Beranda Hukum & Kriminal Pastor Paroki Atapupu Mengaku Dihubungi Bupati Saat Ekskavator Bantuan KKP Sudah Rusak

Pastor Paroki Atapupu Mengaku Dihubungi Bupati Saat Ekskavator Bantuan KKP Sudah Rusak

1090
0

Belu, Flobamora-news.com – Pastor Paroki Atapupu, Rm. Yoris Giri, Pr mengaku sempat dihubungi Bupati Belu pada Bulan Maret 2020 silam saat Ekskavator Bantuan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tahun 2016 sudah rusak. Hal itu terungkap saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) Lintas Komisi di Ruang Rapat Utama DPRD Belu, Senin (14/9/2020).

Dalam RDP tersebut, Ketua I DPP Paroki Atapupu, Yosep Maia mengungkapkan bahwa pada awal tahun 2020, Bupati Belu, Willybrodus Lay sempat menghubungi Pastor Paroki Atapupu, Rm. Yoris Giri fia telepon seluler dan menyampaikan bahwa Ekskavator bantuan KKP tahun 2016 sudah rusak. Saat itu, Rm. Yoris sedang bersama-sama dengan beberapa anggota DPP.

“Pada tahun 2020, pak Bupati telepon kami punya romo. Dia bilang, Romo buat nia at tian (Romo, ekskavator itu sudah rusak, red),” ungkap Yosep Maia.

Hal itu dibenarkan Rm. Yoris Giri saat ditemui awak media seusai RDP tersebut. “Ya Betul Pak Willy sempat menghubungi saya di Bulan Maret lalu dan sampaikan kalau Ekskavator itu sudah rusak,” jawabnya singkat.

Sebelumnya, diberitakan oleh media ini Bupati Belu, Wllybrodus Lay kepada beberapa awak media menjelaskan bahwa pasca dilantik 2016 silam, ada kunjungan Dirjen Kementerian Kelautan dan Perikanan ke Kabupaten Belu.

Sesuai dengan penjelasan Bupati Belu kepada Kilastimor.com, bupati menceritakan bahwa dalam kunjungan itu, Dirjen melihat tambak warga tidak begitu dalam. Hal itu terjadi karena keterbatasan peralatan. Kemudian Dirjen mengemukakan kalau butuh, ada ekskavator yang belum dibagikan. Karena itu, perlu ada proposal untuk mendapatkan hibah tersebut.

Namun dalam perjalanan pengurusan administrasi, ada perubahan nomenklatur dimana tidak diperbolehkan adanya hibah oleh Pempus kepada Pemda. Hibah hanya diperbolehkan kepada kelompok masyarakat.

Melihat urgennya ekskavator itu, dirinya kemudian mengambil inisiatif untuk menghubungi Almarhum Romo Maxi Alo Bria untuk membentuk kelompok masyarakat, sehingga bisa mendapatkan hibah itu. “Romo menyetujui inisiatif itu kemudian membentuk kelompok Paroki Sta. Stella Maris Atapupu bersama beberapa masyarakat setempat,” tuturnya.

hasilnya, hibah tersebut diperoleh kelompok masyarakat setempat. Namun, saat ekskavator tiba, Romo Maxi meminta agar dikelola oleh pihaknya, sebab selain tidak ada tempat penyimpanan juga terbentur biaya operasional dan perawatan yang tinggi.

Karena kondisi itu, Romo Maxi menyerahkan ekskavator tersebut untuk kemudian dikelola demi melayani kebutuhan masyarakat umum di Kabupaten Belu.

Jawaban tersebut sangat kontradiktif dengan apa yang disampaikan Ketua II DPP Paroki Atapupu, Fransiskus Saik Lopes di hadapan para anggota Dewan pada, Kamis (3/9/2020).

Fransiskus menceritakan bahwa pada tahun 2016, uang kas Paoki Atapupu mencapai 1,267 Milyar Rupiah. “Apakah dengan uang sebesar itu kami tidak mampu membiayai operasional barang itu?”

Diceritakan bahwa pada tahun 2016 silam, Alm Rm. Maksi Bria, Pr yang menjabat sebagai Pastor Paroki Sta. Stella Maris Atapupu saat itu memanggil dirinya bersama para anggota DPP dan memberitahukan bahwa Pemerintah Pusat melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan akan memberikan bantuan berupa sebuah Ekskavator.

Sesudah itu, lanjutnya, di akhir tahun 2016, Rm. Maksi Bria, Pr mengumumkan di mimbar gereja, “Kita harus berterima kasih kepada pemerintah karena kita akan diberikan bantuan satu buah ekskavator dari Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk kita manfaatkan di lahan pesisir pantai ini. Mungkin ada yang punya lahan tambak ikan atau tanpa garam atau apapun itu silakan gunakan alat ini dan tetap kita sewa sesuai standar yang ada,” ujar Fransiskus mengenang kembali apa yang pernah disampaikan Alm. Rm. Maksi Alo Bria, Pr.

Dalam perkembangannya pada tahun 2017 barang tersebut tak kunjung sampai di paroki. Akhirnya banyak umat yang mulai membicarakan, “Wah ne’e Na’i Lulik no dewan sia faan tian buat ne’e (wah ini, para pastor dan dewan paroki sudah jual barang ini, red)”.

“Dalam setiap laporan keuangan tidak pernah ada laporan penerimaan barang tersebut. Itulah yang kami rasakan,” lanjutnya.

Karena isu liar semakin berkembang di kalangan umat, akhirnya Fransiskus mendesak Alm. Rm. Maksi Alo Bria, Pr untuk segera pergi menanyakan keberadaan ekskavator ke Bupati Belu. Menurut informasi yang mereka dengar, Ekskavator itu sudah diberikan ke Pemda Belu. Hanya saja, pihak Paroki Atapupu sama sekali belum mendapat informasi, kapan barang tersebut akan diserahkan Pemda Belu kepada pihak Paroki Atapupu.

Saat pihak DPP mendesak, Romo Maksi mengatakan, “Ita ne no folin. Ema fo, ita simu. Tapi tane liman mak labele (Kita ini ada harga diri. Orang beri, kita terima. Tapi mengemis yang tidak boleh, red)”.

Maka, Fransiskus bersama DPP lainnya mengikuti apa yang disampaikan oleh Pastor Paroki Atapupu.

Saat Alm. Romo Maksi Alo Bria, Pr sudah pindah dari Paroki Atapupu ke Paroki Lebur, umat sudah tak lagi membicarakan soal keberadaan ekskavator itu.

Karena isu yang beredar di Media sosial semakin liar, maka pihak DPP Paroki Sta. Stella Maris pun terpaksa datang mencari mengadu ke DPRD Belu. Tujuannya agar bisa menangkal isu liar yang berkembang di umat Atapupu dan juga isu liar yang berkembang di masyarakat pada Kamis, (3/9/2020).

Usai lakukan pertemuan bersama Komisi II DPRD Belu, Umat Paroki Atapupu bersama beberapa Anggora DPRD Belu dan insan pers langsung berjalan menuju Asphalt Mixing Plant (AMP) Lelowai, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu wilayah Perbatasan Negara RI-RDTL. Menurut informasi yang diterima oleh para anggota DPRD Belu, Ekskavator tersebut berada di AMP milik Bupati Belu, Willybrodus Lay.

Sesampai di lokasi tersebut, benar adanya, ternyata bantuan Ekskavator yang diberikan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan tersebut berada di AMP milik Bpati Belu. Sayangnya, Ekskavator yang belum diterima oleh Umat Paroki Atapupu itu ditemukan dalam keadaan rusak berat. Ekskavator yang bermerek Komatsu tersebut ditemukan di lokasi AMP milik Bupati Belu sebelum digunakan oleh kelompok yang diberikan bantuan. Pada Bagian samping dan belakang Ekskavator itu, ada sebuah lambang dan tulisan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya tahun 2016.


Reporter: Ricky Anyan


Komentar