Beranda Opini Politik Tender Politik

Politik Tender Politik

1715
0

Oetalu, Flobamora-news.com – Sebuah Refleksi Politik di awal Tahun di tengah hajatan politik Pilkada di sejumlah kabupaten/kota wilayah NTT)

Kenyataannya praktek politik yang sudah berjalan di berbagai wilayah Nusa Tenggara Timur adalah praktek politik Tender Politik. Masyarakat pun sudah pintar berpolitik. Bagi mereka politik adalah kesempatan utk meraup keuntungan bagi dirinya dan keluarganya.

Masyarakat juga memiliki pandangannya sendiri soal perekrutan kepemimpinan. Bagi mereka, orang yang bisa memberinya secuil hidup pada saat proses politik (perekrutan kepemimpinan), berupa kebaikan kandidat dalam memberikan sejumlah uang, bantuan sembako dll), bagi mereka itulah pemimpin mereka. Peduli, seperti apa nantinya dia memimpin. Apakah dia korupsi, apakah dia lebih suka jalan-jalan keluar daerah dari pada di dalam daerah, dll, itu urusan kemudian, itu bukan urusan, bahkan tak peduli seperti apa nanti daerah itu, itu bukan urusannya. Yang penting saya sdh dapat sesuatu. Baginya itulah calon pemimpin yang berbudi baik.

Jadi kalau kandidat yang datang hanya sebatas omong dengan program meskipun baik, menyentuh hajat hidup orang banyak, punya moralitas dan komtmennya yang sangat baik tapi kalau tanpa memberikan sesuatu kepada mereka, bagi mereka itu bukan calon pemimpin mereka. Ini fenomena proses politik di wilayah Nusa Tenggara Timur. Dengar kalau ada hajatan politik mereka mulai sibuk menjadi tim sukses bukan untuk Satu orang atau Satu pasang tetapi malah menjadi tim sukses bagi semua kandidat. Tujuannya untuk menyeleksi siapa yang memberi lebih banyak kepadanya. Itulah yang menjadi pilihan akhirnya. Inilah praktek politik TENDER POLITIK di NTT.

Pertanyaannya, dari mana mereka belajar politik dagang sapi ini, bahkan Politik Tender Politik ini.
Tak dinyana, kalau masyarakat belajar pada proses perekrutan kepemimpinan ala partai-partai politik, lazimnya pada momentum pemilukada. Dewan Pengurus Pusat Partai selalu memasang tarif bagi kandidat yang ingin menggunakan partai politiknya menjadi kendaraannya. Perhitungannya merujuk pada kursi DPRD, pun jumlah suara pemilih. Ada yang memasang tarif dari 500 juta rupiah per kursi hingga 1miliar lebih rp per kursi. Jadi syarat bisa maju harus 5 kursi DPRD maka hitung saja, bukannya 5 kursi kali 500juta = 2,5miliar hanya untuk setor ke Partai Pusat…?
Pengurus partai di tingkat pusat sudah kebagian, tentu pengurus partai di daerah pun kita harus urus agar dia juga bisa bantu menggerakan mesin partainya di tingkat bawah.

Ini belum termasuk pengadaan logistik, anggaran bagi tim sukses. Belum juga terhitung porsi bagi masyarakat pemilih yang mentradisi tuntutannya untuk perlu dihargai. Kalau tidak diberikan kepadanya, pemilih kita men-judge kalau kita bukan pemimpin mereka, bukan pemimpin yang baik, bukan pemimpin yang dermawan. Mereka pun pasti tidak memilih kita.

Inilah realitas politik perekrutan kepemimpinan di NTT dari waktu ke waktu.

“Rakyat NTT memilih pemimpin bukan ukuran kwalitas intelektual, spiritualitasnya, moralitasnya, kulturalnya, sosialnya sehari-hari, komitmennya, tetapi berapa besar pemberiannya kepada orang perorang organisasi, kelompok, dan lembaga disaat terjadi proses politik”,.

Al hasil, setiap momentum politik perekrutan kepemimpinnan di NTT hanya memilih pemimpin yang memiliki banyak duit tetapi minim kualitasnya. Sementara calon pemimpin yang berkualitas baik tereliminasi didalam proses politik Tender Politik.
Dampak lain dari pola kepemimpinan Tender Politik ini akan melahirkan pemimpin yang korup dan tidak memiliki arah pembangunan yang jelas.

Menghadapi kondisi politik buram yang kian mentradisi ini maka perlu dilakukan EDUKASI POLITIK BERMARTABAT KELILING WILAYAH NUSA TENGGARA TIMUR secara terus menerus kepada masyarakat (konstituen) di semua wilayah kabupaten.
Pun pula bagai mana membangun akses ke pusat2 partai politik untuk menghilangkan tradisi perekrutan kepemimpinan dengan bertarif mahal.

Kini muncul pertanyaan baru, siapa yang mau berkorban waktu dan uang untuk membiayai semua kegiatan ini…? Ini diskusi lanjut kita. Tentu di sini butuh pengorbanan dari Aktifis Peduli Politik Tanah Flobamora.

Oetalu, 19 Januari 2021


Reporter: Ricky Anyan


Komentar