa Literasi

Kopi Ber-Sensasi Rasa Literasi

398
0

(Aroma Awal “Festival Literasi” di Mbay-Nagekeo)

Oleh : Gusty Rikarno, S.Fil
Jurnalis Media Pendidikan Cakrawala NTT

KUPANG, Flobamora-news.com – Fidelis Sawu, S.Fil, nama dan gelarnya. Berprofesi kepala sekolah (SMKS Setiawan Nangaroro-Kab. Nagekeo). Walaupun usia kami terpaut jauh namun jiwanya tetap terlihat muda. Kami akrab. Bukan karena sering bertemu dan berkomunikasi tetapi karena memiliki hobi sama. Bercerita (berdiskusi) dan menulis dalam aneka ragam tema. Cerita hidup biasa (remeh-temeh) terkadang harus diulas dalam bentuk paragraf ber-nafas filsafat. Semua tema dikupas, diolah dan dikunyah hingga tuntas. Keinginan untuk “keluar dari diri” dan “bertengkar” dengan situasi nyata, itulah kami.

Pagi ini kami bercerita hangat. Pengeras suara telphon sengaja dibuka. Ada segumpal angin yang bertiup lembut membawa suhu yang tidak biasa. Dingin. Kupang dan Nangaroro ber-daerah pesisir, berubah rasa seperti berada di puncak gunung. Ia (Fidelis) bercerita tentang kopi Bajawa yang selalu membawa rasa hangat bersama lezatnya pisang goreng. Terasa sempurna. Saya selalu menunggu ia berkelakar untuk mengirim beberapa bungkus kopi tepung. Dalam setiap candanya, saya selalu percaya jika itu benar. Memang selalu begitu. Dalam beberapa hari kemudian saya pasti mendapat WA lanjutan kalau kopinya sudah dikirim.

“Kopi Bajawa itu berbeda dengan kopinya orang Manggarai. Kopi Bajawa itu ber-aroma lain. Kamu adalah penikmat kopi pasti mengenal baik. Ada rasa sepat ditegukkan terakhirnya. Berdiamlah sejenak dan biarkan rasa itu datang. Hmmm… ekstasinya dapat. Satu dua hari ini saya coba jalan-jalan ke Ende. Siapa tahu, di sekitar bandara ada yang rela membawa kopi Bajawa itu ke Kupang. Ingat, itu kopi Bajawa, bukan kopinya orang Manggarai. Warnanya sama tapi nuansa rasa dan sensasinya beda”, katanya dalam tawa.

Di saat begini, kekasihku (istri) hanya bisa menguping dan tersenyum sendiri. Ia tahu hobiku itu. Bercerita, ngakak, berdiam diri bersama buku dan duduk manis menulis. Kami bercerita lagi. Di bulan Agustus nanti, pemerintah Nagekeo akan menggelar “festival literasi”. Kami terdiam sejenak seakan sedang mencari defenisi yang tepat tentang festival antik itu. Benar. Festival lazimnya selalu membawa nuasa gembira, semarak dan penuh makna. Kali ini temanya antik. Festival literasi. Kenapa antik? Jawab saja, karena festival ini baru pertama kali digelar di NTT.

Yah … kalau festival budaya, musik, dan yang lain, itu sih’ biasa.
Tiba-tiba Fidelis bertanya seperti sedang menguji seorang mahasiswa sosiologi semester dua. “Katakan saja, apa itu literasi? Saya ngakak sebentar sebelum menjawab. Istilah literasi yang dalam bahasa Inggris disebut literacy berasal dari bahsa latin, literatus yang berarti “a learned person” atau orang yang belajar.

Literasi adalah kemampuan mengolah dan mehami informasi saat melakukan proses membaca dan menulis. Dasar atau fondasi dari semua jenis literasi lain seperti literasi keuangan, literasi media, literasi perputaskaan, literasi teknologi dan sebagainya. Fondasinya sama. Kegiatan membaca dan menulis.
Berdua, kami bercerita. Bagaimana cara melibatkan agar bersama terlibat dan dikutsertakan dalam festival antik ini. Memang sejak tahun 2015 silam, kami sudah berbicara tentang literasi dalam satu aksi nyata. Di segala pelosok daerah Kabupaten Nagekeo kami telusuri. Dari Mbay hingga Maunori, dari Maupunggo hingga Nanggaroro. Aksinya terencana, sistematis dan masif (TSM) untuk mendampingi para guru dan siswa menulis.

Sebagai formator MPC-NTT wilayah Nagekeo dan Bajawa, Fidelis tahu itu. “Nah, inilah caranya. Kita bukukan saja karya para guru ini. Semacam antologi artikel para guru”, ujarku penuh semangat. Ia (Fidelis) terkejut. Di pagi begini, entah kenapa ide berlian itu muncul begitu saja. Kami langsung bersepakat. Saya hanya bisa tersenyum sendiri, saat mendengar, ia meminta istrinya untuk buat kopi untuk gelas kedua. Kami sempat berhenti bicara biaya percetakan. Kesepakatan kedua, akhirnya terjadi. Uang cetak ditalangi bersama. Hasil penjualan buku di festival antik itu, diharapkan bisa mengganti uang talangan ini.

 

Kami ingin bersepakat untuk ketiga kalinya terkait judul buku itu. Dari berbagai judul yang ditemukan dan ditawakan, akhirnya kami amini judul ini. “Menggapai Mimpi, Membangun Sekolah Berkualitas”. Sempat habiskan waktu lima belas menit untuk satu judul yang sedikit bernuansa simbolik. “Ujung Pena Guru di Kaki Ebulobo”. Saya menjelaskan sedikit tentang judul. Yah, judul itu sedikitnya harus mewakili isi tulisan. Kami bersepakat. Alam merestui. Dr. Johanes Don Bosco Do, Bupati Nagekeo menjawab pesan WA yang saya kirim di tujuh menit yang lalu dan menyatakan kesediaanya untuk menulis kata pengantarnya buku antologi artikel ilmiah para guru Nagekeo. Akh … cerita hebat pagi ini terasa sempurna. Gubernur NTT di beberapa bulan lalu, telah menyatakan siap untuk menulis sambutan untuk semua buku yang diterbitkan Media Pendidiikan Cakrawala NTT.
Dalam sunyi, saya buatkan kopi untuk gelas kedua. Kekasihku melarangku minum kopi saat dokter meng-vonisku menderita sakit lambung. Saya selalu melawan atas nama hobi, mimpi dan persaudaraan.

Untuk terakhirnya, kami bersepakat. Nomor rekening dikirim seketika. Kami akan menerbitkankan buku ini dengan uang yang diambil dari saku pribadi. Kami ngakak bersama saat sempat berpikir jika kemudian buku ini tidak terjual. Tetapi itulah kami. Mimpi itu selalu diretas dalam satu cara. Kepuasan intelekteltual harus menjadi prioritas.
“Pagi ini saya sangat bahagia sekaligus kagum padamu. Dalam hidupku, belum terpikir untuk suatu saat saya bisa membantu teman-teman guru mendampingi mereka menulis dan menerbitkan karyanya. Kehadiran Media Pendidikan Cakrawala NTT menyingkapkan semuanya. Kami (guru) merasa sangat terbantu.

Wibawa dan harga diri kami sebagai guru didongkrak dalam satu cara jenius dan elegan. Kami dikenang, diceritakan bahkan dirindukan para murid hanya karena kami guru menulis. Saya sangat yakin, para guru yang tulisannya termuat dalam buku ini pasti memiliki cara pandang baru tentang dunia literasi. Mereka bakal bercerita banyak hal tentang apa yang mereka perjuangkan selama ini. Tidak sia-sia. Terima kasih Pak Gusty, terima kasih cakrawala NTT”. ujar alumnus STFK Ledalero ini.

Ia bersyukur sudah berada di golongan pangkat IV/B dan menjadi guru berprestasi tingkat provinsi serta mendapat kesempatan belajar beberapa minggu di Australia. Katanya, semuanya terjadi berkat kehadiran Media Pendidiikan Cakrawala NTT di sekolahnya. Ia ingin mengusulkan kenaikan pangkat menuju IV/C. Segala berkat dan syarat sudah dipenuhi temasuk tulisan ilmiha yang dimuat dalam jurnal pendidikan cakrawala NTT. Namun dalam satu alasan yang kecil berkasnya dikembalikan. Katanya, mereka butuh selembar surat pengantar dari kepala UPT pendidikan. Benar. Syaratnya demikian. Di berbagai wilayah di Indoensia, UPT untuk tingkat SMA/SMK itu ada. Lalu, atas dasar apa pemerintah provinsi NTT menghapus UPT itu?
Persaoalan tentang hapusnya UPT menjalar hingga di hati para guru. Mereka kesulitan dalam banyak hal.

Beberapa orang kordinator pengawas mengeluh. Mereka dibebani banyak tugas yang berifat administratif. Tugas pokok mereka sebagai pengawas akhirnya dikesampingkan. Mereka harus bertindak “seolah-olah” sebagai kepala UPT. Kali ini surat rekomendasi dari koordinator Pengawas (korwas) ditolak. Menurut penilai angka kredit, syaratnya demikian. Butuh surat rekomendasi kepala UPT. Bukan korwas. Aduh, bagaimana kita mejelaskan situasi ini.

Suatu saat di Borong-Manggarai Timur, seorang pengawas “mengeluh” perihal efek penutupan UPT pendidikan. Bapak Gubernur menjawab tegas. Penghapusan UPT pendidikan adalah cara memotong jalur birokrasi yang panjang. Selain itu, para Bupati memiliki andil untuk memantau sekolah SMA/SMK. “Kita urus ini pendidikan sama-sama.

Para Bupti berhak untuk memantau proses pendidikan SMA/SMK di daerah. Kalau ada kepala sekolah yang tidak becus, bantu infokan supaya supaya saya berin tindakan tegas. Para guru bisa mengusulkan kenaikan pangkat misalnya, cukup pakai WA saja. Berkasnya dikirim via online. Kalau ada pegawai dinas di provinsi yang tidak menanggapi (merespon) akan saya copot”, ujar Gubernur NTT saat itu.

Fidelis benar Kopi Bajawa itu beda. Pada tegukkan terakhir, terasa sepat dan bersensasi. Beda dengan kopinya orang Manggarai.
Kopinya orang Manggarai memang terasa pahit (kopi pa’it) tetapi pada tegukkan terakhirnya, terasa manis. Jika buku antologi artikel ilmiah guru di Kabupaten Nagekeo, bakal diterbitkan menjelang ferstival literasi, buku guru Manggarai Timur justru sudah terbit dan siap untuk penerbitan buku guru edisi keduanya. Kami ngakak bersama saat Fidelis ingatkan lagi. “Ini kopi Bajawa, bukan kopinya orang Manggarai”.

Salam Cakrawala, salam Literasi …

Komentar