Beranda Hukum & Kriminal Miris! Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan dan Anak di Kabupaten TTS Tahun 2020...

Miris! Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan dan Anak di Kabupaten TTS Tahun 2020 Sangat Tinggi

339
0

SOE, Flobamora-news.com – Yayasan Sanggar Suara Perempuan (SSP) mengadakan Coffee morning bersama Forkopinda dengan tema: “Prioritaskan Perlindungan dan Keadilan Bagi Korban Kekerasan Seksual”. Kegiatan tersebut berlangsung di Beta Punk Cafe Kecamatan Kota Soe Kabupaten Timor Tengah Selatan NTT pada, Kamis (10/12/2020).

Hadir dalam kegiatan tersebut Bupati Egusem P. Tahun, Ketua Pengadilan Negeri Soe, Kapolres, Dandim 1621 TTS, ketua DPRD, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dan beberapa unsur lainnya.

Ketua Yayasan Sanggar Suara Perempuan Kabupaten TTS, Rambu Atanau Mella mengatakan bahwa, kekerasan seksual terhadap anak dan perempuan di Kabupaten TTS semakin memprihatinkan. Karena hampir setiap saat terjadi kekerasan, baik kekerasan dalam bentuk fisik, psikis, ekonomi maupun kekerasan seksual.

“Berdasarkan data, dalam Lima tahun terakhir ini berjumlah 642 kasus dengan kasus tertinggi adalah kasus kekerasan seksual sebanyak 327 kasus atau 50,9%, dan dalam 5 tahun ini kasus seksual yang tertinggi ada pada tahun 2020 yang berjumlah 70 kasus. Paling banyak mengalami tindak kekerasan adalah korban yang berusia 13-18 tahun dengan total 43 orang, dan di ikuti oleh kelompok usia 25-40 tahun, serta 19-24 tahun. Kebanyakan pelaku kekerasan adalah orang dekatnya korban”, jelas Atanau.

Dalam pertemuan ini, Kapolres AKBP Andre Librian S.I.K mengatakan bahwa, penyebab terjadinya kekerasan seksual karena pelaku dipengaruhi oleh minuman keras, yang mana setelah di telusuri bahwa minuman keras sudah menjadi tradisi masyarakat TTS.

Sementara itu Kepala Dinas pendidikan dan Kebudayaan Drs.Seperius E.Sipa M.Si. mengatakan bahwa, banyak kasus kekerasan seksual yang di lakukan oleh guru.

“Saya mengharapkan agar oknum guru yang melakukan kekerasan seksual ditindak tegas dan tidak perlu diselesaikan secara damai atau diselesaikan secara adat. Jika anak sekolah atau siswa yang mengalami kekerasan seksual atau kekerasan fisik, maka siswa tersebut tetap diharuskan untuk bersekolah atau melanjutkan studinya sepanjang yang bersangkutan mau untuk bersekolah”, tegas Seperius.

Ketua DPRD, Marcu Buana Mbau S. E. menyampaikan  bahwa, data yang disajikan oleh Yayasan SSP bahwa yang melakukan kekerasan adalah kebanyakan orang terdekatnya korban.

“Nah ini menjadi PR buat kita semua agar dapat mengatasi para pelaku. Untuk itu kepada P3A dan SSP untuk melibatkan DPRD dalam pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Timor Tengah Selatan”, pungkas Marcu.


Reporter: Yor T


Komentar