Beranda Humaniora Ungkapan Hati Bapak Hendrikus, Pasien TBC Kronis yang Sembuh Berkat Bantuan dr....

Ungkapan Hati Bapak Hendrikus, Pasien TBC Kronis yang Sembuh Berkat Bantuan dr. Agus Taolin

627
0

Belu, Flobamora-news.com – Minggu itu menjadi minggu yang berat baginya. Tak ada kebahagiaan selain pesan-pesan terakhir yang dapat ia tinggalkan bagi anak-istrinya. Malaikat Pencabut Nyawa seakan akrab dengan dirinya.

Hendrikus Tallo (68) namanya. Sudah bertahun-tahun dirinya mengidap penyakit TBC kronis, sebuah penyakit menular yang sangat mematikan. Tepat pada tahun 2000 silam, Sakit bapak Hendrik semakin bertambah parah. Batuk disertai darah yang terus keluar dari mulut membuat kondisi tubuhnya terus menurun.

Banyak pengalaman dari pasien lain yang memiliki nasib sama seperti bapak Hendrik selalu berujung pada kematian. Hal ini sangat memengaruhi kondisi fisik dan psikis Bapak Hendrik. Tak ada lagi yang dapat dilakukan selain memberikan pesan-pesan terakhir kepada anak-istrinya dan terus berdoa, semoga keajaiban itu berpihak padanya.

“Harapan tipis. Saya hanya bisa berdoa saja”. Demikian tuturnya.

Saat berkelut dengan maut, Hendrik tak hanya mau tinggal diam. Dalam kepasrahan itu, Hendrik terus berusaha untuk kesembuhannya. Hendrik dengan uang seadanya, berangkat dari rumahnya di Dusun Wekrame A, Desa Tohe, Kecamatan Raihat menuju ke kota Atambua, Kabupaten Belu. Dirinya pergi bertemu dengan salah seorang dokter untuk bisa mendapatkan obat untuk mengobati rasa sakitnya. Namun, dirinya tak sedikitpun berpikir bisa sembuh dari sakitnya.

Dalam segala kepasrahannya, Tuhan hadir lewat orang yang tepat. Sesampai di Atambua, Hendrik menemui dr. Agustinus Taolin.

“Ha’u hanoin waktu nia dr. Agus dale, ‘untung o mai lais, kalo lale susar tian’. Hau mos kanoin tebes, kalau terlambat mungkin ha’u la no tian. (Saya ingat saat itu, pak dr. Agus Taolin bilang ‘untung bapak datang cepat, kalau terlambat… susah’. Saya langsung berpikir, mungkin benar, kalau terlambat mungkin saya sudah tiada, red)”. Demikian kisahnya.

Saat itu, dr. Agus Taolin memberikan 7 pil obat untuk diminum. Ketika baru saja minum dua pil, ternyata darah yang sering keluar dari mulut pun berhenti dan batuknya pun berkurang. Betapa senang hatinya. Dua hari kemudian, bapak Hendrik pun kembali menemui dr. Agus Taolin untuk mengkonsultasikan perkembangan kesembuhan sakitnya.

“Waktu nia dr. Agus di pesan ba ha’u supaya ba hasoru dr. Jhon Taolin hi Sumber Sehat. Ha’u ba berobat di dr. Jhon to’o Fulan nen tan dr. Agus Taolin atu ba sekolah di Jawa. Tan nia, ha’u beli motor to’o oras ne. (Saat itu, dr. Agus memberi pesan kepada saya untuk pergi ke dr. Jhon Taolin yang membuka praktik di Apotek Sumber Sehat. Saya pergi dan terus berobat di dr. Jhon selama enam bulan karena dr. Agus akan melanjutkan sekolah di Jawa. Dengan bantuan itu, saya sembuh sampai sekarang, red)”, tuturnya.

Bapak Hendrik adalah salah satu contoh pasien dari sekian banyak pasien yang telah dibantu oleh dr. Agus Taolin. Masih banyak lagi pasien di Kabupaten Belu yang telah sembuh berkat tangan dingin dr. Agus Taolin. Namun itu tak membuat dirinya tinggi diri. Baginya, itu adalah tugas seorang dokter untuk melayani setiap orang sakit tanpa membeda-bedakan dirinya berdasarkan strata maupun RAS.

“Itu tugas saya sebagai seorang dokter. Kami tidak pernah membeda-bedakan orang, karena itu yang kaya maupun yang miskin; orang kampung atau orang kota; orang kulit putih atau orang kulit hitam. Itu adalah sumpah seorang dokter, menghargai orang mulai dari dalam kandungan hingga dia kembali pada keabadian. Kami harus selalu melayani dengan hati,” ungkapnya.


Reporter: Ricky Anyan


Komentar