Beranda Opini Mengapa APM Anak Berusia 13-18 Tahun di Provinsi NTT Rendah?

Mengapa APM Anak Berusia 13-18 Tahun di Provinsi NTT Rendah?

116
0

OLEH : JOSEPHIN N. FANGGI, S.ST
INSTANSI : ASN di BPS PROVINSI NTT

KUPANG, Flobamora-news.com  – Salah satu indikator keberhasilan perluasan akses pendidikan dasar 12 tahun adalah Angka Partisipasi Murni (APM). Angka ini digunakan untuk menunjukkan seberapa besar penduduk bersekolah tepat waktu atau menunjukkan seberapa besar penduduk bersekolah dengan umur yang sesuai dengan ketentuan kelompok usia sekolah di jenjang pendidikan yang sedang ditempuh. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyatakan target APM SD/MI sebesar 94,8 persen, APM SMP/MTs sebesar 82,2 persen, APM SMA/SMK/MA sebesar 67,5 persen pada tahun 2019 (http://spasial.data.kemdikbud.go.id/dss/index.php/cpeta/indikator/FF25FB04-1F28-455E-9BB8-B4B9E696246F/000000/).

Berdasarkan Publikasi Provinsi Nusa Tenggara Timur Dalam Angka 2020 yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), di Provinsi NTT pada tahun 2019, APM SD/MI sebesar 96,16, APM SMP/MTs sebesar 69,19, dan APM SMA/SMK/MA sebesar 53,68. Hal ini berarti APM SMP/MTs dan APM SMA/SMK/MA di Provinsi NTT pada tahun 2019 belum mencapai target. Lalu, apa yang menyebabkan hal ini terjadi?

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyatakan bahwa terdapat 5.147 unit SD, 1.741 unit SMP, 553 unit SMA, 292 unit SMK di Provinsi NTT pada tahun 2019.

Menurut BPS, jumlah penduduk usia SMA/MA (16-18 tahun) adalah 329.895 orang/jiwa. Oleh karena itu, dapat dikatakan dalam setiap desa dan kelurahan terdapat 1 sampai dengan 2 unit SD, setiap kecamatan terdapat 5 sampai dengan 6 unit SMP dan 1 SMA/SMK melayani 390 sampai dengan 391 orang/jiwa penduduk usia SMA/MA. Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 Tahun 2007, standar nasional ketersediaan SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA yang baik adalah dalam setiap desa dan kelurahan minimal terdapat 1 SD/MI, dalam setiap kecamatan minimal terdapat 1 SMP/MTs dan 1 SMA/MA melayani maksimum 6000 jiwa siswa. Hal ini berarti dari segi ketersediaan SD, SMP, SMA/SMK di Provinsi NTT pada ersediaan SD, SMP, SMA/SMK di Provinsi NTT pada tahun 2019 sudah memenuhi standar nasional pemerintah.

Penulis telah melakukan penelitian terhadap hal ini sebagaimana terdapat pada Publikasi Indikator Kesejahteraan Rakyat 2019/2020.

Penulis melakukan penelitian untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi anak berusia 7-18 tahun bersekolah tepat waktu di Provinsi NTT pada tahun 2019. Variabel bebas yang digunakan adalah jumlah anggota rumah tangga, jenis kelamin anak, jenis kelamin kepala rumah tangga, dan tingkat pendidikan kepala rumah tangga.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan, diperoleh hasil bahwa dari seluruh variabel bebas yang digunakan tidak ada yang mempengaruhi anak berusia 7-12 tahun bersekolah tepat waktu di Provinsi NTT pada tahun 2019 . Hal ini sejalan dengan pencapaian APM SD/MI di Provinsi NTT pada tahun 2019 yang telah mencapai target. Untuk anak berusia 13-15 tahun, terbukti bahwa semua faktor di atas mempengaruhi anak berusia 13-15 tahun bersekolah di SMP/sederajat di Provinsi NTT pada tahun 2019.

Untuk faktor jumlah anggota rumah tangga, kecenderungan peluang anak berusia 13-15 tahun yang tinggal dalam rumah tangga dengan jumlah anggota maksimal 5 orang untuk bersekolah tepat waktu (SMP/sederajat) sebesar 1,188 kali lebih tinggi dibandingkan yang tinggal dalam rumah tangga dengan jumlah anggotanya lebih besar daripada 5 orang.

Untuk faktor jenis kelamin anak, kecenderungan peluang anak perempuan berusia 13-15 untuk bersekolah tepat waktu (SMP/sederajat) sebesar 1,395 kali lebih tinggi dibandingkan anak laki-laki berusia 13-15 tahun. Untuk faktor jenis kelamin kepala rumah tangga, kecenderungan peluang anak berusia 13-15 yang kepala rumah tangganya berjenis kelamin laki-laki untuk bersekolah tepat waktu (SMP/sederajat) sebesar 1,287 kali lebih tinggi dibandingkan yang kepala rumah tangganya berjenis kelamin perempuan.

Untuk faktor tingkat pendidikan kepala rumah tangga, kecenderungan peluang anak berusia 13-15 yang kepala rumah tangganya penah bersekolah di SMP/sederajat untuk bersekolah tepat waktu (SMP/sederajat) sebesar 1,376 kali lebih tinggi dibandingkan yang kepala rumah tangganya tidak pernah bersekolah di SMP/sederajat. Sedangkan untuk anak berusia 16-18 tahun, faktor yang mempengaruhi anak berusia 16-18 tahun bersekolah di SMA/sederajat di Provinsi NTT pada tahun 2019 adalah jenis kelamin anak dan tingkat pendidikan kepala rumah tangga.

Untuk faktor jenis kelamin anak, kecenderungan peluang anak perempuan berusia 16-18 untuk bersekolah tepat waktu (SMA/sederajat) sebesar 1,335 kali lebih tinggi dibandingkan anak laki-laki berusia 16-18 tahun. Untuk faktor tingkat pendidikan kepala rumah tangga, kecenderungan peluang anak berusia 16-18 yang kepala rumah tangganya penah bersekolah di SMA/sederajat untuk bersekolah tepat waktu (SMA/sederajat) sebesar 2,341 kali lebih tinggi dibandingkan yang kepala rumah tangganya tidak pernah bersekolah di SMA/sederajat.

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan jenis kelamin anak dan tingkat pendidikan kepala rumah tangga mempengaruhi anak berusia 13-18 tahun untuk bersekolah tepat waktu. Apabila berbicara tentang jenis kelamin anak, bisa dikatakan berkaitan dengan faktor dari dalam diri anak, seperti motivasi.

Berdasarkan hasil penelitian ini, bisa dikatakan motivasi anak perempuan untuk bersekolah tepat waktu lebih tinggi daripada anak laki-laki. Selain itu, faktor tingkat pendidikan kepala rumah tangga yang berpengaruh berarti anak cenderung bersekolah pada suatu tingkat pendidikan karena ada dorongan dari kepala rumah tangga yang juga pernah bersekolah di jenjang pendidikan tersebut. Selain itu, faktor lain yang turut berpengaruh terhadap partisipasi sekolah anak usia 13-15 tahun di SMP/sederajat adalah jumlah anggota rumah tangga dan jenis kelamin kepala rumah tangga. Faktor jumlah anggota rumah tangga bisa dikatakan berhubungan dengan pengeluaran rumah tangga atau kondisi rumah pada saat anak belajar. Dimana anak dengan tingkat pengeluaran rumah tangga yang lebih rendah atau kondisi rumah yang lebih kondusif, lebih tinggi kecenderungan peluangnya untuk bersekolah tepat waktu.

Beberapa hal yang dapat dilakukan berkenaan dengan hasil penelitian ini adalah perlu adanya program yang dapat meningkatkan motivasi anak laki-laki untuk bersekolah tepat waktu, peningkatan pelaksanaan Program Keluarga Berencana, membantu anak yang kepala rumah tangganya perempuan untuk bersekolah tepat waktu, memotivasi dan membantu kepala rumah tangga yang tingkat pendidikannya rendah untuk menyekolahkan anaknya setinggi-tingginya.

 


Reporter: Ricky Anyan


Komentar