Beranda Hukum & Kriminal Marten Tualaka Menilai Pihak PT. Telkom Merugikan Masyarakat

Marten Tualaka Menilai Pihak PT. Telkom Merugikan Masyarakat

918
0

Foto: Anggota DPRD TTS Marten Tualaka S.H. M.Si.

So’E, Flobamora-news.com  – Pihak PT. Telkom dinilai merugikan masyarakat. Pasalnya Program internet Desa yang dicanangkan ternyata tidak membawa keuntungan tetapi malah merugikan masyarakat. Hal ini disampaikan via telepon seluler oleh  Marten Tualaka  S.H. M.Si.Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Timor Tengah Selatan Provinsi Nusa Tenggara Timur pada, Kamis (18/3/2021).

Menurut  Marten bahwa Program Internet Desa tentunya menggunakan Dana Desa, akan tetapi hal ini tidak pernah dibahas, sehingga kami di DPRD tidak tahu menahu dan tidak mengintervensi pasalnya pembaahasan sudah dibahas secara keseluruhan.

” Kami tidak terlalu mengintervensi karena tidak dibahas di DPRD, sudah dibahas secara keseluruhan ditingkat Musayawarah, Musyawarah Desa hingga ke PMD untuk anggaran dana desa,” jelasnya.

“Sebagai utusan masyarakat di DPRD, saya sangat menyesali penggunaan anggaran yang tidak tepat sasaran. Harusnya anggaran tersebut diarahkan untuk kesejahteraan masyarakat inikan tidak urgen”, tegas Marten.

“Program internet desa belum terlalu diperlukan.”sekali lagi ini belum urgen. Yang kita perhatikan adalah bagaimana memberantas kemiskinan, angka stunting yang masih tinggi, penyakit malaria apalagi dimusim penghujan, nah hal-hal ini yang harus diperhatikan oleh Pemerintah Daerah”, jelasnya.

Media sempat melakukan konfitmasi ke pihak telkom namun belum mendapat tanggapan dengan dalil harus bersurat dulu ini aneh juga.

Nama Anak Bupati TTS Nita Tahun Disebut Dalam Kasus Program Internet Desa

Seperti dilansir PosKupang, bahwa Nita Tahun, S.Kep. Ners, anak kedua Bupati TTS, Egusem Piether Tahun disebut-sebut dalam kasus internet desa. Uang pembayaran internet desa disebut disetorkan kepada Nita di kantor Plasa Telkom Cabang Soe.

“Uang pembayaran internet desa ini kami berikan kepada Nita Tahun di Plasa Telkom Cabang Soe. Apakah dia pegawai Telkom atau tidak, kami tidak tahu. Kami hanya disarankan untuk membayar kepada beliau,” ungkap Kepala Desa Boentuka, Kecamatan Batu Putih, Apris Fuah didampingi Jeremias Kollo, Kasie Kesra Dea Boentuka.

Masyarakat Desa Bentuka dirugikan

Apris mengaku menyesal mengambil program internet desa tersebut. Selain terlalu mahal, kuota internet yang diberikan sangat kecil dan jaringannya lelet. Untuk memasang peralatan internet desa, pihak desa harus merogoh kocek senilai Rp. 36.850.000. padahal kuota per bulannya hanya 10 Giga dengan kecepatan 6 MBPS.

Rugi Kakak ambil ini program. Mereka datang pasang ini alat sepotong saja kami bayar 5 juta. Biaya maintenancenya 2 juta. Sedangkan biaya berlangganan satu tahun 26.500.000. Tapi hanya dapat kuota 10 GB per bulan. Kalau Rp. 26.500.000 kita bagi 12 bulan maka kita bayar per bulan Rp.2.200.000 lebih hanya untuk kuota 10 GB. Ini tidak rugi bagaiama. Belum lagi internetnya lelet. Sedangkan kalau kita beli kuota internet pakai XL, 40 GB hanya Rp. 70.000,” ujarnya dengan nada kesal.

Merasa rugi dengan program tersebut, dirinya memutuskan untuk memutus jaringan internet desa tersebut per Januari 2021. Dirinya sempat menyampaikan keinginan untuk memutus internet desa tersebut kepada pegawai pegawai Plasa Telkom namun oleh pegawai tersebut menyebut tidak bisa.

“Kami minta kasih putus mereka tidak mau, ya sudah saya kasih putus sendiri,” sebutnya dengan nada kesal.

Petugas Teknis Plasa Telkom Cabang Soe, Odi Tasuib membenarkan jika Nita Tahun pernah berkantor di Plasa Telkom Soe guna mengurus program internet desa. Nita sendiri menurutnya merupakan pegawai Telkom Kupang dari Divisi Mango yang mengurus program internet desa.

Seluruh urusan terkait kontrak kerja, pemasangan dan pembayaran program internet desa langsung diurus oleh Telkom Kupang. Pihaknya (Plasa Telkom Soe) tidak mengurus program tersebut.

“Ibu Nita Tahun itu pegawai dari Telkom Kupang. Dia hanya beberapa kali ke kantor Plasa Telkom Soe ini untuk mengurus program internet desa. Kami dari Plasa Telkom Soe tidak mengurus program tersebut, karena langsung dihendel dari Telkom Kupang,” paparnya.

Perbandingan harga pemasangan internet desa denga indi home berbeda bak langit dan bumi.

Untuk mendapatkan layanan internet unlimited dengan kecepatan 20 MBPS anda hanya perlu membayar 345 ribu. Sedangkan perbulannya sekitar 380-an ribu. Bak langit dan bumi, dimana program internet desa dengan kecepatan hanya 6 MBPS menelan anggaran hingga Rp.36.850. 000.

Diberitakan sebelumnya, Program internet desa yang dibiayai dari anggaran dana desa Tahun 2020 yang dikerjakan Telkom di kabupaten TTS terindikasi bermasalah. Bahkan sejumlah kepala Desa telah dipanggil oleh pihak Kejaksaan TTS untuk dimintai keterangan terkait proyek yang dikerjakan pada tahun 2020 tersebut. (REDAKSI)


Reporter: Ricky Anyan


Komentar