Beranda Lintas NTT Kurangi Kekerasan pada Anak, Child Fund Buat Pelatihan Bagi Para Aktivis

Kurangi Kekerasan pada Anak, Child Fund Buat Pelatihan Bagi Para Aktivis

524
0

BELU, Flobamora-news.com – Child Fund Internasional bersama LPPA mengadakan pelatihan Paralegal bagi aktivis Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) yang berada di tiga Kabupaten yaitu Belu, Malaka, dan TTU. Pelatihan yang diadakan di Aula Hotel King Star mulai dari tanggal 3-5 Juli 2019 ini bertujuan untuk memberikan penambahan skill bagai para Aktivis PATBM.

Acara ini dibuka oleh Kepala Dinas P3A, dr. Joice Manek. Turut hadir dalam kegiatan tersebut, Candra Detha selaku pimpinan Child Fund Internasional wilayah NTT, Mikhael selaku Koordinator Projek LPPA, Gaudentina Nahak dari Dinas PPKBP3A Malaka, dan Mekanis Teme dari DP3A TTU. Selain itu, hadir pula para aktivis dari Kabupaten Belu, Malaka, dan TTU sebagai peserta pelatihan.

Untuk diketahui, ada 300 kasus kekerasan terhadap anak yang terjadi pada tahun 2018 di Provinsi NTT. Kabupaten Belu sendiri memborong hampir setengah angka tersebut dimana terjadi 102 Kasus di Belu.

Akan tetapi, kasus kekerasan terhadap anak adalah sebuah kasus dengan fenomena gunung es. Artinya, hanya sedikit kasus yang tampak, tapi masih banyak kasus yang tidak diketahui.

Candra Detha dalam sambutannya menuturkan tugas untuk melindungi anak-anak di bawah umur adalah tugas dari semua komponen masyarakat. Karena itu, Child Fund Internasional berusaha untuk menjalin kerja sama dengan semua pemangku kebijakan yang ada di Wilayah Kerja mereka.

“Tugas melindungi anak-anak adalah tugas kita semua. Kami dari Child Fund Internasional tidak mampu melindungi semua anak. Karena itu, kami bekerja sama dengan semua pemangku kebijakan yang ada di wilayah kerja kami,” ujarnya.

Salah satu Kabupaten yang merespon dengan baik kerja sama tersebut adalah Kabupaten Belu karena telah mengalokasikan anggaran untuk pencanangan Desa PATBM. Karena itu, Candra memberikan apresiasi kepada Dinas P3A Kabupaten Belu.

Candra berharap agar para peserta dapat memberikan sosialisasi lebih lanjut kepada berbagai elemen di masyarakat tentang materi yang mereka dapatkan selama pelatihan.

dr. Joice Manek dalam sambutannya saat membuka pelatihan tersebut menuturkan bahwa dengan banyaknya kasus kekerasan terhadap anak, menunjukan bahwa kita belum mampu melindungi anak-anak kita. Lebih parahnya, yang biasa melakukan kekerasan tersebut adalah orang-orang terdekat.

Karena itu, kita harus mengakhiri kekerasan terhadap anak yang menjadi kebijakan nasional dimana tertuang dalam UU nomor 35 Tahun 2014. Dalam amanah UU itu salah satunya diterangkan mengenai peran serta masyarakat dalam melindungi anak-anak dari kasus kekerasan.

Dr. Joice menjelaskan bahwa pelatihan ini merupakan penguatan kapasitas dan peningkatan kompetensi bagi aktivis yang melaksanakan tugas di wilayahnya masing-masing. Karena itu, dr. Joice berharap agar para peserta dapat memberikan sosialisasi kepada masyarakat tentang apa yang mereka dapatkan selama pelatihan tersebut.

Dikatakan bahwa Kementrian PPPA menggagas strategi PATBM agar masyarakat turut serta mengambil peran dalam melindungi anak dari kekerasan, eksploitasi, perdagangan orang, dan berbagai bentuk kekerasan lainnya. Menurutnya, Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri, tapi perlu kerja sama semua elemen masyarakat untuk bahu-membahu melindungi anak-anak.

“Jadi, kita harus hati-hati. Jangan sampai anak-anak kita mendapat masa depan yang suram karena merekalah penerus bangsa ini,” tuturnya. (Richi Anyan)

Komentar