Pembangunan Jalan Desa Harus Terintegrasi

  • Bagikan

Penulis: Prof. Dr. Manlian Ronald. A. Simanjuntak, ST., MT., D.Min
(Guru Besar UPH &
Ketua Program Studi S2 T. Sipil Konsentrasi Manajemen Konstruksi UPH)

JAKARTA, Flobamora-news.com – Topik kajian ini mengandung pertanyaan yang mendalam sekaligus memiliki “solusi tegas” bagi Indonesia. Di tengah-tengah pembangunan kawasan strategis nasional, pembangunan perkotaan, bahkan baru-baru saja Presiden Joko Widodo meresmikan 3 Kawasan Ekonomi Strategis Nasional (April 2019), mungkin perhatian kita luput terhadap pembangunan pedesaan.

Swipe up untuk membaca artikel

Polemik yang pernah terjadi tentang pertanyaan beberapa masyarakat tentang “Apakah Pemerintah dalam periode tahun 2014-2019 telah membangun jalan desa sepanjang 191.000 km?” menjadi hal yang perlu diperhatikan. Hal ini terjawab sudah dalam LIVE di salah satu Stasiun TV Swasta di Jakarta bersama Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi RI.

Catatan penting bagi bangsa Indonesia, jelas dan tegas bahwa data terbangun jalan pedesaan sebanyak 191.000 km dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi adalah “valid”. Ini menjawab pertanyaan beberapa pihak hingga menjadi “polemik” bagi sebagian masyarakat.

Baca Juga :   Masalah Kesehatan Pengungsi dan Relawan, Menjadi Perhatian Serius

PERMASALAHAN
Mencermati kondisi di atas, menarik bagi kita semua, mengapa ada pertanyaan masyarakat tentang apakah benar terbangun jalan desa sepanjang 191.000 km? Terbayang juga pertanyaan dalam analisis akan hal itu:
1. Bagaimana perencanaan
proyek jalan desa yang
dilakukan?
2. Bagaimana proses
pengawasannya?
3. Apakah business proses
pembangunan jalan desa
sudah ideal?
Dari pertanyaan di atas, pembangunan jalan sejumlah 75.000 desa di seluruh Indonesia, dengan pembangunan rata-rata 625 m per tahun sesungguhnya wajar. Jalan desa dengan berbagai model bahan pembangunan serta bentuk jalan, lebar jalan, panjang jalan, dalam 4 tahun terakhir sejak tahun 2014, tidak terasa ternyata jumlah panjang jalan desa yang terbangun sangat besar. Mungkin saja masyarakat Indonesia belum mengetahui benar karena proses “sosialisasi” belum merata.

  • Bagikan