Beranda Hukum & Kriminal Sepucuk Surat Cinta Pejuang Eks Timor-Timur Buat Menkopolhukam

Sepucuk Surat Cinta Pejuang Eks Timor-Timur Buat Menkopolhukam

2080
0

Belu, Flobamora-news.com – pagi itu, Kamis (18/6/020), Cancio Lopes de Carvalho sudah bangun sekitar pukul 06.00 Wita. Tak seperti biasanya, hari ini, dirinya sudah bersiap diri untuk berangkat ke Atambua. Mantan Komandan Sektor C Pasukan Pejuang Integrasi ini tahu bahwa hari ini, Menkopolhukkam dan Menteri dalam Negeri Republik Indonesia mengadakan kunjungan kerja ke Atambua, Kabupaten Belu, Perbatasan RI-RDTL. Akan tetapi, dirinya pergi ke Atambua bukan untuk melihat apalagi menemui kedua menteri itu. Cancio pergi ke Atambua untuk menemui Bupati Belu, Willybrdus Lay di Rumah Jabatan Bupati.

Cancio dan Bupati Belu memang sudah membuat janji untuk bertemu. Tujuan Cancio menemui bupati untuk menitipkan sebuah surat tentang curahan hati para pejuang Timor-Timur pro integrasi. Cancio meminta Buapti Belu untuk menyerahkan surat itu kepada Mahfud MD yang merupakan Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan.

Sebenarnya, Cancio bersama beberapa pejuang Timor Timur lain sudah menemi Bupati Belu satu hari sebelum kedatangan dua menteri ke Atambua. Saat itu, mereka minta kepada bupati agar mereka diberi kesempatan untuk bisa bertatap muka dengan kedua menteri itu. Hanya saja, karena waktu yang mepet, Bupati Belu pun meminta kepada mereka untuk membuat sebuah surat untuk diserahkan kepadanya. Surat itu akan diserahkan langsung oleh Bupati Belu kepada Menkopolhukkan. Rencana itu pun disetujui oleh Cancio bersama teman-temannya.

Sekitar pukul 08.00 Wita, cancio mengutus salah satu anggotnya untuk menemui Bupati Belu di Rumah Jabatan Bupati sebelum datangnya dua menteri itu. Utusan itu pergi ke Rumah Jabatan Bupati dengan membawa surat yang telah disiapkan oleh Cancio.

Dalam surat itu dituangkan lima poin aspirasi para pejuang pro integrasi dan korban politik Timor Timur. Inti sari dari lima poin itu antara lain ingin menanyakan kepada Menkopolhukkam dan Mendagri tentang kenjelasan status hukum 401 orang pejuang Timor Timur pro integrasi yang telah dituduh oleh Unit Seris Crime PBB sebagai pelaku pelangaran HAM tanpa diadili hingga hari ini.

“Kalau kami telah melakukan pelaggaran HAM berat, seharusnya kami sudah diadili di pengadilan Internasional. Jangan biarkan sttus hukum kami tergantung seperti sekarang. Ini sangat merugikan kami dan anak cucu kami,” ucap Cancio.

Pada kelima poin aspiras itu juga, Cancio bersama teman-temannya mengusulkan 4115 orang pejuang Timor Timur untuk diberikan kemudahan khusus menjadi Anggota Veteran Republik Indonesia.

“Kenapa 4115 orang ini harus mendapat kemudahan khusus untuk menjadi anggota Veteran? Karena 4115 orang ini telah diakui oleh Menteri Pertahanan sebagai pejuang. Dan itu dibuktikan melalui piagam yang mereka dapat dari kementerian,” ungkapnya.

Selain itu, para pejyang juga meminta kompensasi dari negara kepada mereka. Untik besaran kompensasi, mereka serahkan kepada negara untuk membuat kebijakan sesuai dengan kemampuan keuangan negara.

Menurut Cancio, aspirasi yang mereka sampaikan melalui surat tersebut bukanlah sebuah hal yang luar biasa. Pasalnya, Timor Leste yang baru semumuran jagung dapat menghargai para pejuangnya. Bahkan, sekitar 70.000 lebih pejuang kemerdekaan Timor Leste telah diangkat sebagi Veteran pejuang kemerdekaan, sedangak, para pejuang pro integrasi yang saat ini berada fi Indonesia memiliki kehidupan yang tidak jelas.

“Permintaan kami tidak berlebihan. Kami hanya minta 4115 irang diberi kemudahan khusus untum menjadi anggota Veteran. Ini jumlah yang kecil dibanding Timor Leste yang terlah mengangkat 70.000 lebih orang menjadi Veteran pejuang kemerdekaan. Karean itulah, hari ini kami berikan sepucuk surat cinta buat pak menteri,” tuturnya.

Karena itu, Canicio meminta kepada Pemerintah Indonesia segera memenuhi tuntutan yang sudah mereka berikan secepat mungkin. Apabila tuntutan itu tidak dipenuhi, maka para pejuang Timor Timur bersepakat untuk mengadakan kongres luar biasa di Atambua. Kongres itu akan membahas sikap politik para pejuang Timor Timur untuk tetap tinggal di Indonesia atau kembali ke tanah leluhurnya.

“Perlu saya tegaskan di sini. Penderitaan kami sudah berlangsung 21 tahun. Oleh karena itu, kami semua sepakat, apabila aspirasi kami tidak direspon, maka kami akan mengadakan kongres luar biasa Pejuang Timor Timur di Atambua untuk menentukan sikap politik; apakah kami tetap tinggal di Indonesia dalam keadaan seperti ini – mati satu per satu atau harus pulang ke Timor Leste dengan membawa serta Merah Putih?” Demikian Tegas Cancio.


Reporter: Ricky Anyan


Komentar