Beranda Hukum & Kriminal Merasa Dirugikan, Peternak Ayam Potong di Belu Adukan PT. Mitra Sinar Jaya...

Merasa Dirugikan, Peternak Ayam Potong di Belu Adukan PT. Mitra Sinar Jaya ke DPRD Belu

2913
0

Belu, Flobamora-news.com – Peternak Ayam Potong di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur mengadu ke DPRD Belu, pada Selasa (28/7/2020) lantaran merasa dirugikan oleh PT. Mitra Sinar Jaya.

Kedatangan para peternak ayam potong ke DPRD Belu tersebut karena merasa tak puas dengan kebijakan yang dibuat PT. Mitra Sinar Jaya di luar kesepakatan bersama dalam kontrak kerja sama kedua pihak. Kebijakan itu pun dianggap sangat merugikan pihak kedua – dalam hal ini para peternak ayam potong.

Salah satu kebijakan yang dibuat oleh PT. Mitra Sinar Jaya adalah adanya pihak ketiga sebagai pihak ekspedisi. Pihak ketiga yang dimaksud adalah CV. Febryan dan CV. Weras Karya.

Ketua Peternak Ayam Potong Kabupaten Belu, Frans Kali menguraikan bahwa sangat tidak masuk akal apabila hanya untuk mengirim Day Old Chicks (DOC) atau anak ayam dari Kupang Ke Kabupaten Belu bisa memakan biaya mencapai Rp 13 juta. Biaya ekspedisi tersebut dibebankan kepada para peternak.

Selain itu, biaya pengiriman pakan seberat 20 Ton atau satu kontainer dari Surabaya ke Atambua bisa mencapai Rp 36i juta. Padahal, biaya pengiriman melalui ekspedisi seberat 20 ton atau 1 Kontainer dari Surabaya ke Atambua hanya Rp 13.400.000.

“Kebijakan ini sudah di luar kesepakatan kontrak kerja sama yang kami buat. Lucunya, kalau ada di antara kami yang protes, mereka malah ancam untuk tutup kandang. Itu sering mereka lakukan”. Demikian ungkap Frans Kali kepada Wakil II DPRD Belu Sipri Temu di ruang kerjanya.

Dikatakan lebih lanjut bahwa awalnya mereka takut dengan ancaman tersebut. Akan tetapi, lama-kelamaan, mereka berpikir bahwa bila mereka tetap diam, maka mereka semakin dirugikan.

“Teman-teman awalnya takut karena sudah terlanjur punya utang besar di bank saat mereka kredit buka kandang. Tapi lama-kelamaan, kami juga merasa seperti tidak lagi mendapat untung. Bahkan mau bayar utang di bank saja setengah mati. Jangankan bank, untuk bayar para penjaga kandang saja, kita terpaksa harus pinjam uang di tempat lain lagi. Kalau model begini, bukan namanya kerja sama, tapi kerja untuk orang. Mereka yang senang, kami yang menderita,” keluh Frans Kali.

Selain itu, ada beberapa permasalahan lain lagi yang mereka rangkum dalam 17 poin dalam surat aduan tersebut. Surat aduan itu pun telah mereka kirimkan juga kepada Gubernur NTT, Victor Laiskodat.

Frans mengaku bahwa mereka sebelumnya pernah mengadakan pertemuan dengan pihak perusahaan guna membahas segala keresahan dan kerugian yang mereka alami. Pihak perusahaan pun hanya menjanjikan untuk menjawab keluhan para peternak ayam potong tersebut. Akan tetapi, hingga saat ini, pihak perusahaan sama sekali belum merealisasikan keluhan tersebut.

Karena itulah, langkah yang mereka ambil adalah mendatangi DPRD Belu. Mereka meminta para wakil rakyat dapat membantu mereka menyelesaikan semua persoalan yang mereka alami.

Wakil Ketua II DPRD Belu, Cypri Temu pun menjanjikan untuk segera berkoordinasi dengan Komisi II untuk menyurati pihak perusahaan. Cypri ingin segera mengadakan mediasi antara pihak perusahaan dengan para peternak ayam potong agar masalah tersebut segera terselesaikan.

Pimpinan PT. Mitra Sinar Jaya Cabang Atambua, Marten Ndena yang dihubungi media ini beberapa waktu lalu membenarkan adanya pihak ketiga yang dilibatkan dalam pengangkutan DOC dan pakan ternak. Menurutnya, pelibatan pihak ketiga dalam pengangkutan merupakan otoritas dari perusahaan. Akan tetapi, para peternak ayam potong ingin agar pihak perusahaan yang mengangkut DOC dan pakan ternak tanpa melibatkan pihak ketiga.

“Itu sepenuhnya otoritas perusahaan untuk memakai ekspedisi itu. Tapi permintaan para peternak, mereka minta supaya perusahaan yang hendel ekspedisi itu,” jelasnya.

Lebih lanjut dikatakan bahwa pelibatan pihak ketiga sudah sesuai dengan kontrak kerja sama yang dibuat antara peternak dan pihak PT. Mitra Sinar Jaya.

“di kontrak kerja juga, ada poin yang mengatakan bahwa pihak pertama itu bisa pakai ekspedisi untuk transportasi antar DOC dan Pakan ternak,” kilahnya. Akan tetapi, sesuai kontrak kerja sama yang dibuat, tidak ada satu poin pun yang menyebutkan tentang pelibatan pihak ketiga.

Marten mengungkapkan bahwa ekspedisi ini sudah dijalankan sejak tahun 2012.

“Untuk ekspedisi ini bukan baru sekarang. Di Atambua sudah dari 2012,” ungkapnya.

Dikatakan bahwa ada faktor iri hati dari para peternak ayam potong karena melihat kesuksesan dari CV. Febryan dan CV. Weras Karya. Karena itu, para peternak mencari cara untuk meniadakan ekspedisi.

“Jadi kalau mau lebih fair-nya sih lebih ke arah ada faktor iri hatinya di situ. Karena mungkin mereka lihat ekspedisi ini lagi naik daun atau bagaimana makanya mereka cari cara supaya ekspedisi jangan ada,” ujar Marten.

Lebih lanjut dikatakan bahwa sebenarnya tanggung jawab dari pihak ekspedisi sangat besar. Hal itu pun telah dituangkan dalam kontrak kerja antara pihak ekspedisi bersama PT. Mitra Sinar Jaya. “Sebagai contoh, apabila ada pupuk yang rusak atau basah, maka pihak ekspedisi akan melakukan ganti rugi, bukan pihak perusahaan. Kami dari perusahaan akan tagih ke ekspedisi. Begitu juga dengan DOC”.

Selain masalah ekspedisi, para peternak juga mengeluhkan soal sering adanya pemalsuan data terkait pakan ternak dan obat-obatan. Gusti Beni, sekretaris kelompok para peternak ayam potong Kabupaten Belu mengungkapkan bahwa para pengurus PT. Mitra Sinar Jaya sering memanipulasi data pakan dan obat-obatan yang berimbas pada meningkatnya pembayaran yang dilakukan oleh para peternak.

“Kita menduga kalau pakan dan obat-obatan itu dipakai untuk kebutuhan kandang milik para pengurus karena mereka juga punya kandang,” ungkap Beni.

Terkait manipulasi data tersebut, Marten mengungkapkan bahwa dirinya sama sekali tidak tahu menahu soal hal tersebut karena yang mengatur hal tersebut adalah pengurus lapangan.

“Kalau untuk transfer pakan, saya kurang tahu, itu teman-teman lapangan yang atur. Nanti saya tanyakan lagi ke mereka,” ujarnya.

Marten menambahkan bahwa terkait obat-obatan, merupakan sebuah hal lumrah sebagai manusia biasa dalam melakukan kesalahan. Dirinya menyarankan agar bila ada kesalah, maka sebaiknya para peternak segera mengklarifikasi ke kantor agar dapat diperbaiki dan kerugian dapat diganti kembali.

“Untuk obat-obatan… itu menggunakan sistem. Jadi yang input ini juga manusia, pasti ada erornya juga. Bila ada kesalahan, sebenarnya para peternak dapat mengkomplain ke kantor sehingga kita bisa diubah dan kita bisa ganti kerugian mereka,” jelasnya.

Selain obat-obatan, Beni juga mengungkapkan bahwa adanya sebuah kesengajaan dalam panen ayam. Normalnya, ayam itu dipanen setelah 35 hari. Akan tetapi, para petugas sengaja menunda waktu panen agar para peternak mengalami kerugian baik dari sisi penambahan pakan ternak hingga menyusutnya berat ayam potong.

Terkait hal tersebut, Marten berkilah bahwa mereka tidak dapat menentukan waktu panen secara pasti. Hal itu dikarenakan permintaan pasar yang tidak menentu. Dijelaskan bahwa panenan juga biasanya mengalami gangguan pada bulan Maret hingga April. Hal itu dikarenakan pada saat tersebut, umat Kristiani sedang melakukan ibadah Puasa jelang perayaan Paskah.

“Kalau untuk panen ini, kita tidak bisa menentukan waktu panen secara pasti karena itu tergantung pasar. Biasanya panen macet itu di bulan Maret-April karena pas umat kristiani puasa. Jadi bukan tiap bulan kita panen macet terus,” jelasnya. Dikatakan bahwa pasokan ayam dari Kabupaten Belu dijual tidak hanya di Belu saja, tapi juga dijual ke Kabupaten Malaka, TTU, dan TTS.

Terkait adanya kelangkaan ayam potong di Pasar Atambua hari ini, Marten mengelak bahwa ayam potong tidak setiap hari dipanen. Menurutnya ayam biasanya dipanen paling cepat seminggu sekali. Namun, lebih sering dipanen dua minggu sekali.

“Jadi untuk panen, kita tidak panen setiap hari om. Kadang satu minggu itu panen satu kali. Bukan setiap hari. Tergantung stok juga. Kita malah sering panen dua minggu satu kali,” ungkapnya.

Akan tetapi, sesuai pantauan media ini, di saat pasar Atambua mengalami kelangkaan ayam potong, pihak PT. Mitra Sinar Jaya setiap hari memanen ayam potong dari kandang para peternak. Hal tersebut pun diakui oleh para peternak. Dari pengakuan beberapa peternak, PT. Mitra Sinar Jaya Cabang Belu setiap harinya melakukan panen dari kandang ke kandang. Panen ayam tersebut dengan sengaja dijual ke Kabupaten lain untuk meningkatkan harga ayam di Pasar Atambua karena kelangkaan.


Reporter: Ricky Anyan


Komentar