Beranda Pendidikan Sistem Belajar Tatap Muka Tidak Perlu Dipaksakan, Kata Muhamad Irfan

Sistem Belajar Tatap Muka Tidak Perlu Dipaksakan, Kata Muhamad Irfan

99
0

Foto: Kepala LPMP Nusa Tenggara Timur , Drs. Muhamad Irfan, M.M

KUPANG, Flobamora-news.com – Istilah social distancing atau pembatasan sosial, awalnya terdengar asing, kini semakin akrab. Semua kegiatan yang melibatkan kerumunan orang banyak dihentikan sementara untuk meminimalkan potensi penyebaran virus yang satu ini. Nah tentu sangat berpengaruh terhadap dunia pendidikan.

Hal ini disampaikan oleh Kepala Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Provinsi Nusa Tenggara Timur, Drs. Muhamad Irfan, M.M., Saat bincang-bincang santai dengan wartawan Flobamora-news.com di halaman Kantor pada, Jumat (18/9/2020).

Menurut Muhamad Irfan, Pandemi Covid-19 memberikan dampak serius bagi siswa di Provinsi Nusa Tenggara Timur terutama yang tinggal di daerah terpencil yang masih sangat terbatas dalam pelaksanaan pembelajaran sistem daring.

“Bagaimana mau belajar system daring fasilitas penunjang sistem belajar daring belum menjangkau wilayah pelosok; listrik saja belum ada, orang tua belum mampu untuk membeli hp android, lagi pula belum ada Jaringan internet”, kata Irfan.

“Sistem belajar tatap muka masih menjadi proses pembelajaran efektif bagi siswa peserta didik di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Namun dalam situasi seperti ini tidak perlu dipaksakan. Jadi bagi sekolah-sekolah memiliki fasilitas untuk melaksanakan sistem Belajar Dari Rumah (BDR) tentunya dijalankan dengan baik. Sedangkan sekolah-sekolah yang belum didukung fasilitas daring tetap melaksanakan sistem pembelajaran tatap muka ke sekolah dengan mematuhi prokol kesehatan.

Ketika ditanya mengenai Kualitas Pendidkan di tengah Pandemi, Irfan mengatakan tentu saja kita berbicara pada aspek kualitas 8 standar pendidikan yaitu standar isi, proses, kompetensi lulusan, pendidik dan tenaga kependidikan , sarana dan prasarana, pengelolaan, biaya, dan penilaian. Pembelajaran yang dilakukan dalam jaringan kemungkinan akan mempengaruhi 2 standar yang utama yaitu standar proses dan standar penilaian. Namun tidak menutup kemungkinan  akan merembet ke seluruh aspek standar yang ada.

Untuk menjaga kualitas pendidikan selama masa pandemi ini tentu saja diperlukan penyesuaian dari berbagai macam aspek standar proses pendidikan. Salah satu aspek penyokong dalam peningkatan proses pembelajaran dalam masa pandemi ini adalah ketersediaan teknologi yang bisa dimanfaatkan oleh guru dalam pembelajaran.

Selama pembelajaran daring dilakukan banyak masalah yang didapatkan oleh guru. Kendala teknis yang dihadapi oleh guru adalah ketersediaan fasilitas hardware maupun software yang dibutuhkan bagi penyelenggaraan pembelajaran daring memang perlu di Pertanyakan. Tidak semua guru dan murid memiliki perangkat yang memenuhi syarat kelayakan bagi pelaksanaan aktivitas dalam jaringan. Fasilitas internet yang menjamin keterhubungan pun belum merata keberadaannya di seluruh pelosok tanah air.  Kesulitan non teknis berkaitan dengan kondisi bahwa tidak semua guru dan murid dapat segera beradaptasi dengan teknologi dan metode mengajar jarak jauh dan penguasaan siswa ataupun guru terhadap teknologi pembelajaran juga sangat bervariasi.

“Kita tidak perlu menuntut harus sempurna. Toh, disaat belum ada Covid-19 pun aspek kualitas 8 standar pendidikan (standar isi, proses, kompetensi lulusan, pendidik dan tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, biaya, dan penilaian) belum semua dipenuhi.  Jadi jangan menuntut seolah-olah mau jadi pahlawan di tengah pandemi. Intinya siswa dibimbing, diarahkan untuk bisa belajar dengan baik, terutama menumbuhkan semangat belajar para siswa dan bertanggungjawab atas tugas yang diberikan oleh guru”, tutup Irfan


Reporter: Ricky Anyan


Komentar