Beranda Rohani Tuhan Selalu Menumbuhkan Benih di Tanah yang Gersang

Tuhan Selalu Menumbuhkan Benih di Tanah yang Gersang

735
0

Keluaran, 2:1-15
Matius, 11:20-24

BELU, Flobamora-news.com  – Judul di atas mau menggambarkan bagaimana kehidupan orang Israel, sebagai bangsa pilihan Allah.

Melihat perjalanan bangsa Israel menuju tanah terjanji, ada begitu banyak rintangan dan kesulitan yang dialami. Rintangan dan kesulitan ini yang saya beri nama “tanah yang gersang”.

Kisah kelahiran Musa dalam bacaan pertama merupakan gambaran benih yang Tuhan tumbuhkan bagi orang Israel, guna mengatasi kesulitan pemimpin yang dapat membawa mereka ke Tanah Terjanji.

Inilah kebesaran kasih dan kuasa Tuhan bagi umat pilihan-Nya. Tuhan mengasihi semua bangsa manusia, seperti matahari yang menyinari Bumi, tanpa pandang bulu.

Manusia akan benar-benar “menjadi yang dikasihi”, bila manusia dalam segala macam kelemahan dan kekurangannya tetap setia kepada Tuhan dan kehendak-Nya. Inilah yang dikehendaki Tuhan dari bangsa Israel untuk mengabdi kepada-Nya.

Meneropong kehidupan bangsa Israel, sering muncul rintangan dan kesulitan karena mereka selalu berubah setia kepada Tuhan. Mereka menyembah kepada dewa/i lain.

Meskipun demikian selalu saja ada sisa-sisa kecil Israel yang senantiasa setia kepada Tuhan. Tuhan pun senantiasa menumbuhkan benih unggul dalam situasi gersang dan kering sekalipun.

Demikianlah dinamika hidup yang dialami bangsa Israel. Dalam situasi gersang dan kering, Tuhan senantiasa setia hadir untuk memberi kekuatan dan harapan baru.

Maka, setiap orang yang percaya kepada-Nya, diajak untuk tidak boleh menyerah dan kalah dalam situasi gersang dan kering. Situasi gersang-kering hanyalah sebuah modus tercipta untuk mengasa dan menguji arti sebuah kesetiaan dan nilai-nilai hidup baik lainnya.

Yakinlah bahwa Tuhan akan selalu menumbuhkan benih yang unggul di tengah kegersangan dan kekeringan. Kristus adalah Penyelamat yang dihadirkan Allah Bapa untuk arti KESELAMATAN itu.

Hari ini gereja memperingati Sta. Perawan Maria di Gunung Karmel. Sebuah tarekat yang didirikan oleh Bertold dari Kalabria pada tahun, 1155. Mereka adalah orang-orang yang mencari Tuhan di tempat yang gersang, padang gurun. Di sana mereka bertapa dan bermati raga. Tuhan sungguh diselami dan dialami dalam situasi gersang.

Kehidupan komunitas ini menggugah kita untuk mencintai kegersangan dan jangan selalu berusaha mengelak, menjauh, dan lari dari situasi hidup yang sulit atau gersang.

Ingat…Tuhan Yesus berkali-kali mengajak para murid untuk berani memikul salib dan mengikuti-Nya, dan bukan mengelak dan tidak boleh pikul salib. Hanya dalam salib, kita akan dihantar untuk memasuki jalan kemuliaan atau kejayaan. Hanya dalam salib kita dimurnikan jiwa dan raga untuk seutuhnya mengabdi kepada Tuhan. Hanya dengan salib kita dapat meraih kebahagian yang sejati.

Yesus, dalam bacaan Injil hari ini, mengecam kota-kota, seperti Korasim dan Betsaida, karena ketidaksetiaan mereka kepada Allah. Mereka gampang berubah setia ketika dihampiri tawaran yang menyenangkan, yang nikmat, alias “enak dimana lingkar di situ”.

Kenikmatan hanyalah sebuah keinginan daging yang sering menyesatkan. Kemewahan hanyalah realitas duniawi yang sering kali menghadirkan konflik berkepanjangan, karena di mana hartamu berada di situ hatimu.

Pada titik ini, sekali lagi kita diajak untuk senantiasa sadar akan pentingnya situasi gersang yang hadir dalam kehidupan kita. Sebab Tuhan akan senantiasa menumbuhkan benih di tanah yang gersang. Berkat Tuhan melimpah atas diri dan hidup orang yang setia kepada-Nya dalam situasi hidup apapun itu. Semoga Tuhan selalu menyertai setiap derap langkah hidup kita. Amin.


Penulis: Rm. EvenEven Seran, Pr


Komentar