Beranda Kesehatan & Pola Hidup NTT dan Belu Berkontribusi Pada Tingginya Stunting di Indonesia

NTT dan Belu Berkontribusi Pada Tingginya Stunting di Indonesia

377
0

Belu, Flobamora-news.com – Propinsi NTT dan Kabupaten Belu berkontribusi pada Tingginya Stunting di Indonesia. Hal ini diungkapkan Bupati Belu, Willybrodus Lay saat membuka Rembuk Stunting Kabu70paten Belu di Aula Betelalenok, Selasa (30/7/2019).

Pada acara yang bertemakan “Gerakan Masyarakat Peduli Stunting Tahun 2019” tersebut, Bupati Willy menunjukan data-data yang menunjukan kontribusi tingginya stunting di Indonesia dari Propinsi NTT dan Kabupaten Belu.

Pada tahun 2013, presentase Stunting di Indonesia mencapai 37.2%. Angka ini menurun pada sampai 30.8% pada tahun 2018.

Di Provinsi NTT, presentase Stunting mencapai 51.7% pada tahun 2013. Angka ini menurun 42.6% pada tahun 2018.

Sedangkan di Kabupaten Belu, presentase Stunting mencapai 46.8% pada tahun 2013. Angka ini menurun hingga 38.6% pada tahun 2018.

Artinya setiap tahun angka stunting terjadi penurunan sebesar 1,6 persen sedangkan presentase kenaikan cukup tinggi mencapai 8 persen per tahunnya, dan presentase stunting terbesar tercatat pada sejumlah puskesmas yang letaknya jauh dari Kota Atambua.

Bupati Belu, Willybrodus Lay

Bupati Willy mengatakan bahwa persoalan stunting pada masyarakat di desa cukup tinggi terutama yang jauh dari kota. Hal ini dikarenakan tingkat kemiskinan yang tinggi menyebabkan akses memperoleh pangan dan pemenuhan gizi menjadi terbatas.

Pada kesempatan tersebut, Bupati Willy mengajak semua unsur OPD teknis, Tokoh Agama, Tokoh Adat, Tokoh Masyarakat, LSM, dan semua elemen masyarakat untuk bersama-sama menangani stunting.

“Persoalan stunting menjadi tanggungjawab bersama semua pihak. Karena itu, kami menggandeng tokoh agama, tokoh masyarakat, dan semua unsur pemangku kepentingan untuk bersama membentuk kelompok kerja yang akan menentukan program kerja teknis penanganan stunting. Semua hasil rembuk ini akan tertuang dalam sebuah Peraturan Bupati Nomor 31 Tahun 2019 Tentang Gerakan Peduli dan Penanganan Stunting di Kabupaten Belu,” ujar Bupati Willy.

Uskup Atambua Mgr. Dominikus Saku, Pr dalam materinya mengatakan peranan gereja sangat besar dalam menyikapi dan menangani persoalan stunting yang dialami masyarakat.

“Khusus di Keuskupan Atambua memiliki sekitar 58 ribu umat dengan presentase hampir 98 persen umatnya hidup di bawah garis kemiskinan. Jumlah stunting sangat tinggi disebabkan karena berbagai faktor, sehingga gereja wajib berperan aktif untuk membenahi kehidupan umat agar dapat meningkatkan taraf hidupnya menjadi lebih sejahtera,” tegas Uskup Dominikus.

Uskup Atambua, Mgr. Dominikus Saku, Pr saat membawa materi pada acara Rembuk Stunting Kabupaten Belu Tahun 2019

Pihaknya menilai stunting sebagai keruntuhan martabat manusia karena berbagai faktor penghambat terjadinya kemunduran moral dan berbagai persoalan sosial.

“Penyakit sosial yang masih membelenggu umat antara lain adat-istiadat dan tradisi, minimnya asupan pangan dan gizi yang cukup, tingkat konsumsi miras yang tinggi serta budaya perjudian yang telah menjadi darah daging dan sulit dihilangkan,” ujar Uskup Dominikus.

Pihaknya juga menegur pemerintah untuk serius menangani stunting melalui berbagai program yang tepat sasaran terlebih tidak bermental proyek semata terlebih menjelang Pilkada 2020 mendatang.

“Pemerintah jangan hanya fokus mengurus politik dan mengejar proyek semata, namun harus mengutamakan pelayanan kemasyarakatan untuk mewujudkan kesejahteraannya,” pinta Uskup Dominikus.

Pantauan media, dalam kegiatan Rembuk Stunting Kabupaten Belu Gerakan Masyarakat Peduli Stunting Tahun 2019 dibuka secara resmi oleh Bupati Belu Willybrodus Lay dan ditandai dengan pemukulan gong oleh Uskup Atambua Mgr. Domikus Saku, Pr.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Unsur Pemerintah Provinsi NTT, Pimpinan Agama, Tokoh Masyarakat, Tokoh Adat, Lingkup OPD Kabupaten Belu, LSM, serta berbagai unsur terkait lainnya.


Reporter: Ricky Anyan


Komentar