Beranda Rohani Pesta Emas ke-50 Paroki Put’Ain Adakan Sakramen Krisma Bagi 249 Orang

Pesta Emas ke-50 Paroki Put’Ain Adakan Sakramen Krisma Bagi 249 Orang

373
0

SoE, Flobamora-news.com –  “Umat Katolik dan atau umat Kristen selalu berbicara tentang Kerajaan Allah. di dalam kerajaan Allah yang dijanjikan oleh Yesus Kristus itu ada tanda-tanda kebenaran dan keadilan serta kedamaian dan sukacita. Sebagai pengikut Kristus kita harus mewujudkan tanda-tanda itu dalam kehidupan kita setiap hari. Tetapi karena kita sebagai manusia tidak mampu menghadirkan kerajaan Allah, maka yang bisa kita buat adalah menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Pemberdayaan.”

Demikian penyampaian Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang pada kesempatan sambutannya diperayaan Syukur Pesta Emas Ulang Tahun ke-50 Gereja Paroki Sta. Columba Put’ain-Kecamatan Amanatun Utara, Kabupaten TTS pada Jumat (25/10/2019)

Mgr Turang menguraikan bahwa 50 tahun berdirinya paroki Put’ain merupakan satu usia yang dewasa menurut umur seorang manusia. 50 tahun usia emas mengingatkan umat Katolik di Put’ain bagaimana proses pembangunan paroki Put’ain, yang tidak terlepas dari rasa sakit. Tetapi karena ada rasa sakit itu maka sekarang ini umat boleh melihat kebaikan Tuhan yang menjaga Paroki tersebut dan umatnya sampai usianya yang ke-50.

Kita bisa berterimakasih dan bersyukur kepada Tuhan, lanjut Uskup Turang, karena pernah mengalami rasa sakit itu. Mengapa? Karena orang yang tidak pernah mengalami rasa sakit dan yang tidak pernah merasa susah dan sedih tidak mungkin merasakan kegembiraan yang benar.

Pengalaman rasa sakit selama 50 tahun akan membantu umat dan pemimpinnya melihat masa depan iman ke-Katolik-an mereka dan mulai membangun lagi dengan pengharapan yang lebih baik.

Perayaan syukur pesta ulang tahun emas Paroki Put’ain juga bersamaan dengan penerimaan Sakramen Krisma bagi 249 orang calon penerima Sakramen Krisma yang datang dari kapela-kapela di area Paroki Sta. Columba Put’ain.

Kepada para penerima Sakramen Krisma, Uskup Turang menasehati bahwa kita diberikan semangat yang baru dalam iman gereja Katolik. Terutama penguatan iman oleh Roh Kudus yang kita yakini akan menguatkan kita dalam membangun kesaksian iman akan Kristus di dunia ini.

Bukan saja kesaksian untuk membangun karakter umat, Lanjut Uskup Turang, dan bukan saja kesaksian untuk memberikan watak manusiawi, tetapi satu kesaksian yang memperlihatkan kepada dunia bahwa apa yang Kristus wartakan bisa dilihat dengan benar.

Mgr.Turang juga mengingatkan bahwa orang muda adalah titik harapan dari umat dan masyarakat karena orang muda sedang mengalami kemajuan teknologi yang luar biasa. Di dalamnya orang muda harus maju sebagai serdadu-serdadu Kristus yang pantang mundur karena kemajuan itu berguna bagi semua orang.

Menyinggung soal TKI/TKW. Mgr. Petrus Turang membeberkan bahwa Kabupaten TTS merupakan Daerah dengan jumlah TKI/TKW terbanyak kedua di NTT. Banyak diantaranya berangkat menjadi TKI/TKW melalui jalur non prosedural.

Tentang ini Uskup meminta agar masyarakat menempu jalur prosedural dengan mengurus surat-surat/dokumen-dokumen resmi identitas diri di Dinas Dukcapil TTS sesuai Permintaan Daerah Kabupaten TTS.

“Jangan sebaliknya pergi diam-diam dan dapat E-KTP dan Pasport di Surabaya, Batam dan atau Nunukan. Kemudian kembali ke kampung halaman dalam bentuk jasat atau jenasah. Lalu menyalahkan pemerintah dan gereja tidak perhatikan.” Tegas Mgr. Turang.

Uskup Turang juga menyayangkan praktek perekrutan TKI/TKW oleh oknum tertentu de ngan metode “okomama” yang umumnya terjadi di masyarakat di TTS. Praktek tersebut menurut sang Uskup menyusahkan masyarakat. Mirisnya orang tua calon TKI/TKW langsung mengijinkan dan bahkan menyerahkan anak kepada perekrut dengan begitu saja tanpa tahu jelas apa yang akan terjadi dengan anaknya di luar negeri.

Umat Paroki Put’ain diminta Uskup untuk merayakan sukacita pesta emas parokinya dengan memperhatikan hal-hal kongkrit yang dihadapi setiap hari. Termasuk memperhatikan isu-isu ketenagakerjaan [red.TKI/TKW] yang di hadapi pemerintah dan gereja. Dengan demikian umat Katolik bisa berkontribusi untuk pembangunan kehidupan masyarakat yang damai dan bergerak bebas leluasa tanpa takut.

Menurut Uskup Turang, perayaan ulang tahun emas Paroki Put’ain juga sebenarnya perayaan berbagi tentang pemberdayaan. Orang Katolik dan atau Orang Kristen selalu berbicara tentang Kerajaan Allah. Di dalam kerajaan Allah yang dijanjikan oleh Yesus Kristus itu ada tanda-tanda kebenaran dan keadilan serta kedamaian dan sukacita.

Sebagai pengikut Kristus kita harus mewujudkan tanda-tanda itu dalam kehidupan kita setiap hari. Tetapi karena kita sebagai manusia tidak mampu menghadirkan kerajaan Allah, maka yang kita buat adalah menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Pemberdayaan di masyarakat.

“Kita membuat diri kita berdaya supaya kita mampu menghasilkan sesuatu yang benar, membawa sesuatu yang adil, melakukan apa yang membawa damai dan apa yang membawa sukacita. Dengannya dunia kita menjadi satu tempat dimana setiap orang yang hidup di dalamnya merasa aman dan nyaman.” Ungkap Mgr.Turang.

Lebih lanjut Mgr. Turang mengingatkan bahwa kita tidak ditakdirkan untuk menciptakan zona nyaman sendiri dan merasa senang sendiri. Tetapi harus membuat zona nyaman yang lebih luas supaya setiap orang yang kita jumpai di dunia ini ada kemungkinan untuk berdaya.

Pemerintah kita saat ini bicara tentang SDM unggul. Tindakan kongkrit kita yang ada disini adalah dengan memperhatikan dan menjaga apa yang sudah dibangun oleh pemerintah. Terutama sekolah-sekolah yang sudah ada harus dimanfaatkan secara benar supaya orang yang tamat dari sekolah itu menjadi unggul.

“Jangan sampai anak tamat SD Katolik atau tamat SMP Katolik tetapi ketika disuru tulis nama sendiri tidak tahu atau tidak bisa.” Tandas Uskup Turang.

Jangan bicara SDM Unggul, lanjut Uskup Turang, kalau sekolah-sekolah kita tidak dikembangkan dengan benar. Guru-guru lebih banyak di Soe daripada di Put’ain. Guru-guru hadir di Sekolah tetapi tidak hadir diantara anak-anak didiknya.

Jika demikian, lanjut Uskup Turang, kita tidak mungkin memiliki generasi unggul. Generasi unggul tidak mungkin tercapai. [kos/kos]


Reporter: Ricky Anyan


Komentar