Beranda Hukum & Kriminal Tidak Pakai Helm Saat Konvoi, Sang Petahana di Belu Langgar Aturan Lalulintas

Tidak Pakai Helm Saat Konvoi, Sang Petahana di Belu Langgar Aturan Lalulintas

557
0

Belu, Flobamora-news.com – Tidak menggunakan helm saat melakukan konvoi di Halilulik pada Sabtu (17/10/2020), Sang Petahana di Kabupaten Belu memberikan contoh yang sangat tidak terpuji bagi kaum milenial di daerahnya itu.

Kejadian bermula saat Sang Petahana, Willybrodus Lay yang melakukan kampanye di Dusun Umamakerek, Desa Naitimu, Kecamatan Tasifeto Barat hendak beranjak ke titik kampanye berikutnya di Dusun Haliserin. Saat itu, Willybrodus Lay memimpin massa untuk melakukan konvoi.

Willybrodus yang mengenakan kemeja lengan panjang berwarna putih dan celana jeans biru tampil gagah dengan menggunakan motor KLX. Willybrodus memimpin konvoi di barisan depan.

Namun sayang, aksi konvoi yang dilakukan Willybrodus menunjukan sebuah contoh tidak terpuji bagi masyarakat Kabupaten Belu seluruhnya. Willybrodus yang diapit dua orang Walpri tidak menggunakan helm. Untuk berdandan milenial, Willybrodus hanya menggunakan selendang untik diikat di kepalanya.

Hal ini sudah barang tentu melanggar aturan lalulintas. Karena itulah, salah satu tokoh masyarakat Kabupaten Belu, Arnaldo da Silva Tavares alias Siku Tavares angkat bicara terkait hal tersebut.

Siku Tavares Memberikan apresiasi kepada masyarakat Naitimu yang sudah ikut memeriahkan pesta demokrasi dalam pilkada Belu 2020. Akan tetapi, apa yang telah dilakukan oleh Willybrodus merupakan sebuah contoh tidak terpuji yang dilakukan oleh seorang pemimpin di Kabupaten Belu.

“Saya Belum bicara soal konvoi itu sendiri. Tapi melihat apa yang dilakukan oleh Willy Lay saat konvoi merupakan sebuah contoh buruk yang ditunjukan pemimpin kepada masyarakat Belu. Dengan tidak menggunakan helm saja, dia sudah menunjukkan sebuah aksi melanggar aturan aturan lalulintas. Ini memalukan, “ tegas Siku Tavares.

Dikatakan, seorang pemimpin yang baik seharusnya memberikan teladan yang baik kepada masyarakat. Seperti kata Ki Hadjar Dewantara, pemimoin itu harus “ing ngarso sung tolodo, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani”. Apa yang dilakukan oleh pemimpin selalu diikuti oleh rakyatnya karena menurut rakyat, apa yang dilakukan oleh pemimpin adalah sebuah kebenaran sekalipun itu dalam evorio pesta demokrasi.

Siku Tavares meminta kepada masyarakat agar tidak mencontohi teladan pemimpin yang salah.

“Masyarakat jangan mencontohi teladan pemimpin yang salah karena itu hanya akan merusak mental generasi muda Kabupaten Belu saat ini,“ ucapnya.


Reporter: Ricky Anyan


Komentar