Nilai Bukan Penentu Mutu Pendidikan


  • Bagikan

KUPANG, Flobamora-news.com – Kepala Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Drs. H. Muhamad Irfan,MM mengingatkan semua sekolah di Nusa Tenggara Timur (NTT) bahwa nilai bukanlah satu-satunya indikator penentuan mutu pendidikan.

Penentuan mutu pendidikan itu merupakan akumulasi dari semua aspek, seperti nilai, karakter anak didik, moralitas anak, tahu menghargai orangtuanya, saudaranya, dan guru-gurunya, kata Irfan di ruang kerjanya, beberap waktu lalu

Swipe up untuk membaca artikel

Menurut Irfan , nilai bukanlah satu-satunya indikator penentuan mutu pendidikan. Tetapi, yang paling penting bagaimana menghasilkan anak-anak bangsa yang berkarakter, bermoral, anak-anak yang mencintai orangtuanya, mencintai saudaranya, mencintai daerahnya, dan memiliki ketrampilan.

Ikut mendukung keberhasilan anak-anak itu, seperti tingkat kehadirannya di sekolah, semangat untuk bersekolah, kesadaran anak untuk bersekolah, dan anak itu sendiri harus  merasakan bahwa sekolah itu bagian yang tidak terpisahkan dari hari-harinya.

Irfan juga mengingatkan kepada sekolah-sekolah di setiap jenjang pendidikan di NTT untuk tidak boleh memaksa memberlakukan lima hari sekolah jika situasi dan kondisi di sekolahnya belum memungkinkan.

Baca Juga :   DPRD Belu Angkat Bicara Soal Polemik Nasib 204 Orang Guru

Kata Irfan, building school itu sudah diwacanakan beberapa tahun yang lalu. Sistem seperti itu, menurut dia, sudah diterapkan di sekolah-sekolah misi selama ini. Namun, untuk sekolah-sekolah umum implementasinya tergantung pada situasi dan kondisi sekolahnya masing-masing.

“Kalau sekolahnya sudah siap,  ya silahkan diterapkan. Tetapi, kalau belum siap jangan dipaksakan. Takutnya nanti akan merugikan anak-anak kita dari segi pembiayaan. Misalnya, biaya makan, minum, dan pengaturan waktunya,” sebut dia.

Pemberlakuan lima hari sekolah itu, masuk jam 07.00 Wita hingga pukul 15.00 Wita (jam 3 petang,red). Jika ini diterapkan, maka perlu dibuat pengaturan waktu Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), sehingga tidak monoton di dalam kelas.

Misalnya, anak-anak mengikuti KBM di dalam kelas dari jam 07.00 -13.00 Wita. Selanjutnya, pukul 13.00 Wita, anak-anak dipulangkan untuk makan di rumahnya masing-masing. Selanjutnya, pukul 14.00 – 15.00 Wita anak kembali ke sekolah tidak dalam bentuk tatap muka di dalam kelas, tetapi dibawa ke suasana alam di luar kelas.

  • Bagikan