Beranda Puisi Menuju Pertunjukkan Puisi Yang Expresif

Menuju Pertunjukkan Puisi Yang Expresif

205
0

Oleh: Deky Seo
(Pembina Teater SATU Timor-Indonesia)

Abstraksi

Salah satu produk imajinasi yang paling mendalam dan dapat menembus detail bathin kehidupan manusia adalah puisi. Puisi sebagai produk imajinasi penulis perlu mendapat tempat di atas panggung sebagai suatu karya imajinatif yang hidup juga mampu membangkitkan animo audience dalam menikmati panggung-panggung pertunjukkan. Karya imajinatif ini selalu lahir dengan begitu beragam genre tapi masih tetap pada koridor/konvensi-konvensi pertunjukkan. Hal ini berarti puisi memang selalu mendapat tempat yang layak di hati seniman itu sendiri maupun audience dimana pun berada.

Layakkah puisiku dipentaskan/Bagaimana mengemas sebuah puisi menuju panggung pertunjukkan.
Ini merupakan pertanyaan klasik yang sering dihadapi atau ditemui ketika kita berhadapan dengan karya-karya klasik yang berani dan luar biasa. Kenapa di katakan berani, karena kata/kalimat yang fulgar di utarakan secara merdeka dengan maksud memberikan tekanan yang paradoksal kepada penikmat bahwa hidup itu juga adalah ‘aroma kotoran ayam yang baru dikeluarkan dari perutnya’justru sampai pada fase ini akan dikatakan ; “ah kurang sopan, tidak beretiket” dan sebagainya. Hal ini berarti puisi diberikan batasan yang tidak merdeka baik kepada penulisnya maupun kepada pembaca dan penikmatnya. Bukankah ini yang namanya penjara?

Diakui memang bahwa penulisan karya-karya puisi perlu mengunakan koridor-koridor yang ditetapkan seperti; keselarasan tema, mengandung pesan yang bisa di bawa pulang oleh pembaca/audience/penikmat, pemilihan kata /diksi yang tepat, ada majas lalu mampu membangun suasana imaji penikmatnya dan sebagainya…

Panggung seperti apa yang diperlukan?
Puisi membuka setiap detail dari ruang imaji siapa saja dan dalam tempat di mana saja. Puisi mampu membunuh keletihan jadi kesegaran, kegerahan jadi kesegaran, kesepian jadi penghiburan, kesedihan jadi penghiburan dan sebagainya yang selama ini jadi boomerang.

Ketika jadi sebuah puisi maka si penikmat maupun penulisnya akan merasa seperti mengalami reinkarnasi dan mendapatkan lahir baru. Ketika puisi itu masih tersimpan di rak-rak buku ia tidak lebih dari sebuah karya sastra yang tersimpan rapih. Puisi itu tidak boleh berdiam diri atau didiamkan, ia mati oleh kutubusuk dan rayap. Kalau demikian ia mesti dibawa ke atas panggung, dihidupkan kembali sebagai sebuah keagungan. Nah ketika ia dibawa ke atas panggung pertunjukkan, maka panggung seperti apakah yang patut dipakai oleh puisi sebagai rumah pertunjukkannya. Baiklah kita mulai membahasanya.

Lomba ; ketika anda berada dalam panggung perlombaan maka anda sebagai pembaca puisi akan menempatkan diri sebagai seorang pembaca puisi yang telah diikat dengan konvensi-konvensi perlombaan tersebut.

Pertunjukkan ; namun ketika anda berada di sebuah panggung pertunjukkan maka konvensi-konvensi panggunglah yang akan juga digunakan tentu dengan cara yang berbeda dalam rangka mencapai imajinasi audience yang maksimal. Karena itu seorang pembaca puisi ketika hendak mementaskan puisi-puisinya sebagai sebuah pertunjukkan ia mesti lakukan hal-hal seperti;
Latihan membaca/reading practice.
Puisi seperti apa yang patut dipentaskan? Ketika kita mulai memegang/memilih naskah puisi. Hal pertama yang mesti dilakukan adalah membaca. Hal ini perlu untuk lebih dalam memahami puisi itu sebagai suatu pergumulan bathin penulis. Kita mendalami apa sesungguhnya hal essensial dari imajinasi penulis saat menuliskan karya tersebut. Karena itu ruangan imaji kita mesti terbuka(siap menerima) untuk berbagai konsep (mungkin dari pihak diluar diri kita) dikawinkan lagi dengan konsep kita sehingga dengan demikian puisi itu akan mencapai paling kurang mendekati imaji penulis.
Latihan membaca bukan berarti kita tidak tau membaca tapi melalui proses ini kita kembali membiasakan mulut(bibir, lidah, geraham, langit-langit, teknis bernafas menggunakan mulut) untuk mendapatkan diksi, intonasi, ritme, emosi dan sebagainya sebagai suatu kesatuan yang kompleks menuju pada pengucapan yang tepat seperti yang dimaksudkan dalam teknik olah vocal.
Menyusun dramatic line (ini konsep Aristoteles, dalam RMA. Harymawan, 1986)

Puisi seperti apa yang patut dipentaskan? Setelah reading practice dilakukan, maka langkah selanjutnya adalah menyusun dramatic line dari karya puisi itu. hal ini akan ada hubungan dengan bagaimana pembaca meningkatkan nilai-nilai penghayatan terhadap karya puisi dimaksud; Eksposisi.

Pembaca perlu memahami mulai dari bagian awalnya (eksposisi) sebagai langkah awal menuju panggung pertunjukkan tersebut. Dibagian ini beberapa aspek seperti; waktu, tempat dan aspek psikologis dari gambaran situasi dalam imajinasi puisi itu di gambarkan untuk mengsupport/mengstimuli audience agar bisa mendapatkan mimpi dalam kegidupan nyatanya.(hal ini bisa disampaikan ke audience sebelum kita memulai pertunjukkan sebagai latihan pembuka bersama audience) Tie up the audience.

Ini merupakan strategi bagaimana penonton diikat emosinya menuju pada karya pertunjukkan puisi kita. Pada fase ini, penonton dimasukkan ke dalam puisi. penonton diikat dengan melibatkan mereka dalam karya puisi sehingga audience mendapatkan stimuli/rangsangan menuju pada isi puisi tersebut. Misalnya; mengajak audience berteriak “bangsat” ketika anda mengangkat kedua tangan dan audience “menangis” ketika anda menurunkan salah satu tangan.dsb.

Transformasi;
Konsep ini bermula dari bagaimana seorang actor melihat dirinya dan menjadi si karakter di atas panggung. (Eka D. Sitorus,2002).
Nah, bagamana sebuah karya puisi ditarnasformasikan ke atas panggung. Bicara panggung tentu tidak akan terlepas dari kebutuhan artistiknya sampai pada propertys yang akan digunakan untuk mendukung karya puisi yang akan dipentaskan tersebut.

Ketika berada di atas panggung maka si pembaca puisi itulah pemilik dunia itu. ia tidak lagi berhadapan dengan si penakut yakni; keraguannya, rasa gugup, seperti suasana sedang berlatih dan takut dimarahi sutradara, dsb. Pertunjukkan Itu adalah produk kolektif yang mesti dijaga dalam suatu proses penciptaan. Ia (pembaca puisi itu) mesti beranikan diri mencipta apa yang mesti ia ciptakan dan segala karya ciptanya itu juga mesti merupakan implementasi dari kehidupan riil audience.

Inilah transformasinya ; Misalnya; sebuah puisi tentang pengemis. Apa yang mesti kita perbuat di atas panggung? Mulai dari propertys yang kita siapkan/bawakan sebagai pengemis, artistic yang dipersiapkan art direction dalam mendukung pertunjukkan puisi kita. Pada fase ini semua benda yang berada diatas panggung mesti menjadi bagian tak terpisahkan dari puisi tersebut. Mereka juga menjadi tokoh figuran yang jika tidak ada akan mengaburkan pandangan penonton terhadap pertunjukkan kita.

Si pembaca puisi/aktor dan jiwanya
Ketika berada di atas panggung, aktor adalah si karakter itu sendiri(ini adalah pikiran pada umumnya), ia adalah pembaca puisi yang telah menjadi pengemis tentu ia perlu memperhatikan property seperti apa yang menunjang dia sebagai seorang pengemis. Hal ini perlu karena ia merupakan reinkarnasi pengemis diatas panggung. ia tidak mau tau jika ada orang yang memanggil namanya, ia tidak peduli itu. Karena ia adalah si karakter, maka ia dengan sendirinya di tuntun dalam tatanan, disiplin dan kode etik untuk keadaan yang universal dari pekerjaannya terutama untuk tujuan yang artistik.

Ia [si aktor itu] saat sudah mengambil keputusan diatas panggung, maka seluruh energinya keluar menembus dunianya di atas panggung dengan terarah dan konsisten.


Reporter: Robert


Komentar