Beranda Pendidikan Orang Tua Siswa Minta Kepala Sekolah SD Inpres Bisene Diganti

Orang Tua Siswa Minta Kepala Sekolah SD Inpres Bisene Diganti

862
0

Foto: Sekolah Dasar Inpres Bisene di Desa Bisene Kecamatan Mollo Selatan Kabupaten TTS Propinsi NTT

SOE, Flobamora-news.com – Orang tua siswa meminta Kepala Sekolah diganti. Pasalnya selama pandemi covid-19, kegiatan belajar mengajar (KBM) di Sekolah Dasar Inpres Bisene di Desa Bisene Kecamatan Mollo Selatan Kabupaten TTS Propinsi NTT tidak dilaksanakan dengan maksimal, sehingga membuat orang tua siswa meragukan mutu pendidikan dari anak-anaknya.

Menurut hasil penelusuran media ini bahwa KBM di SD tersebut berjalan tidak maksimal bukan hanya saat adanya covid-19, tapi sebelum covid kegiatan belajar mengajar juga berjalan tidak maksimal. Sswa-siswi lebih banyak bermain dari pada belajar di dalam kelas karena para guru kebanyakan masuk sekolah kesiangan, serta tidak ada ketegasan dari kepala sekolah sendiri.

Foto: orang tua siswa, Saul Kase

Salah satu orang tua siswa, Saul Kase kepada media ini di kediamannya bahwa, anak saya ada dua orang yang lagi bersekolah di SD Inpers Bisene. yang satu kelas 1 sedangkan yang satunya kelas 5, namun kami sebagai orang tidak tahu apakah mereka naik kelas atau tidak karena sampai dengan saat ini mereka belum terima Raport.

“Kami amati selama ini sebelum adanya covid-19, kebanyakan anak-anak kami sering bermain diluar ketimbang harus belajar di dalam kelas. Alasannya karena guru sering terlambat masuk sekolah. Lebih baik Kepala Sekolah Nikodemus Manao dipindahkan dan ganti dengan orang lain sehingga ada kerja sama antara kepala sekolah dengan dewan guru. Dugaan kami sebagai orang tua siswa bahwa mungkin tidak ada kerja sama yang baik antara kepala sekolah dengan dewan guru makanya KBM berjalan tidak maksimal”, jelasnya

“Kalau memang kepala sekolahnya tidak dipindahkan maka sebaiknya SD Inpres Bisene ditutup saja”, tegas Saul.

Sementara wali kelas 1 SD Inpres Bisene, Istefanus Sama yang di temuai media ini selasa, (11/08) di Desa Kesetnana saat hendak pergi mengurus beras jatah dari para guru-guru di SD Inpres bisene mengatakan bahwa, memang betul saya belum membagikan raport bagi siswa siswi kelas 1 yang sekarang duduk di bangku kelas 2.

“Raportnya saya belum print akibat uang tidak ada untuk beli kertas, dan tinta print. Ketika menanyakan anggaran dana BOS untuk pembiayaan pembuatan raport, terang Istefanus bahwa “Kepsek bilang dana BOS tidak cukup untuk buat Raport jadi bapak ibu wali kelas tanggulangi”, kata Saba

“Kami meminta adanya transparansi kepala sekolah dengan dewan guru tentang pemanfaatan dana BOS, sehingga jika pembuatan raportnya tidak dianggarkan dalam dana BOS maka tidak apa-apa. Tapi kalau ada anggaran pembuatan raport, trus kenapa tidak diberikan kepada kami guru kelas sehingga kami harus pakai dana pribadi untuk buat raport”, ujarnya kesal.

“Sementara menyangkut dengan KBM selama adanya pandemi covid-19, bahwa sejak dianjurkan untuk beraktifitas dari rumah, maka kepsek tidak pernah mengundang atau menginformasikan saya dengan beberapa teman guru untuk rapat bersama demi melakukan KBM selama pandemi, “memang betul bahwa selama adanya virus corona sampai dengan saat ini, saya tidak memberi tugas buat siswa karena memang tidak ada anjuran atau perintah dari kepala sekolah. jelas Istefanus.

Sementara itu Guru kelas V SD Inpres Bisene, Ance Toabnani kepada media ini bahwa, sebagian Raport siswa kelas V sudah dubagikan, dan pembuatan raport saya menggunakan dana pribadi, sedangkan untuk KBM nya memang selama Pandemi belum dilaksanakan karena belum ada anjuran atau perintah dari kepsek. jelas Ance.

Foto: Kepala SD Inpres Bisene, Nikolas Manao,S.Pd

Kepala SD Inpres Bisene, Nikolas Manao,S.Pd mengatakan bahwa, siswa yang sudah terima raport cuman siswa kelas V, sedangkan yang lain belum terima, karena selama adanya covid-19, guru-guru tidak masuk sekolah. Semuanya tidak tinggal di lokasih sekolah. Kebanyakan guru-guru tinggalnya di soe, sehingga selama masa covid-19, guru yang aktif untuk mengajar siswa dari rumah dengan cara memberi soal untuk siswa kerjakan dari rumah.

“Saya sebagai kepala sekolah menangani siswa kelasa 1 samapi dengan kelas 6, terus guru agama Aplonia Tefnai serta guru penjas. Sementara guru PNS yang tidak pernah hadir sejak bulan april 2020 sampai dengan sekarang adalah Ance Toabnani, Febriani Benu, Fitriatus Sai Ida, Istefanus Saba, dan Sulastri Kase.”, jelas Kepala Sekolah.

“Ke lima PNS ini sudah saya laporkan ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten TTS”, ujarnya.

“Untuk pembuatan raport ada dananya dan per guru kelas 200 ribu rupiah, namun mereka tidak masuk sekolah jadi dananya ada disini. sedangkan untuk mengawasi siswa dan memberi soal buat siswa juga ada dananya, dan perguru yang melakukan kegiatan diberi 200 ribu rupiah juga”, jelas Manao.

Sementara itu  Kepala Dinas P dan K Seperius E.Sipa yang di konfirmasi melalui telepon seluler mengatakan bahwa, yang sudah menjalankan Kegiatan nelajar mengajar hanyalah tingkat SMP, sedangkan untuk SD dan TK masih belajar dari rumah. Semua itu tergantung strategi apa yang di pakai oleh guru untuk mengajar siswa dengan selalu mengutamakan protokol kesehatan.

“Sedangkan untuk pembagian raport, nanti kami dari Dnas akan menghubungi kepala sekolahnya untuk menanyakan hal tersebut”, tutup Sipa.


Reporter: Yor T


Komentar