Beranda Pendidikan Ormas dan Ormawah di Belu Sepakat Tolak Hoax dan Politik Uang

Ormas dan Ormawah di Belu Sepakat Tolak Hoax dan Politik Uang

401
0

Belu, Flobamora-news.com – Beberapa Organisasi Masyarakat dan Organisasi Mahasiswa di Kabupaten Belu bersepakat untuk menolak Hoax dan Politik Uang demi mempertahankan wibawah orang Belu sebagai masyarakat yang beradab. Kesepakatan itu dibuat dalam sebuah diskusi bersama yang diselenggarakan di Lantai II Lakamaras Cafe, Sabtu (3/10/2020).

Hadir dalam diskusi itu, beberapa keterwakilan organisasi dari DPW WKRI Keuskupan Atambua, Pemuda Katolik Komcab Belu, PMKRI Cabang Atambua, ISKA Belu (Ikatan Sarjana Katolik), DPW Vox Point Indonesia Belu, Pena Batas RI – RDTL, KOMPAS (Komunitas Peacemaker Perbatasan).

Sekretaris DPW Vox Point Indonesia Belu, Feros Naiaki mengungkapkan bahwa Politik Pilkada Belu 2020 merupakan sebuah warisan pembodohan kepada generasi muda Kabupaten Belu yang harus segera dilawan. Karena itu, sebagai manusia intelek, gaya berpolitik di Kabupaten Belu harus dilawan dengan berbagai caragar tidak merusak generasi penerus bangsa yang akan memimpin Belu 10 sampai 20 tahun ke depan.

Menanggapi hal tersebut, Pimpinan Kompas (Komunitas Peacemaker Perbatasan), Marina Lola Fernandes mengusulkan agar semua pimpinan organisasi di Belu perlu melakukan berbagai model advokasi baik melalui media sosial, mendatangi beberapa pelaku dan pengawas politik untuk membuat sebuah kesepakatan bersama dalam hal memberikan pendidikan politik yang baik kepada masyarakat Belu.

Sejalan dengan itu, Ketua ISKA (Ikatan Sarjana Katolik) Belu, Yohanes Bria mengusulkan agar para pimpinan organisasi perlu melakukan kampanye anti hoax, melakukan diskusi publik melalui media sosial seperti facebook dan instagram, menyerang akun-akun yang menebar hoax dengan komentar yang meneduhkan, dan lain sebagainya.

Bicara Hoax, semua pimpinan organisasi sepakat bahwa hoax merupakan pembodohan sekaligus pembunuhan karakter yang dilakukan oleh manusia intelek yang tidak bermoril.

Marina mengungkapkan bahwa pihaknya melihat Hoax sebagai sebuah pembunuhan karakter secara berjemaah. Mereka melakukan secara bersama-sama hanya ntuk menciptakan sebuah permusuhan di masyarakat. Karena itulah, Kompas sangat aktif dalam kampanye menolak hoax.

“Kami melihat hoax sebagai pembunuhan karakter secara berjemaah. Karena itu kita harus punya sikap tegas untuk menolak hoax dengan cara saat ada akun palsu, kita semua silahkan melaporkan,” ungkapnya.

Senada dengan Marina, Yohanes Bria menegaskan bahwa Hoax hanya dilakukan oleh orang-orang yang todak memiliki sikap sportif. Mereka selalu bersembunyi di balik kepalsuan diri.

Selain membahas hoax, para pimpinan organisasi ini juga mengecam keras para pelaku politik uang yang berjuang merebut kekuasaan. Bagi Yohanes Bria, politiknuang adalah oenghinaan paling keji yang dilakukan penguasa kepada masyarakat. Sedangkan, pemberi uang adalah oknum yang tidak bermartabat karena masyarakat hanya dianggap sebagai obyek politiknya.

“Politik uang adalah penghinaan paling paling keji kepada masayarakat. Sedangkan oknum pemberi uang adalah oknum yang tidak bermartabat karena hanya menganggap rakyat sebagai obyek politik,” pungkasnya.

Hal ini pun diamini oleh Marina. Menurutnya, politik uang adalam bentuk pemiskinan kepada masyarakat dari segala aspek. Saat sudah berkuasa, maka si pelaku akan kembali mengumpulkan semua kerugian yang telah dikeluarkannya selama masa kampanye.

“Politik uang bagi saya adalah pemiskinan dari segala aspek. Karena dia akan kembali memberikan ncari keuntungan untuk menutup kembali kerugian yang telah dia pakai saat melakukan politik uang,” tuturnya.

Ketua Pemuda Katolik Kabupaten Belu, Nandito Fatin mengungkapkan bahwa ketika hoax dan politik uang masih digunakan dalam politik, maka akan menodai pelajaran politik bagi generasi muda di Kabupaten Belu. “Karena itu marilah kita melawan hoax dan politik uang demi mengangkat martabat kita sebagai orang belu yang beradab”.

Marina menambahkan, “Memang susah untuk merubah karakter karena semua orang butuh uang. Akan tetapi, sebaiknya jangan buat diri kita seperti monyet, kalau disuruh pilih uang atau pisang, maka dia lebih memilih pisang padahal sebenarnya uang bisa digunakan untuk membeli pisang”.

 


Reporter: Ricky Anyan


Komentar