Strategi Penagananan Gizi Buruk Terintegrasi (PGBT) di Provinsi NTT Kerja Sama UNICEF


  • Bagikan

Press Realese:
Drg. Dominikus Minggu, M.Kes
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTT

KUPANG, Flobamora-news.com – Hasil utama Riskesdas 2018 menunjukkan bahwa proporsi status gizi buruk (severe wasting atau “sangat kurus”) pada balita telah menurun dari 6,2% (2007) menjadi 5,3% (2013) dan 3,5% (2018); sedangkan status gizi kurang (wasting atau “kurus”) dari 7,4% (2007) menjadi 6,8% (2013) dan 6,7% (2018).

Swipe up untuk membaca artikel

Proporsi status gizi buruk dan gizi kurang pada balita, 2007-2018, Riskesdas
Lebih lanjut, Riskesdas 2018 memberikan gambaran proporsi status gizi “sangat kurus” (gizi buruk) dan “kurus” (gizi kurang) pada balita menurut provinsi pada tahun 2013 dan 2018 .
Di NTT, hasil Riskesdas 2018 (>14%) menunjukkan adanya penurunan prevalensi kekurangan gizi akut dibandingkan hasil Riskesdas 2013, namun prevalensinya masih tinggi dimana menurut standar WHO masuk dalam kategori serius yakni >10%.

Menurut kriteria WHO, provinsi-provinsi di Indonesia termasuk dalam kategori “serius” (prevalensi 10-14%), “buruk” (5-9%) dan “dapat diterima” (kurang dari 5%).

Baca Juga :   Koramil 1604-10/Batakte dan Masyarakat, Membantu Membangun Kamar Mandi Sehat

Apa Dampak Gizi Buruk?
Gizi Buruk menyebabkan terganggunya sistem kekebalan tubuh seorang anak, meningkatkan lama dan keparahan penyakit menular yang dideritanya, dan juga resiko kematian. Gizi buruk juga berdampak negatif pada perkembangan fisik dan mental dari seorang anak dalam jangka panjang.

Sangat kurus/gizi buruk adalah bentuk kekurangan gizi anak yang paling berbahaya, dan merupakan keadaan darurat medis yang membutuhkan perhatian segera. Anak-anak dengan Gizi Buruk 11,6 kali beresiko meninggal dibandingkan anak-anak yang memiliki status gizi yang baik. Sementara anak yang menderita gizi buruk dan stunting beresiko meninggal 12.3 kali.

Mengapa Penanganan Gizi Buruk Penting dan Hubungannya dengan Penurunan stunting?
Berbagai penelitian membuktikan bahwa anak yang mederita kekurangan gizi akut/gizi buruk cenderung menjadi stunting dan demikian pula anak yang stunting cederung menderita gizi buruk. Periode ketika anak menderita gizi buruk, atau memiliki berat badan yang fluktuatif, meningkatkan resiko menjadi stunting .

Penelitian yang lain juga menunjukan bahwa selama periode perawatan karena mederita gizi buruk, pertumbuhan tinggi badan anak-anak tersebut melambat sampai berat badannya kembali normal . Penemuan ini secara kuat menunjukan bahwa tubuh menyesuaikan terhadap kenaikan berat badan yang tidak sesuai dengan cara memperlambat pertumbuhan tinggi /panjang badan .

  • Bagikan