Vandalisme Selimuti Sejarah Tiga Tokoh Besar NTT Pada Monumen Tirosa


  • Bagikan

Oleh : I Gusti Agung Gede Artanegara

Swipe up untuk membaca artikel

Pemerhati Teknologi dan Budaya Kemendikbud RI

Kota Kupang, flobamora-news.com-Keberadaan Landmark pada suatu kota sangat penting peranannya, landmark merupakan cerminan citra kota tersebut. Menurut Wikipedia Indonesia “Landmark adalah fitur geografis baik alami ataupun buatan manusia, yang digunakan oleh pengelana dan lainnya untuk menemukan jalan mereka kembali atau untuk navigasi.

Pada zaman modern, landmark merupakan sesuatu yang mudah dikenali, seperti monumen, bangunan atau struktur lainnya.” Landmark yang baik mencerminkan tingkat kesejahteraan masyarakatnya. Landmark bisa menjadi solusi untuk mengatasi masalah tata ruang kota yang padat penduduknya. Pembangunan landmark bagi daerah yang berkembang dan ruang kotanya masih luas sangat bermanfaat untuk pembangunan, serta memberikan kesan kota yang bersih dan rapi.

Begitupun di Kota Kupang yang merupakan ibukota dari provinsi NTT (Nusa Tenggara Timur) juga memiliki landmark sebagai daya tarik pariwisata. Pengembangan dan pemanfataan landmark sebagai daya tarik pariwisata di kota Kupang secara perlahan mengalami perkembangan. Seperti kota lainnya, Kupang memiliki beberapa landmark seperti Museum Daerah NTT, Taman Nostalgia Kupang, Monumen Penfui dan masih banyak lagi yang lainnya.

Salah satu landmark yang bisa dijumpai saat berkunjung ke kota Kupang adalah Patung Tirosa (Timor, Rote, Sabu) yang dibuat oleh Chris Ngefak (Alm). Chris Ngefak merupakan seniman putra daerah yang berasal dari Pulau Rote dan pernah mengeyam pendidikan di ASRI Yogyakarta (Akademi Seni Rupa Indonesia) sekarang berganti menjadi ISI Yogyakarta (Institut Seni Yogyakarta).

Adapun histori dari pembuatan patung ini mengisahkan tentang tiga tokoh besar yang berperan penting dalam kemajuan pembangunan di NTT yaitu Prof.Dr.Ir. Herman Johannes (Rektor UGM 1961-1966) asal Pulau Rote, beliau adalah tokoh pejuang pendidikan dan ahli radiologi, H.R. Koroh, Raja Amarasi, Timor yang sukses mendorong masyarakatnya mengembangbiakan sapi dengan sistem paronisasi serta Mayjen.TNI. El Tari, Gubernur NTT (1966-1978) asal Pulau Sabu yang terkenal dengan programnya, “Tanam… tanam, sekali lagi tanam…”.

Baca Juga :   Jakarta Belum Memiliki Strategi Mengantisipasi Kebakaran

Cerminan Pariwisata Kupang
Dari bandara El Tari menuju kota Kupang maka kita melewati bundaran PU dimana Patung Tirosa berdiri megah gagah ditengah bundaran. Di sekitar bundaran terdapat taman yang ditumbuhi tanaman tropis. Karena letaknya yang sangat strategis tepat berada pada pintu masuk dan keluar kota Kupang menjadikan Patung Tirosa layak dimanfaatkan sebagai obyek wisata buatan yang mampu menarik wisatawan domestik maupun mancanegara.

Jika kita bercermin dari fungsi landmark maka semestinya Patung Tirosa bisa dijadikan early opening of tourism. Sudah semestinya Patung Tirosa dijadikan pintu gerbang wisatawan untuk mengenal citra Kota Kupang dan bukan hanya sebatas penambah nilai artistik semata.

Menurut data tahun 2016 dari Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Timur jumlah kunjungan wisatawan mancanegara dan domestik ke kota kupang sebanyak 1.848 orang meningkat sebanyak 143 orang dari data tahun 2014. Walaupun peningkatan wisatawan tidak terlalu signifikan dibandingkan kota yang pariwisatanya telah maju seperti Bali, tetapi data tersebut memperlihatkan potensi pengembangan obyek wisata buatan yang sustainable development guna kesejahteraan masyarakat.

Sampah dan Vandalisme
Faktanya keadaan Patung Tirosa masih jauh dari harapan. Kurang terawat dan seperti ditelantarkan begitu saja, begitulah kesan pertama melihatnya. Sampah dan vandalisme masih menjadi sorotan masalah yang sangat potensial disini. Padahal sampah merupakan salah satu masalah utama yang sedang dihadapi, walaupun tempat sampah telah disediakan di beberapa titik taman, namun kebiasaan membuang sampah sembarangan masih sering terjadi.

Baca Juga :   Teroris Semakin Teriris Pasca Aksi Bom Bunuh Diri di Pos Penjagaan

Aksi corat-coret di hampir seluruh area Patung Tirosa juga kerap dijumpai, aksi ini sering disebut vandalisme. Entah apa maksud dan tujuannya (corat-coret), yang jelas hal tersebut merusak kebersihan serta merupakan pelanggaran terhadap fasilitas umum dan bagaimana pengunjung dapat betah menikmati keindahan Patung Tirosa jika kotor dan kurang terawatt?.

Stakeholder yang terkait semestinya jangan ragu menganggarkan dana untuk revitalisasi, selain itu perlu adanya strategi pembenahan dari segi perawatan, pengelolaan, inovasi, maupun pembaharuan Tugu Patung Tirosa. Lahan parkir patut menjadi perhatian, alternatifnya dengan membangun lahan parkir tidak jauh dari obyek tersebut yang diharapkan mempermudah akses wisatawan maupun masyarakat setempat untuk berkunjung.

Melihat ikon landmark kota seperti Surabaya yang memiliki Patung Sura dan Baya (jawa: Patung Suro lan Boyo), Jakarta yang memiliki Monas (Monumen Nasional), Bali yang memiliki GWK (Garuda Wisnu Kencana), dan lain sebagainya. Semestinya Kupang harus mencontoh kota-kota tersebut. Kupang banyak mempunyai landmark tetapi penggarapannya belum maksimal.

Merubah Mindset Masyarakat
Menengok kembali tahun 2013 yang lalu tepatnya saat diselenggarakannya Sail Komodo 2013, pada saat itu tema yang diangkat adalah Jembatan Emas Menuju Nusa Tenggara Timur Menjadi Destinasi Pariwisata Dunia, hal itu menandakan bahwa harapan pariwisata Nusa Tenggara Timur kedepannya tidak hanya sebagai pariwisata nasional tetapi masuk destinasi pariwisata internasional.

Baca Juga :   Jaga Keutuhan Bangsa, Praktisi Pers: Jangan Sebar Kebencian!

Pembangunan Pariwisata dan Budaya tidak hanya mengandalkan dari pemerintah saja, tetapi peran serta masyarakatnya tak kalah jauh pentingnya. Sadar Wisata sudah harus tertanam pada mindset masyarakat, karena sektor pariwisata membutuhkan kesiapan yang optimal.

Kebersihan, pelestarian alam dan kepedulian merupakan salah satu indikator mindset masyarakat yang sadar wisata. Lingkungan yang bersih dan sehat, sudah pasti membuat wisatawan nyaman dan betah untuk menetap, bahkan wisatawan akan berkunjung kembali. Perubahan pola pikir (mindset) dan kultur ini harus segera dilakukan untuk membawa kota Kupang sebagai destinasi internasional.

Perlu diadakannya studi banding antara stakeholder yang terkait ke Bali atau daerah lainnya yang kegiatan pariwisatanya sudah maju dan profesional. Mengembangkan pariwisata tidak gampang butuh kerja sama dan bergerak bersama baik pemerintah, pelaku industri pariwisata, akademisi, masyarakat maupun media.

Mediapun berperan sentral dalam mempromosikan obyek wisata. Di era digital saat ini peran media dalam penyampaian informasi sangat vital. Seiring kemudahan akses serta kecepatan dalam penyampaian informasi, hal tersebut memberikan banyak ruang bagi media untuk menginformasikan tentang citra positif dari obyek wisata tersebut.

Selain hal diatas, sudah saatnya pelibatan generasi millennial dalam bidang industri pariwisata, khususnya promosi. Seperti yang kita ketahui, generasi millennial merupakan generasi yang spesial dimana kelebihan mereka adalah sangat mahir dalam hal yang berkaitan dengan teknologi.

Sebenarnya lokasi ini sangat menarik. Bukan hanya dari sisi patungnya tapi juga dari ini kita dapat menyaksikan sunrise yang indah berwarna jingga melintas dengan foreground jembatan liliba yang terkenal dengan kisahnya. (*/artha)

  • Bagikan